Tangguhnya Sektor Pertanian dimasa Pandemi

Pangannews.id

Sabtu, 14 November 2020 09:55 WIB

news
Foto : Nursamsi | Mahasiswa Paskasarjana Agribisnis UNHAS

oleh: Nursamsi | Mahasiswa Paskasarjana Agribisnis UNHAS

Sektor pertanian merupakan penggerak utama perekonomian bagi masyarakat pedesaan. Indonesia sangat berpotensial dalam sektor pertanian karena memiliki sumberdaya yang sangat besar. Sektor pertanian menjadi salah satu komponen pembangunan nasional dalam menuju swasembada pangan guna mengentaskan kemiskinan. Pentingnya peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional selain mensejahterakan petani juga sebagai penyerap tenaga kerja, menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), sumber devisa, bahan baku industri, sumber bahan pangan dan gizi, serta pendorong bergeraknya sektor-sektor ekonomi lainnya sehingga pemerintah menjadikan sektor pertanian menjadi prioritas utama. Untuk mencapainya, tentunya pemerintah butuh target sasaran indikator keberhasilan dan upaya-upaya dalam mencapai hal tersebut.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mencetuskan motto “Pertanian yang Maju, Mandiri dan Modern” agar pertanian Indonesia dalam tantangan apapun tetap berproduksi dan turut menyediakan pangan untuk negara-negara lainnya sehingga pertumbuhan perekonomian nasional ditopang dari sektor pertanian. Oleh karena itu, untuk mengimplementasikan pertanian yang maju, mandiri dan modern, langkah awal yang dilakukan Menteri Pertanian ialah membangun koordinasi dan konsolidasi dengan semua kementerian/lembaga agar saling menunjang atau tidak adanya ego sektoral dalam membangun pertanian dan mensejahterakan petani itu sendiri. Kemudian, peran Kementerian Pertanian harus selalu hadir di sisi para petani dan mendorong daerah untuk meningkatkan produksi pangan. 

Menteri Pertanian juga membangun Agricultura War Room (AWR) untuk memudahkan dan mempercepat melakukan monitoring dan menyelesaikan persoalan pertanian di lapangan. Keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan penggunaan benih dan teknologi. Karena itu, Kementerian Pertanian didorong berkolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menggunakan seluruh kekuatannya menemukan hasil riset baru, varietas-varietas baru, dan cara-cara bertani baru untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.  Dengan teknologi dan inovasi terbaru, pertanian bisa lebih efektif dan efisien, bahkan didorong untuk menopang kebutuhan pangan, ekspor, dan industri pertanian yang terus bergerak maju. Alhasil, walaupun pada pemerintahan Jokowi-Ma’ruf 2019-2024 dihadapkan pada tantangan besar, yakni pandemi covid-19, kebijakan dan program pembangunan pertanian mampu menorehkan capaian gemilang. Bahkan, sektor pertanian menjadi sektor penyelamat perekonomian nasional karena pertumbuhannya terhadap PDB kuartal II 2020 sangat tinggi, di tengah PDB nasional dan sektor lainya justru turun. Namun demikian, tidak berpengaruh terhadap penyediaan pangan di Indonesia.

Pertama, kebijakan dan program yang dijalankan Menteri Pertanian berhasil menggenjot produksi 11 komoditas pangan strategis. Berdasarkan data Kementan-BPS tentang perkiraan ketersediaan pangan pokok nasional, ketersediaan 11 komoditas pangan nasional hingga akhir 2020 untuk beras diperkirakan tersedia 7,1 juta ton, jagung 2,6 juta ton, bawang merah 26.826 ton, bawang putih 192.808 ton, cabai besar 16.791 ton, cabai rawit 38.128 ton, daging sapi/kerbau 242.360, daging ayam 282.140, gula pasir 1,5 juta ton dan minyak goreng tersedia 7,3 juta ton. Untuk mempertahankan kecukupan stok beras sampai Desember 2020, Kementan telah melakukan akselerasi tanam padi musim tanam II sebesar 5,6 juta hektar dengan menggerakkan seluruh komponen sumber daya yang didukung oleh ketersediaan air yang cukup di sentra produksi dan wilayah lainnya. Kedua, BPS mencatat inflasi pada Mei 2020 berada pada posisi rendah yakni angka 0,07. Ketiga, di masa pandemi covid-19 pun sektor pertanian mampu meningkatkan daya beli petani. BPS mencatat Nilai Tukar Pertani (NTP) pada subsektor peternakan mengalami kenaikan sebesar 0,27% atau 96,66 pada Mei 2020.  Padahal sebelumnya, NTP subsektor peternakan tercatat hanya 96,40. Selanjutnya pada Juli 2020, NTP kembali mengalami kenaikan yang cukup tajam, bahkan angkanya mencapai 100,09 atau naik 0,49% jika dibanding dengan NTP sebelumnya. Keempat, BPS mencatat nilai ekspor produk pertanian pada April 2020 tumbuh sebesar 12,66% dan nilai ekpor pada Juni tumbuh tingi sebesar 18,9% dibanding Mei 2020. Capaian positif bahkan signifikan ini terjadi di tengah lesunya ekspor pada sektor lain. Kelima, BPS mencatat ekspor pertanian April 2020 sebesar US$0,28 miliar atau tumbuh 12,66% dibandingkan periode yang sama pada 2019 (YoY). Selanjutnya, sektor pertanian tetap mencatatkan kinerja cemerlang dengan menorehkan pertumbuhan paling tinggi dibanding sektor lainnya pada kuartal II 2020.

Pada kuartal II 2020, sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia dengan pencapaian 16,24% (q to q) dan secara year on year (y-o-y) sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19%.  Padahal, pandemi covid-19 belum juga usai dan sejumlah sektor lain pun masih cenderung terpuruk di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia turun sampai 4,19% (q to q) dan 5,32% (y-o-y). Capaian sektor pertanian tersebut ditopang subsektor tanaman pangan yang tumbuh paling tinggi yakni sebesar 9,23% (yoy). 

Kuartal ketiga selain tetap melakukan penguatan subsektor tanaman pangan, Kementan juga akan mendorong penguatan pada subsektor holtikultura. Subsektor yang berhubungan dengan sayur dan buah-buahan ini diyakini bisa menopang kinerja positif lantaran kebutuhannya di masyarakat masih tinggi. Kementan mendorong agar ekspor holtikultura juga meningkat. Selain itu, juga mendorong subsektor perkebunan yang akan menjadi penyokong (back up) seperti tanaman kopi, coklat, kelapa, kakao dan produk turunannya.  Demikian juga subsektor peternakan yang diharapkan pada kuartal keempat akan lebih baik kinerjanya. 

Kontribusi cemerlang sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional ini mendapat apresiasi dari mantan Menteri Pertanian, Bungaran Saragih. Pasalnya, berturut-turut di 2020, yakni pada kuartal I dan II, pertumbuhan PDB sektor pertanian positif, bahkan pada kuartal II menjadi satu-satunya sektor di antara lima lapangan usaha penopang PDB yang tumbuh positif. Pertumbuhan sektor pertanian yang mencapai 2,19% (y-o-y) menandakan adanya dampak positif di sisi hulu, hilir, bahkan jasa penunjang pertanian. Kalau agroindustri pertanian juga harus dikelola secara terintegrasi, mulai dari hulu, on farm, sampai hilir. Jika ini bisa dilakukan dengan baik maka pembangunan pertanian akan mampu menyumbang dan berdampak sangat besar terhadap pembangunan perekonomian nasional dan terutama penyediaan pangan.  Pertanian adalah sektor yang sangat-sangat penting, bukan hanya pada saat covid ini, tapi saat post (setelah) covid 19 juga. Sementara itu, pengamat ekonomi dan kebijakan pertanian, Prof Pantjar Simatupang menilai pertumbuhan PDB subsektor tanaman pangan 9,23% ini merupakan tertinggi selama tiga tahun terakhir, juga karena pergeseran musim dan sekaligus menunjukkan pangan Indonesia kuat disaat pandemi covid 19. Ia pun menekankan Kementan sangat memahami dampak pandemi covid-19 pada tatanan pembangunan pertanian, terutama terhadap petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian. Dimasa pandemi covid-19, Kementerian Pertanian terus berupaya untuk menjalankan program dan kebijakan berorientasi pada kesejahteraan petani khususnya di masa panen harga yang diterima petani selalu di pantau



Dilihat sebanyak 209 kali

Kolom Komentar

You must login to comment...