oleh

Beratnya Tantangan Swasembada Pangan

oleh: Dr. Sae, Pemerhati dan Peneliti Kebijakan Pangan dan Pertanian, Pangan Institute

pangannews.id. Jakarta – Peningkatan jumlah penduduk dunia tidak hanya menambah beban lapangan pekerjaan, namun kebutuhan akan ketersediaan pangan sebagai kebutuhan pokok manusia menjadi hal yang lebih penting karena makanan/makan tidak bisa ditunda dalam jangka waktu lama. Kerawanan pangan akibat dari gangguan penyediaan pangan akan berdampak pada stabilitas sosial dan politik. Untuk itu upaya penyediaan jumlah pangan yang besar dan berkualitas menjadi kewajiban negara.

Namun dalam kenyataannya sektor pertanian dihadapkan pada permasalahan utama, yaitu krusial yaitu (1) Lahan, (2) Infrastruktur, (3) Benih, (4) Regulasi/Kelembagaan, (5) Sumber Daya Manusia, (6) Permodalan. Enam permasalahan sosial ini menyertai dalam proses pencapaian swasembada pangan dalam menuju kedaulatan pangan.

Selain permasalahan tersebut yang masih melilit pemerintah dan petani, tantangan pembangunan pertanian juga menjadi penghalang tujuan swasembada pangan, yaitu berupa: (1) Perubahan iklim, (2) Kondisi perekonomian global, (3) Gejolak harga pangan global, (4) Bencana alam, (5) peningkatan jumlah penduduk, (6) Aspek distribusi dan (7) Laju urbanisasi. Tantangan tersebut seiring dengan permasalahan sektor pertanian, pada saat yang sama Indonesia dihadapkan pada persiapan dan persaingan pasar komoditas pada Masyarakat Ekonomi ASEAN (akhir 2015). Sektor pertanian tidak hanya dituntut mampu menyediakan jumlah pangan yang tinggi dan berkualitas, namun juga harus mampu bersaing dengan produk produk luar negeri yang akan membanjiri pasar domestik. Dibutuhkan daya saing yang tinggi sehingga mampu memberikan sumber devisa dan nilai tambah/peningkatan pendapatan petani.

Tantangan pembangunan pertanian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, Perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan mekanisme alam yang datangnya setiap saat dan hal ini dihadapi oleh semua negara termasuk Indonesia. Perubahan iklim tidak hanya mengakibatkan perubahan pola tanam, namun juga akan berdampak pada kegagalan panen yang akan berakibat pada kelangkaan dan krisis pangan. Jika perubahan iklim ekstrem terjadi secara masif, maka sangat dimungkinkan terjadi kerawanan sosial, ekonomi, dan politik.

Kedua, Kondisi perekonomian global. Perekonomian global memiliki peran penting terhadap dinamika dan pertumbuhan sektor terutama sektor pertanian. Pengaruh perekonomian global tersebut bisa dilihat dari fenomena terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar, kemudian akibatnya terjadi kenaikan harga (inflasi) terhadap produk dan biaya produksi menjadi lebih mahal/meningkat. Fenomena berikutnya adalah terjadinya krisis ekonomi global yang berdampak pada pelemahan/penurunan volume ekspor. Faktor-faktor tersebut secara langsung menjadi tantangan sektor pertanian, maka pemerintah harus melakukan langkah-langkah penting untuk menghadapinya.

Ketiga, Gejolak harga pangan global. Terjadinya perubahan iklim ekstrem berakibat pada kegagalan panen atau menurunnya produksi pangan sehingga stok pangan menjadi sangat terbatas. Akibat dari hal tersebut harga pangan mengalami fluktuasi sehingga harga pangan menjadi lebih mahal. Jika hal ini terjadi secara bersamaan, maka tidak hanya kerawanan pangan/kelangkaan pangan yang terjadi tapi akan terjadi kelaparan.

Keempat, Bencana alam. Banjir, longsor, serangan hama dan selainnya merupakan ancaman peningkatan produksi. Karena bencana alam terjadi pada setiap saat yang sangat dimungkinkan dalam sekali besar, maka kemampuan dan ketersediaan pangan akan sering terganggu. Akibat berikutnya adalah stok pangan akan melemah kemudian membuka peluang untuk impor.

Kelima, Peningkatan jumlah penduduk. Saat ini semua negara mengalami ancaman internal berupa pertambahan jumlah penduduk yang tinggi khususnya negara-negara ASEAN. India, China, dan Indonesia merupakan negara yang memiliki beban jumlah penduduk yang besar sekaligus memiliki beban dalam menyediakan jumlah pangan yang memadai. Jika laju penduduk semakin meningkat, sementara luas areal/lahan tidak meningkat, maka akan terjadi kekurangan pangan. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis dan masif dalam menghadapi tantangan tersebut.

Keenam, Aspek distribusi. Secara geografis Indonesia memiliki kondisi dan karakter geografis yang luas dan berpulau, selain sebagai potensi besar pada saat yang sama dihadapkan oleh pembiayaan yang besar untuk penyediaan sarana dan prasarana khususnya dalam hal mendukung pembangunan. Mengingat Indonesia sebagai negara besar dan kepulauan, maka diperlukan aksesibilitas dan sarana transportasi yang lebih efisien.

Ketujuh, Laju urbanisasi. Kota yang identik dengan pusat perekonomian dan berkembangnya industri dan jasa menjadi daya tarik tersendiri bagi tenaga kerja khususnya dari pedesaan. Selain dituntut skill tinggi untuk dapat hidup dan bekerja di kota, tenaga kerja harus memiliki kemampuan daya saing. Kota menjadi daya tarik kaum urban selain sebagai pusat/aktivitas ekonomi juga memiliki infrastruktur yang mendukung/memadai dan lengkap. Oleh sebab itu terjadi urbanisasi yang tinggi, sehingga generasi muda cenderung meninggalkan perdesaan/pertanian, akibatnya sektor pertanian menjadi kurang diminati generasi penerus.

Ketujuh tantangan tersebut menjadi kendala sekaligus peluang pembangunan sektor pertanian saat ini dan ke depan. Tantangan ini tentunya menjadi masalah besar dan menjadi tanggung jawab bersama tidak hanya pemerintah dan petani, namun juga stake holder khususnya peran kementerian dan pemerintah daerah. Jika tantangan ini tidak dipahami dan dihadapi dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan mengalami gangguan pangan atau penyimpangan swasembada pangan dalam jangka panjang.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed