oleh

Menakar Tantangan Politeknik Pertanian Kedepan

pangannews.id. Bangka Belitung – Inisiasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendirikan Politeknik Negeri Pertanian Bangka Belitung patut diberikan apresiasi positif. Gubernur Dr.Erzaldi Rosman dalam FGD virtual (Jumat, 8 Mei 2020) bersama akademisi, praktisi dan jajaran birokrasi menyatakan komitmen kuat untuk percepatan kampus ini dan apabila terwujud menjadi satu-satunya Politeknik Pertanian yang didirikan oleh pemerintah provinsi di Indonesia.

Ikhwal rencana Politeknik ini adalah keinginan Gubernur untuk mewujudkan visi pemerintah provinsi khususnya dalam bidang pertanian. Dukungan sumberdaya manusia yang handal dan kompeten menjadi keniscayaan dan jalan keluar tata kelola pembangunan pertanian sehingga swasembada pangan khususnya dapat secara bertahap terwujud.

Mendirikan kampus ini tentu sudah dipertimbangkan secara matang. Persyaratan teknis, adminstrasi dan dukungan semua pihak menjadi penting untuk mewujudkan cita-cita besar ini. Pada tahap pertama, pemerintah provinsi sudah menyiapkan lahan yang berada di kawasan UPTD Balai Benih Pertanian, Plempang – Bangka selanjutnya pemenuhan persyaratan secara maraton dilakukan sampai dengan target penerimaan siswa baru dan proses pembelajarannya.

Sebagai bagian dari pelaku usaha serta praktisi pertanian, saya sangat menaruh harapan instrumen pendidikan ini menjadi solusi jangka panjang daerah dalam peningkatan daya saing daerah, menggali potensi sektor agraris serta pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan (Social walfare).

Beberapa tantangan dan harapan kedepan terkait dengan pendirian kampus ini adalah :

 

Swasembada pangan

Pendirian Politeknik ini berkorelasi positif dengan upaya capaian swasembada pangan. Dalam bebrapa catatan reflektif saya sebelumnya menguraikan bahwa kesejarahan produksi beras dan pangan setara beras (PSB) di Bangka Belitung belum berada pada puncak keemasan sebagai daerah yang secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan dari produksi lokal.

Kemampuan ketersediaan pangan dari produkai domestik tahun 2019 hanya 23,67%, selebihnya kita menggantungkan harapan pasokan pangan dari luar. Untuk mengejar ketertinggalan ini, selain infrastruktur irigasi dan sarana prasarana lainnya, SDM yang handal dan kompeten menjadi episentrum transformasi pengelolaan potensi pangan daerah.

SDM dapat mendorong peningkatan produktifitas, efisiensi usaha tani, modernisasi pengelolaan, alih teknologi, serta terobosan untuk diversifikasi komoditi baik yang berbahan baku karbohidrat, protein dan lemak. Selain itu mampu merejuvenasi kultur masyarakat yang sekarang sudah mulai terpinggirkan seiring dengan alih generasi.

 

Bonus Demografi

Fenomena yang mencuat dalam satu dekade kedepan adalah puncak usia produktif (usia layak kerja), suatu kondisi jumlah penduduk produktif melebih jumlah yang tidak dalam usia produktif. Sering diistilahkan sebagia bonus demografi.

Secara nasional dalam kondisi 140 juta usia produktif pada tahun 2017/2018, didalamnya pengangguran sekitar 7 juta orang. Konteks Bangka Belitung pada tahun 2019, jumlah angkatan kerja mencapai 637 ribu-an orang dan 7,21% disumbangkan oleh kelompok pendidikan diploma/universitas. Jumlah pengangguran pada tahun yang sama sebanyak 27 ribu orang.

Kondisi ini tentu membutuhkan evaluasi yang cermat terkait kesiapan SDM tamatan pendidikan tinggi serta langkah antisipasi yang nantinya dapat melahirkan terobosan daya saing angkatan produktif di tingkat daerah. Kedepan kecenderungan yang muncul adalah pilihan pendidikan yang berorientasi kompetensi dengan outcome sebagai pencipta lapangan kerja (job creator) atau minimal sebagai pekerja profesional.

Politeknik pertanian menjadi salah satu jawaban menuju tangga bonus demografi karena fokus pembelajarannya menitikberatkan pada kompetensi (ketrampilan) teknis lingkup pertanian. Kompetensi ini menempatkan mereka tidak sekedar pekerja tapi pencipta lapangan kerja yang nantinya dapat mendorong peningkatan penghidupan (livelihood). Lebih jauh dapat menekan tingkat pengangguran terbuka (TPT) dan problematika pembangunan daerah.

Sebagai miniatur “politeknik” tempat kami Agropreneur Indonesia misalnya sudah menjalani pola yang dikembangan politeknik Walaupun dalam skala kecil program sekolah lapang Agropreneur intensif 3 (tiga) bulan sudah menamatkan 4 (empat) orang kader tani berbasis komoditi yakni semangka. Sekarang setelah tamat mereka sudah bergerak di lapangan dan berkolaborasi dengan pengusaha lokal membuka usaha budidaya holtikultura. Kerangka input-ouput-outcome-exit strategy menjadi panduan sekolah lapang menyiapkan kader tani pencipta lapangan kerja.

Dapat dibayangkan nantinya jika Politeknik yang dirintis dalam skema sederajat sarjana (D-IV) dengan dukungan sarana prasarana memadai akan mampu mencetak kader tani berbasis komoditi yang siap pakai. Tentu tidak sulit kita temukan lapangan kerja baru sektoral yang lahir dari rahim politeknik nantinya.

 

Minat generasi milenial

Meyakinkan publik khususnya calon mahasiswa yang notabene generasi milenial untuk memilih kampus ini sebagai tempat menimba ilmu memerlukan langkah-langkah sistematis dan terstruktur. Kecenderungan generasi milenial dapat dipelajari dari data historis pergerakan minat calon mahasiswa.

Data jutaan calon mahasiswa yang diolah Kemenristek Dikti (2009-2016) waktu itu menyimpulkan jurusan yang terkait dengan ilmu terapan dominan dipilih generasi milenial (87%), sementara ilmu murni sekitar 12%. Ilmu terapan ini antara lain teknik, bisnis, komputer, teknologi dan lainnya (Siantoro, 2018).

Selain itu mindset generasi milenial untuk memilih jalur non formal untuk memiliki kompetensi yang cepat juga menjadi tantangan pendidikan tinggi reguler. Generasi milenial memilih profesi wirausaha tanpa ijazah seperti menjadi entrepreneur muda bidang teknologi informasi digital seperti e-commerce, start up dan sejenisnya.

Minat calon mahasiswa ini juga berhadapan dengan kompetisi antar perguruan tinggi yang menawarkan ragam pilihan. Untuk itu perlu terobosan untuk mendorong anak muda untuk memilih kampus ini yang tidak sekedar sebagai tempat menimba ilmu melainkan sebagai solusi hidup masa depan.

Pada akhirnya penting untuk menempatkan lembaga pendidikan ini yang memberikan ruang kemerdekaan berpikir dan berkreasi dalam pengembangan bakat dan minat ke arah yang produktif. Memposisikannya sebagai mesin pencetak kader tani pencipta lapangan kerja.

 

 Edi Setiawan, SP., M.Si

Founder Agropreneur Indonesia/Formatur Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Bangka Belitung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed