Pertanian Tak Lekang Waktu, Petani Milenial asal Pacet Warisi Kesuksesan Orang Tua

Pangannews.id

Rabu, 06 Oktober 2021 06:01 WIB

news
Foto : Ketua P4S Agro Farm Cianjur, Santoso.

PanganNews.id Cianjur - Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu menegaskan jika pertanian tak pernah lekang oleh waktu. Apa yang disampaikan Mentan SYL itu benar adanya. Hal itu dirasakan betul oleh Ketua P4S Agro Farm Cianjur, Santoso. Kesuksesan yang ia rasakan setelah menekuni usaha pertanian lebih dari 20 tahun ia tanamkan kepada putranya, Satria Ramanda Santoso.

Mentan SYL berulang kali menyebutkan bahwa sektor pertanian Tanah Air adalah sektor yang sangat menjanjikan, karena Indonesia memiliki kondisi alam yang mendukung produktivitas pertanian.

"Pertanian itu given dari Tuhan yang mengaruniakan alam dan musim yang baik," ucap Syahrul.

Keyakinan Mentan tak tanggung-tanggung. Dia menyebut sektor pertanian sudah pasti menjanjikan. Sektor pertanian berurusan dengan 'perut' masyarakat, sehingga sangat dibutuhkan dalam keseharian masyarakat.

"Pertanian itu dibutuhkan hari ini, besok dan kapan saja dalam kondisi apa saja. Sebab, pertanian itu bukan hanya makanan saja, tapi juga lapangan kerja dan menyentuh relung-relung negara dan pemerintahan, serta menghadirkan dimensi yang kuat seperti rasa gotong-royong dan mengajak aspek sosial lain untuk berkembang baik. Untuk itu, sudah waktunya pertanian dikelola oleh generasi muda" papar Mentan Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi memberikan apresiasi tinggi kepada generasi milenial yang tak malu menyingsingkan lengan bajunya untuk terjun menggeluti sektor pertanian. Salah satunya seperti Satria. Menurut Dedi, sudah saatnya anak muda melanjutkan tongkat estsfet pertanian. "Semangat jadi kunci bagi para petani, termasuk petani milenial untuk terus produktif," ucap Dedi.

Apalagi, saat ini pertanian telah menjelma menjadi bisnis yang amat menjanjikan. Bertani pun tak perlu lagi harus berkotor-kotor ria. Dengan inovasi teknologi dan mekanisasi, pertanian bisa dikendalikan melalui smarphone. "Di era 4.0 ini pertanian kita semakin bergerak ke arah yang maju, mandiri dan modern. Pertanian kini telah memanfaatkan inovasi teknologi dan mekanisasi dalam mengupayakannya," ujarnya. 

Sebagaimana diketahui, Satria Ramanda Santoso kini telah menjelma menjadi petani milenial sukses. Ayahnya, Santoso berujar, pertanian adalah sektor yang tidak ada matinya. "Sektor pertanian sangat menjanjikan. Jangan malu menjadi anak petani, bahkan kamu harus membuktikan anak petani harus menjadi petani yang sukses juga," pesan Santoso.

Lahir dan besar di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Cianjur menjadi peluang tersendiri bagi Satria. Didukung oleh sumber daya alam yang baik menjadikan daerah tempat tinggal Satria penghasil komoditas hortikultura unggulan. Siapa yang tidak mengenal komoditas sayuran, tanaman hias hingga beras Cianjur yang telah menjelajah berbagai pasar, baik di dalam maupun luar negeri. 

Bermodalkan niat untuk mengembangkan bisnis keluarga dan mengikuti jejak sukses sang ayah, Satria yang merupakan lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor tahun 2021 ini memulai usaha saat masih duduk di semester 6. Uang saku yang ia dapatkan dari orang tua ia gunakan untuk memulai usaha budidaya zukini, kol, pakcoy, selada dan lainnya di lahan milik orang tuanya.

“Orang tua saya tidak memberi saya modal khusus, hanya uang saku yang saya tabung untuk modal usaha saya. Usaha pertanian sangat menjanjikan dan menguntungkan. Bisnis yang bisa dilakukan di mana saja dan tidak akan berhenti selama orang masih membutuhkan pangan," ungkap Satria.

Sebagai pemula, Satria telah mampu mendapatkan omset sekitar Rp3 juta. Kini, ia pun sudah mulai mengisi pasar online dan offline seperti supermarket MGH Jakarta, hotel maupun restoran terdekat hingga bermitra dengan Agro Segar, Sun Farm, Palm Maleber, Poktan Mandiri dan Sayur Pedia dan berencana bermitra dengan Sayur Box.

“Untuk meningkatkan nilai tambah, sayuran saya packing dan beri label “Satria Farm”. Seperti selada, bila tidak dikemas saya jual 1 kilogram dengan harga Rp7 ribu. Bila di-packing dalam ukuran 250 gram saya bisa menjual dengan harga Rp5 ribu," kisahnya.

Satria pun tak segan berbagi kisah dan pengalaman serta belajar dari petani lainnya dengan bergabung menjadi anggota Pemuda Tani Sukowati dan Palm Maleber, serta Kelompok Agro Segar. Ia pun tak berat tangan untuk membantu petani lain meningkatkan hasil produksinya dengan menerapkan pertanian yang baik dari hulu hingga hilir.


Kolom Komentar

You must login to comment...