oleh

Investigasi Hewan dan Lingkungan untuk Identifikasi Sumber COVID-19

Oleh: Drh. Pudjiatmoko, PhD | Peneliti Kebijakan Peternakan dan Kesehatan Hewan, Pangan Institute

Banyak pertanyaan penting yang masih belum terjawab tentang asal hewan dari virus COVID-19.  Meskipun sumber hewan memungkinkan, kelangkaan informasi meninggalkan kesenjangan pengetahuan yang signifikan, membuat pintu terbuka berspekulasi dan rumor.  Kurangnya bukti harus dicari dan dibuat asumsi.  Virus COVID-19 yang diisolasi dari manusia berbagi 96% homologi dengan betacoronavirus yang diisolasi dari beberapa spesies kelelawar dalam genus Rhinolophus.  SARS-CoV yang diisolasi dari manusia berbagi 92% homologi dengan virus mirip SARS pada kelelawar.  90% virus mirip SARS dari kelelawar telah diisolasi dari genus Rhinolophus.  Homologi urutan genetik yang relatif dekat antara virus COVID-19 dan beta coronavirus kelelawar menunjukkan bahwa nenek moyang virus COVID-19 terdapat pada kelelawar, Genus Rhinolophus. Kelelawar yang termasuk dalam genus Rhinolophus tersebar di seluruh Asia Timur Tengah, Afrika dan Eropa.

Ada bukti bahwa penularan SARS-CoV dari reservoir hewan ke manusia melibatkan hewan inang perantara (musang dilibatkan sebagai perantara perantara untuk SARS-CoV).  Karena kesamaan antara SARS-CoV dan virus COVID-19, termasuk keadaan di sekitar kemunculannya, dan mempertimbangkan tidak adanya teori yang masuk akal lainnya, asumsi alternatif sedang dibuat bahwa rute penularan virus COVID-19 ke manusia melibatkan inang hewan perantara yang belum diidentifikasi VS dari kelelawar menular langsung ke manusia. Epidemiologi MERS menunjukkan bagaimana peran inang perantara dapat lebih signifikan pada kedekatan hewan-manusia daripada hewan asli sumber asal virus.  Penting untuk menyelidiki keterlibatan inang perantara.

Data epidemiologis manusia menghubungkan proporsi kasus manusia generasi pertama dan kedua yang tinggi COVID-19 ke Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan.  Sebuah asumsi dibuat bahwa Virus COVID-19 diperkenalkan kepada manusia yang mengunjungi atau bekerja di pasar.  Dengan tidak adanya data epidemiologis yang terperinci, beberapa hipotesis adamya penularan virus COVID-19 hewan ke manusia di pasar.  Hipotesisnya : (1) penularan virus ke manusia dari sumber hewan di pasar dan (2) bahwa manusia tertular virus COVID-19 pasar (asal virus di luar pasar) dan virus itu menginfeksi hewan, kemudian menginfeksi manusia.

Tidak ada informasi awal yang lengkap dari hasil investigasi sumber hewan di pasar.  Hal ini dapat dimengerti mengingat pentingnya dan urgensi memfokuskan pada respons penyakit kesehatan masyarakat.  Namun, informasi dari investigasi ini sangat penting karena mungkin memegang kunci untuk mencegah masuknya virus lebih lanjut ke populasi manusia, dan itu juga dapat memberikan wawasan yang bermanfaat untuk mengurangi risiko limpahan (Spillover) di masa depan dari kejadian kasus penularan dari hewan ke manusia.

Dengan tidak adanya informasi terperinci, asumsi berikut dibuat.  Ini merupakan limpahan penularan dari hewan ke manusia terjadi di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan.  Fakta bahwa satwa liar itu dijual di pasar makanan laut menunjukkan kemungkinan rute introduksi oleh spesies liar yang dibawa ke pasar.  Kemungkinan banyak spesies hewan yang ada di pasar.  Contoh investigasi kemungkinan akan terjadi beberapa hari (setidaknya satu periode inkubasi) setelah hewan paparan manusia telah terjadi, pada saat mana hewan sumber mungkin tidak lagi berada di pasar.

Diketahui bahwa sampel diambil dari beberapa spesies hewan dan tidak ada satupun sampel diuji hasilnya positif, namun informasi tentang jumlah sampel dan spesies sampel adalah tidak tersedia.  Namun, beberapa sampel lingkungan (swab) dilakukan tes hasilnya positif dan virus diisolasi dari sampel lingkungan.  Tidak jelas bagaimana tepatnya hewan-hewan itu dituduh positif sampel lingkungan (selain mengetahui bahwa sampel diambil dari daerah yang berbatasan dengan tempat binatang telah dipelihara).  Fakta bahwa virus COVID-19 mudah diisolasi dari spesimen lingkungan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan menunjukkan bahwa ketahanan virus lingkungannya baik dan / atau viral load di lingkungan itu tinggi.  Virus COVID-19 dan SARS lainnya tampaknya stabil; maka memiliki implikasi kontaminasi dan ketahanan di lingkungan dan fomites.

Informasi yang tersedia juga menunjukkan bahwa relatif mudah untuk membiakkan dan mengisolasi virus COVID-19 dari spesimen dan bahwa virus tumbuh dengan baik di Vero sel. Oleh sebab itu, rekomendasi yang diberikan terkait hal ini adalah: Tim Penasihat menyarankan agar dilakukan kolaborasi penyelidikan terhadap sumber penyakit pada hewan, Peningkatan kerjasama multisektoral melibatkan pakar kesehatan hewan, kesehatan masyarakat, satwa liar, dan Peningkatan berbagi informasi hasil investigasi lapangan baik hasil positif maupun negative.

Prioritas Penelitian Secara Luas

Untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang penyebab utama infeksi virus COVID-19 dan dinamika penularan pada hewan diperlukan penelitian, surveilans, dan pengendalian.

Identifikasi reservoir hewan dan inang perantara melalui surveilans / investigasi strategi yang mempertimbangkan: (1) Bukti bahwa nenek moyang virus COVID-19 bersirkulasi pada kelelawar dari genus Rhinolophus; (2) Tidak adanya informasi tentang inang perantara, yang dapat berupa sejumlah spesies hewan.  (satwa liar, hewan peliharaan); (3) Informasi ilmiah (epidemiologis, virologis, genetik, dll.) dapat memandu investigasi; (4)Surveilans serologis yang luas lebih mungkin mendeteksi virus COVID-19 pada hewan daripada surveilan virologi saja; (5) Surveilans di lokasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan deteksi misalnya pasar / peternakan tempat satwa liar dan spesies hewan lainnya; (6) Lokasi pengambilan sampel dapat mencakup titik-titik lain yang diidentifikasi sepanjang pasokan rantai ke dan dari pasar; (7) Investigasi di sekitar pasar terhadap jenis hewan lain yang ditemukan di dekat pasar; (8) Pengujian sampel hewan yang diarsipkan (serum, tinja, dll.) dari surveilans terbaru.

Sampel lingkungan yang positif dapat diuji untuk bahan genetik spesies hewan (menggunakan metagenomics atau teknik pengkodean bagian DNA (pengkodean bagian DNA mungkin lebih efisien daripada mengurutkan seluruh genom)).  Pendekatan ini dapat memandu identifikasi sumber pencemaran lingkungan.  Kelompok Rhinolophus memiliki jangkauan luas, penelitian terpadu di Tiongkok telah menemukan >50 SARS-seperti CoV.  Menggunakan set data keanekaragaman hayati dan keanekaragaman hayati-filogenetik untuk memodelkan penargetan pengambilan sampel untuk meningkatkan kemungkinan mengidentifikasi berbagai reservoir di Asia, Timur-Tengah dan Eropa.

Jalur Penularan bisa ditelusuri dengan: (1) Investigasi jalur penularan yang berpotensi dari reservoir hewan ke inang perantara berakhir ke manusia; (2) Evaluasi peran inang perantara dalam memperkuat virus dapat menularkan ke manusia; (3) Investigasi rute dan durasi pelepasan virus dari inang yang berpotensi; (4) Investigasi persistensi virus dengan berbagai kondisi lingkungan; (5) Pengujian satwa liar yaitu hewan satwa liar yang dibudidayakan, dijual di pasar satwa liar serta hewan liar dari spesies selain kelelawar yang dapat menjadi inang perantara untuk diidentifikasi potensi CoV dan jalur transmisi yang memungkinkan untuk menular ke manusia; (6) Investigasi kemungkinan penularan dari manusia ke hewan peliharaan.

Kemungkinan peran hewan peliharaan dalam epidemiologi penyakit manusia

Menilai potensi peran hewan ternak dan hewan kesayangan dalam epidemiologi penyakit manusia di negara-negara.  Pertimbangkan investigasi / pengambilan sampel hewan peliharaan manusia yang dicurigai atau dikonfirmasi tertular penyakit.

Diagnostik

Untuk mengembangkan alat diagnostik (untuk digunakan dalam spesies hewan) yang memberikan konsistensi hasil optimal dalam pengujiannya.

Serologi: (1) Uji serologi yang sesuai tujuan untuk digunakan pada spesies yang berbeda akan menjadi alat surveilans yang baik untuk virus COVID-19 pada hewan (kegunaan dari serologi ditunjukkan dalam Investigasi virus SARS-CoV dan Hendra); (2) Adaptasi dan validasikan uji serologi saat ini untuk antibodi terhadap virus COVID-19 pada manusia disesuaikan ke sistem pengujian pada hewan; (3) Pertimbangkan untuk mengembangkan peralatan serologi laboratorium dan lapangan untuk investigasi hewan; (4) Evaluasi reaktivitas silang antara virus COVID-19 dan virus lain yang mirip SARS; (5) Aplikasi tehnik protein rekombinan yang dapat berperan dalam pengembangan teknik serologis.

RT-PCR ; (1) Platform RT-PCR untuk virus COVID19 telah dikembangkan dan disebarluaskan untuk pengujian pada manusia; (2) Platform RT-PCR untuk virus COVID-19 perlu disesuaikan dengan sistem pengujian pada hewan’ (3) Metoda pengujian RT-PCR perlu disesuaikan agar tepat sasaran misalnya untuk uji skrining awal sampel hewan pada survelilans, sensitivitas akan lebih diperlukan daripada spesifitas, oleh karena itu pada skrining RT-PCR, digunakan primer yang menjangkau seluruh subkelompok virus seperti SARS bisa digunakan (dengan SARS sebagai kontrol positif).  RT-PCR yang lebih spesifik untuk virus COVID-19 dapat digunakan untuk membedakan virus ketika sampel positif pada uji skrining awal.

Informasi dari studi laboratorium

Dengan tidak adanya data lapangan, studi laboratorium hewan dapat membantu menginformasikan pencegahan dan strategi pengendalian misalnya permodelan pada hewan.

Interaksi Inang-Patogen

Studi Patogen Inang: Kerentanan hewan – penentuan kisaran inang, spesifisitas / distribusi reseptor pada spesies yang berbeda dll; Infeksi cell line dan infeksi hewan percobaan untuk memahami penularan dan patogenisitas’ Epidemiologi CoV di reservoir hewan, yaitu dari kelelawar ke spesies lain (viral load, rute transmisi).

Risiko Perilaku: Identifikasi masyarakat dengan tingkat paparan tinggi terhadap kelelawar dan satwa liar lainnya; menganalisa perilaku mereka yang berisiko; uji sampel dari satwa liar dan orang dalam masyarakat  ini untuk bukti serologis virus COVID-19 dan spillover CoV lainnya; Memasukkan pertanyaan kunci standar tentang paparan satwa liar untuk digunakan selama wawancara dengan kasus yang diduga.

Kebijakan dan Dampak Sosial-Ekonomi

Untuk meningkatkan efektivitas deteksi, pencegahan dan tindakan pengendalian dilaksanakan melalui analisis integrasi sosial, ekonomi dan kelembagaan dari lingkungan yang terkena dampak

Dalam perdagangan satwa liar: Menentukan apa yang dimaksud dengan satwa liar dengan konteks yang berbeda; Mengkarakterisasi rantai nilai perdagangan satwa liar secara global dan regional dan bagaimana hubungannya; Penelitian kebijakan / sosial untuk mengatur perdagangan satwa liar, kolaborasi dengan ilmuwan sosial, penegakan hukum / perilaku / pola demografis; Studi dampak ekonomi penghilangan satwa liar dari pasar dan penutupan pasarnya.  Analisis dampak sosial dan analisis ekonomi dari berbagai tingkat pembatasan perdagangan satwa liar untuk makanan: 1) larangan penuh; 2) larangan sebagian (spesies tertentu); 3) mengatur dan menguji hewan; 4) mempromosikan hanya satwa liar yang diternakkan sebagai sumber makanan.

Penangkapan satwa liar: Analisis skenario apakah berternak satwa liar mengurangi risiko munculnya CoV ketika dibandingkan dengan satwa liar yang ditangkap; Survei terhadap masyarakat untuk menilai pengetahuan, sikap, dan praktik konsumsi satwa liar.  Penelitian hubungan satwa liar dengan penyakit zoonosis lainnya (mis. Avian Influenza, Nipah, SARS, dll.) untuk keperluan pemuliaan, pemeliharaan, penjualan dan konsumsi hewan.

Strategi Mitigasi Risiko

Ada kebutuhan untuk mengkaji secara mendalam pelajaran penularan virus COVID-19 ke populasi manusia dan pengalaman kejadian serupa di masa lalu,  kemudian dibuat pertimbangan kebijakan untuk menghadapi kejadian serupa di masa depan yang tidak bisa dihindari.  Untuk jangka panjang strategi mitigasi risiko bertujuan mengurangi risiko kejadian spillover.  Perlu mempertimbangkan adat kebiasaan tertentu yang berisiko tinggi; Mengadopsi pendekatan multidisiplin (dokter hewan, ahli ekonomi, ahli kesehatan, ahli mikrobiologi, ahli ilmu sosial, ahli komunikasi); Menyertakan pemangku kepentingan yang tepat; Komunikasi risiko untik memperjelas ketidakpastian peran hewan dalam wabah CPVID-19;  Pesan utama risiko tertinggi infeksi virus COVID-19 adalah penularan dari manusia ke manusia; Identifikasi inang hewan merupakan tindakan tambahan untuk mencegah spillover dapat dikurangi dan wabah serupa dapat dicegah di masa depan. Komunikasi risiko dalam strategi mitigasi risiko dapat dikembangkan modifikasi strategi mitigasi risiko penyakit lain (Ebola dan satwa liar, flu burung zoonosis dan pasar unggas hidup); Dipertimbangkan spektrum orang yang berisiko (ilmuwan lapangan, peternak, pedagang, konsumen). Kebijakan intervensi ditargetkan berdampak positif maksimal dan konsekuensi negatif terkendali.   Panduan tentang perdagangan dan konsumsi satwa liar disesuaikan dengan cakupan global dengan mempertimbangkan karakteristik dan kekhususan regional.  Strategi harus realistis dan fokus pada pengurangan risiko daripada penghapusan risiko.  Dan harus mengambil pelajaran dari inisiatif kebijakan lain yang sudah berhasil seperti perubahan perilaku kesadaran pentingnya memakai sabuk pengaman, diet sehat dan bahaya merokok

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed