oleh

Modernisasi Pertanian, Antiklimaks?

Oleh: Edi Setiawan | Founder Agropreneur Indonesia; Formatur Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Bangka Belitung

pangannews.id. Jakarta – Modernisasi tidak sekedar perubahan metode, penggunaan alat dan bahan, perubahan pola pikir (mind set), melainkan juga  merambah ke sendi dasar kehidupan (ideologi, budaya dan sosial). Demikian pula dengan pertanian. Modernisasi kelembagaan, teknologi, mekanisasi,  perilaku petani dan perubahan yang menyertai lainnya sampai dengan bergesernya nilai-nilai peradaban yang tidak terhindarkan.

Hiruk pikuk modernisasi hulu ke hilir sejak revolusi hijau di dunia tahun 1950  (1969 di Indonesia), pada kenyataannya bukan menjadi jawaban substansial. Malah menimbulkan masalah baru yang tak kunjung selesai. Inovasi dan penemuan baru atas nama ilmu dan teknologi seolah-olah kehilangan vitalitasnya. Semakin ditemukan formulanya, semakin bermutasi masalah baru yang tak kunjung selesai. Modernisasi teknologi budidaya melalui aplikasi pupuk kimia dan pestisida dengan massif saat ini menjadikan ekosisitem tidak ramah lagi. Rantai makanan sudah banyak terputus (abnormal), mutasi hama yang resisten dan resurgensi sudah tidak terhindarkan lagi. Tanah menjadi kurang produktif, ragam hama dan penyakit bermunculan yang tidak sekedar menyerang tanaman malah mengancam nyawa petani.

Modernisasi kelembagaan pertanian yang ditumbuhkan baik secara partisipatif maupun “top down” nyatanya  hanya sekedar visualisasi fisik baik bangunan maupun struktural organisasi.   Nilai modernisasi kelembagaan yang diusung lambat laun mereduksi kohesivitas petani dan menciptakan ketergantungan baru yang menguras semangat kemandirian petani.  Prayoga dkk (2019) yang melakukan riset terkait perubahan socio-cultural masyarakat tani akibat miskonsepsi modernisasi menyimpulkan banyak wanita tani yang kehilangan pekerjaan dan termaginalisasi, tidak ada lagi pembagian kerja berdasarkan gender, laju urbanisasi yang pesat, mandeknya regenerasi, ketergantungan terhadap industri, musnahnya plasma nutfah, hilangnya budaya gotong royong dan lahirnya sistem kasta dalam masyarakat tani. Selain itu melemahnya fungsi kelembagaan lokal dan petani hanya dijadikan obyek penyuluhan.

Modernisasi melahirkan takaran parsial. Bertani diukur hanya dengan produktivitas, efisiensi dan capaian materiil lainnya. Bahwa pertumbuhan penduduk linear dengan peningkatan  kebutuhan pangan menjadi momok menakutkan tiap generasi. Agresivitas cetak lahan sawah baru tak terkendali, intensifikasi dengan input teknologi dijadikan sandaran mengejar keseimbangan ini. Lahan gambut disulap, lahan tidur dihidupkan, lahan kritis disuburkan, dengan aneka cara. Mengejar kelipatan produksi seakan-akan menjadi fatsum bertani sekarang.

Postmodernisme Pertanian

Disorientasi modernisme menjadi sasaran kritikan penganut paham postmodernisme. Mereka menganggap modernisme telah gagal membawa kehidupan manusia lebih baik baik.  Bahkan secara skpetis dinilai modernisme pembawa kehancuran. Modernisme yang berkembang ditandai dengan rasionalisme, materialisme dan kapitalisme yang didukung oleh sains dan teknologi yang menimbulkan disorientasi moral keagamaan (religius) terutama runtuhnya martabat manusia. Salah satu perlawanan ide yang diusung yakni gagasan yang menghendaki penghargaan terhadap alam, bukan mengeksploitasi alam. Selain itu adanya unsur keterbukaan kebhinekaan dalam masyarakat, dominan agama serta perlawanan monopoli.

Kendatipun polemik yang tidak berkesudahan antara penganut paham ini,  pastinya postmodernisme memberi harapan baru pemikiran terkait peradaban umat manusia, khususnya peradaban pertanian. Penekanannya pada keramahan terhadap alam dan penghargaan nilai religiusitas menjadi jawaban atas disorientasi modernisasi pertanian. Pendekatan pertanian berbasis organik yang gencar dikembangkan pada kenyataannya belum mampu menjawab tantangan dan persoalan pertanian kontemporer. Transformasi metode bertani tidak diimbangi dengan transformasi nilai dan budaya yang terstruktur dan massif. Organik hanya terbatas pada penggunaan bahan dan konsentrat (terkadang juga tidak murni organik) tidak mampu melawan radikalisasi modernisasi yang sistemik.

Jika subtansi postmodernisme menganggap alam, budaya dan nilai religiusitas sebagai episentrum peradaban, tentu bukan hal baru. Warisan  tradisional yang memuliakan nilai-nilai ini sudah sejak lama dikenal dan bahkan pernah berada pada fase keemasan. Postmodernisme pertanian linear dengan rejuvenasi corak bertani tradisional dalam dimensi dan waktu yang berbeda.

Aplikasi nilai kearifan lokal pernah dicontohkan zaman para wali, masa yang jauh sebelum revolusi hijau. Sunan Kalijaga memberikan pondasi keseimbangan alam dan manusia dalam bercocok tanam di tanah Jawa. “…Jika ingin bagus menanam padi, Berpuasalah sehari semalam, Kelilingilah pematangnya, Bacalah nyanyian itu, Maka semua hama akan menjauh….”. Tembang kidung yang syarat nilai spiritual (sufistik) ini menjadi pedoman masyarakat dalam usaha tani.

Kendatipun tidak memudar sepenuhnya, nilai ini mulai ditinggalkan seiring alih generasi dan modernisasi. Perlakuan terhadap hama tidak dengan membunuhnya melainkan mengusirnya. Dengan tanamanpun demikian, dibangun komunikasi batiniah (sesama makhluk ciptaan-Nya) sehingga setiap pertumbuhannya sangat berkaitan dengan sentuhan kebaikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Begitupula dengan alam sekitar, siklus rantai makanan diberikan tempat istimewa dengan menjaganya secara natural. Sifat eksploitatif, pemerkosaan terhadap alam, rakus dan tamak sangat dijauhi.

Di daerah lainpun mengalami hal yang sama. Di Bali, awig-awig sebagai adaptasi nilai luhur menjadi panduan, sebagai cerminan Tri Hita Karana. Menyatu dengan alam dengan menjaga keseimbangannya sebagai bentuk harmonisasi kehidupan. Di Bangka Belitung, leluhur juga menerapkan nilai religiusitas dalam berusaha tani. Menentukan hari yang baik untuk menebar benih, menjaga tanaman dengan mengelilingi batasnya, tanda-tanda alam tak luput dari pembacaannya.

Mereposisi pada keseimbangan awal sebagaimana leluhur dulu mengajarkannya tentu tidak mudah, tapi ikhtiar haruslah dimulai dari sekarang. Apalagi momentum wabah sekarang, “new normal” sebagai paradigma baru. Pertanian harus kembali kepada keseimbangan baru. Bertani yang menekankan pada nilai bukan materiil.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed