oleh

Menilik Potensi Peningkatan Produksi Susu Rakyat Dengan Uji Zuriat Sapi Perah Nasional

pangannews.id. Jakarta- Susu sapi telah menjadi salah satu minuman yang sering dikonsumsi masyarakat dunia. Berbagai macam jenis olahan asal susu seperti keju dan mentega pun sering menjadi bahan utama beragam makanan. Susu menjadi asupan yang memiliki gizi lengkap, dan banyak dicari masyarakat saat pandemi covid-19 ini. Masyarakat telah banyak yang memahami bahwa konsumsi susu menjadi penting untuk peningkatan imunitas tubuh yang merupakan salah satu cara untuk meminimalisir potensi terinfeksi agen penyakit dengan meningkatnya imunitas tubuh.

Besarnya peningkatan kebutuhan tersebut, sulit diikuti oleh industri persusuan di Indonesia. Permasalahan yang ada yaitu rendahnya populasi ternak sapi perah dan juga produksi susunya. Merujuk pada data statistik peternakan dan kesehatan hewan  2019, populasi sapi perah nasional pada 2019 sebanyak 561.061 ekor dengan kebutuhan jumlah kebutuhan susu nasional tahun 2019 mencapai 4.33.880  ton. Sementara produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) sebanyak 996.442 ton atau hanya mampu memenuhi 22 persen dari kebutuhan nasional.

Upaya mengatasi ketimpangan antara kebutuhan dan produksi tersebut, maka langkah – langkah yang diambil pemerintah yaitu meningkatkan populasi sapi perah dan peningkatan mutu genetik sapi perah di masyarakat. Untuk peningkatan populasi, langkah yang diambil diantaranya dengan program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) serta pemasukan bibit sapi perah untuk replacement induk. Sementara untuk peningkatan mutu genetik langkah yang diambil adalah melalui program uji zuriat sapi perah nasional.

Uji zuriat merupakan upaya menghasilkan bibit pejantan unggul yang telah beradaptasi dengan kondisi agroklimat di Indonesia melalui pengujian produksi susu anak betinanya. Besarnya potensi peningkatan mutu genetik sapi perah di masyarakat ini menjadi salah satu tujuan kegiatan uji zuriat sapi perah nasional. Dengan meningkatnya produksi susu di masyarakat tentunya akan mendorong peningkatan produksi secara nasional walaupun pertumbuhan populasi sapi perah bergerak lambat.

Uji Zuriat Sapi Perah Nasional yang dimulai tahun 2004 sampai dengan tahun 2019 telah berhasiil melepas tiga belas (13) ekor pejantan Unggul yaitu Bullionary, Farrel, Filmore, Formery, Flaunt, Florean, Fokker, Hostromsy, Goldsy, Perfentvil, Fortuner, SG. Gabe, SG. Bolton dan Aris. Keempat belas pejantan unggul hasil uji zuriat memiliki rataan produksi susu/hari dengan 2 kali pemerahan sebanyak 16,72 kg/hari dengan nilai persentase dari contemporary comparison/Relative Breeding Value-nya sebesar 112,75 %. Nilai rataan produksi susu ini sangat berarti bagi peternak, artinya dengan manajemen pemeliharaan sederhana peternak memperoleh produksi susu yang lebih tinggi dibandingkan sapi betina yang bukan dari keturunan hasil uji zuriat. Inilah potensi keunggulan pelaksanaan program uji zuriat di Indonesia dibandingkan negara lain karena pelaksanaan pengujian calon pejantan unggul di peternakan rakyat.

Pendekatan melalui peningkatan mutu genetik ini lebih terasa manfaatnya di masyarakat yang memiliki kepemilikan sapi perah yang sedikit karena terbatasnya biaya untuk menambah ternak. Dengan program ini masyarakat yang kepemilikan sapi perahnya sedikit akan dapat menghasilkan produksi susu yang lebih banyak dengan memelihara sapi dari keturunan pejantan Uji Zuriat. Melalui momentum Hari Susu Nusantara yang jatuh pada 1 Juni, semoga peternak sapi perah rakyat dapat memperoleh manfaat dari segala kebijakan dan program pemerintah.

 

Kontributor : Harry Chakra Mahendra, Pengawas Bibit Ternak Muda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed