oleh

Kurangi Impor Gandum, Kementan Angkat Pamor Mocaf

pangannews.id. Bandar Lampung- Setiap tahun Indonesia mengimpor gandum sangat tinggi, rata-rata di atas 10 juta ton. Devisa yang dikuras tak tanggung-tanggung hingga mencapai Rp 26 Triliun per tahun. Melalui diversifikasi pemanfaatan tepung Mocaf dari ubi kayu, ternyata mampu membantu mensubstitusi tepung gandum impor.

“Upaya menekan impor dan menaikkan eksport harus terus kita upayakan sebagaimana dimandatkan Bapak Menteri Pertanian dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. Salah satunya melalui diversifikasi pemanfaatan mocaf untuk substitusi impor gandum,” ujar Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian, Bustanul Arifin, saat membuka pelatihan “Bertani On Cloud” melalui media Video Conference (Selasa, 12/05/2020).

“Bertani On Cloud” merupakan konsep pelatihan virtual yang digagas Pusat Pelatihan Pertanian, Kementerian Pertanian yang digelar selama pandemi Covid-19 guna menyiasati pemberlakukan pembatasan sosial akibat wabah Covid-19. Pelatihan yang sudah memasuki Volume 10 ini melibatkan Balai Pelatihan Pertanian Lampung dengan mengangkat tema “Produksi Mocaf Skala Rumah Tangga”.

Mocaf (Modified Cassava Flour) merupakan sebutan familiar untuk tepung ubi kayu yang telah termodifikasi melalui fermentasi melibatkan starter mikroba tertentu yang bermanfaat untuk pangan. Dalam proses fermentasi tersebut mikroba memproduksi enzim dan asam-asam organik yang mengubah struktur pati yang pada ubi kayu bisa meghasilkan tepung dengan aroma dan tekstur yang sangat baik dan bisa digunakan untuk bahan baku aneka makanan yang selama ini menggunakan terigu, seperti mie, biskuit, brownis, roti tawar, dan lain sebagainya.

Widyaiswara Balai Pelatihan Pertaian Lampung bidang Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Pertanian, Ahmad Suryanto mengatakan pelatihan ini digagas sebagai upaya menawarkan kegiatan produktif skala rumah tangga khususnya di pedesaan guna menyediakan pangan dan bisa memberi tambahan pendapatan meskipun dalam situasi pembatasan sosial di masa pandemi covid-19.  “Apalagi saat ini harga singkong atau ubi kayu sedang anjlok. Dengan mengolah menjadi tepung Mocaf diharapkan akan bisa menjadi jalan bagi petani untuk menghindar dari kerugian yang lebih besar,” kata Ahmad.

Menurut Ahmad, mocaf  punya beberapa keunggulan diataranya bebas gluten yaitu sejenis protein dalam terigu yang bisa menjadi alergen. Yang kedua, cocok untuk diet diabetes karena indeks glikemik atau perubahan karbohidrat menjadi gula darahnya rendah. Ketiga, kandungan seratnya tinggi sehingga bisa mencegah kanker kolon. Kandungan mineralnya juga tinggi, bahkan di dalamnya ada kandungan vitamin C sebagai dampak proses fermentasi. “Jadi Mocaf adalah bahan pangan sehat”, tukasnya.

Kepala Balai Pelatihan Lampung, Dadan Sunarsa menyebut Indonesia memiliki potensi mocaf yang melimpah. Provinsi Lampung tercatat menjadi daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia. “Selama ini singkong masih dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, dengan e-learning ini kita berharap bisa meningkatkan harkat singkong menjadi pangan lokal yang tidak kalah dengan terigu,” ujarnya. “Mari kita budayakan produk olahan pangan lokal untuk mengantisipasi kerawanan pangan yang mungkin terjadi. Terlebih di masa pandemi ini kita membutuhkan pangan yang bergizi. Mocaf bisa direkomendasikan sebagai pangan sehat selama pandemi Covid-19,” imbuh Dadan.

Masyarakat terlihat antusias mengikuti pelatihan virtual tersebut terlihat. Pesertanya berasal dari berbagai daerah diantaranya Sumatera, Jawa, Sulawesi bahkan luar negeri. Turut bergabung praktrisi bisnis Mocaf, Riza Azyumarridha Azra, dari Banjarnegara Jawa Tengah yang memberi testimoni sukses berbisnis Mocaf hingga pasar eksport. Selain materi, peserta juga disuguhi praktik mengolah singkong menjadi Mocaf dengan proses dan peralatan yang sederhana.

Bajar, salah seorang peserta penyuluh pertanian asal Banjarnegara mengaku sangat mendukung upaya membangkitkan Mocaf sebagai bahan pangan pengganti terigu. “Kalau jaman dulu para leluhur kita berjuang melawan penjajah dengan senjata dan bambu runcing, kita sekarang berjuang dengan Mocaf untuk kedaulatan pangan kita”.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed