oleh

Strategi Ketahanan Pangan Keluarga Menghadapi New Normal

Oleh : Agung Kurniawan | Penyuluh Pertanian | Peneliti Kebijakan Pertanian Pangan Institute

Pandemi virus Covid-19 sudah melanda hampir seluruh wilayah Nusantara dimana 34 provinsi sudah terjangkiti oleh virus ini. Korban meninggal sudah cukup banyak sehingga pemerintah membatasi ruang gerak warga negaranya dengan kebijakan untuk menekan penularan, seperti physical distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penutupan bandara dan pelabuhan dan Grafik perkembangan penularan masih menunjukkan kurva yang terus naik, menunjukkan bahwa virus ini mudah menular. WHO dalam beberapa artikel juga menyampaikan bahwa pandemi ini belum bisa berakhir dalam waktu dekat sebelum ditemukan vaksin yang tepat untuk menghentikan penularan.

Dari pernyataan WHO tersebut, pemerintah mengeluarkan adanya wacana new normal, yang berarti semua aktivitas yang sebelumnya ditutup akan beraktivitas kembali dengan syarat menerapkan protokol physical distancing.

Selain menimbulkan masalah kesehatan, Covid-19 juga menimbulkan dampak perlambatan ekonomi yang cukup luas sehingga menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional dan internasional. Meskipun beberapa negara masih tumbuh positif namun menurun bila dibanding dengan kuartal sebelumnya. Amerika Serikat turun dari 2,3 menjadi 0,3, Korea Selatan dari 2,3 menjadi 1,3 dan Vietnam dari 6,8 menjadi 3,8. Indonesia mengalami kontraksi yang cukup dalam dari 4,97 di kuartal 4 tahun 2019 menjadi tumbuh hanya 2,97 pada kuartal pertama 2020 ini. Kontraksi yang cukup dalam pada kuartal 1 di Indonesia ini di luar perkiraan mengingat pengaturan physical distancing dan PSBB mulai diberlakukan pada awal bulan April 2020 (Sakti, N. W., 2020).

Dalam hal mencegah tersebarnya pandemi ini lebih luas, maka perlu upaya agar setiap anggota masyarakat dalam lingkup keluarga meningkatkan daya imunitas setiap anggotanya. Bukan hanya kemampuan mengkonsumsi makanan bergizi, namun tingkat daya beli masyarakat yang menurun juga menjadi kendala dalam menjaga imunitas setiap anggota masyarakat. Untuk itu, perlu adanya daya dan upaya untuk menjaga ketahanan pangan dan gizi keluarga untuk menjaga imunitas di masa pandemi ini.

Ketahanan pangan keluarga dapat diusahan dengan berbagai cara, antara lain dengan memanfaatkan luas pekarangan sekecil apapun untuk menanam sayuran dan sumber protein, mengkonsumsi bahan pangan yang bersifat obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan memanfaatkan sumber daya pangan pokok lokal sebagai sumber karbohidrat sebagai upaya mengurangi impor dan mencegah kelangkaan pangan.

Pemanfaatan pekarangan untuk menanam sayuran dan sumber protein, dapat dilakukan dengan cara menanam komoditas sayur dan buah dalam polybag yang memiliki kelebihan tidak perlu pengolahan tanah seperti mencangkul dan membajak sehingga lahan yang sempit di pekarangan dapat menyediakan bahan pangan yang mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh untuk meningkatkan gizi dan dan daya tahan tubuh. Sumber protein bisa didapatkan dengan beternak lele atau ikan lainnya dalam ember/timba/kolam terpal di sekitar pekarangan. Sedangkan sumber karbohidrat dapat ditanam dalam karung bekas pupuk atau pot dengan komoditas seperti ubi jalar. Selain cara di atas juga, cara bercocok tanam sayur dengan menggunakan system hidroponik banyak disarankan dalam memanfaatkan lahan pekarangan yang sempit. Dengan hidroponik, kualitas dan kuantitas hasil panen dapat terjaga dari gangguan hama dan penyakit tanaman. Dengan bercocok tanam memanfaatkan lahan pekarangan, maka ketersediaan pangan akan selalu terjaga, bukan hanya pada saat pandemi penyakit secara umum, namun juga pada saat terjadi masa paceklik, dikarenakan anggota masyarakat masih mampu memenuhi kebutuhan pangan dan gizinya secara mandiri.
Disamping untuk konsumsi sendiri, hasil panen dari lahan pekarangan bisa dijual dalam bentuk segar atau diolah menjadi pangan olahan yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA)

Mengkonsumsi bahan pangan yang bersifat obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh juga disarankan untuk menghadapi pandemi Covid-19. Bahan pangan dapat ditemukan pada golongan tumbuhan rimpang dan rempah-rempah yang banyak di temui di seluruh wilayah nusantara. Sejarah keberadaan tanaman rimpang dan rempah-rempah sudah banyak disebutkan, bahkan sebelum Negara ini berdiri. Tanaman rempah-rempah di masa zaman kerajaan sebelum kemerdekaan, sudah menjadi barang dagangan yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa eropa. Rempah-rempah juga yang menjadi salah satu alasan bangsa Eropa banyak Negara-negara tropis, termasuk Indonesia.

Rempah-rempah (merica, pala, ketumbar, dll) selain sebagai bumbu masakan, juga dapat berfungsi untuk menjaga metabolisme tubuh sehingga dapat mencegah infeksi virus Covid-19. Sedangkan jamu yang berbahan baku tanaman rimpang sudah dikonsumsi oleh para bangsawan kerajaan yang tersebar di wilayah nusantara. Jamu sudah menjadi salah warisan secara turun-temurun dan sudah diakui khasiatnya. Bahan pembuat jamu seperti jahe, temulawak, kunyit, serai, dll dipercaya mampu menekan perkembangan virus apabila menginfeksi tubuh manusia. Tanaman rimpang dapat juga ditanam di lahan pekarangan dengan media tanam yang dimasukkan dalam polybag. Akhir-akhir ini Kementerian pertanian telah meluncurkan produk antivirus yang berbahan tanaman Eucalyptus sp. Tanaman yang mengandung minyak atsiri berbahan aktif Cineol-1,8 tersebut dimanfaatkan melaui nano teknologi dalam bentuk inhaler, roll on, salep, balsem, dan defuser. Produk-produk turunan dari tanaman Eucalypus sp yang sebelumnya telah dilakukan uji efektivitas bahan aktif yang terkandung didalamnya terhadap virus influenza, virus Beta dan gamma corona yang menunjukkan kemampuan membunuh virus sebesar 80-100 persen (Kementan RI, 2020).

Untuk menjaga ketersediaan makan pokok sebagai sumber karbohidrat, perlu adanya usaha untuk memanfaatkan bahan pangan lokal yang memiliki kandungan yang karbohidrat. Produksi hingga konsumsi pangan lokal merupakan suatu strategi menjaga ketahanan pangan di tengah pandemi. Oleh karena itu, perlu mendorong masyarakat untuk mengonsumsi pangan lokal dan tidak tergantung pangan impor. Sumber-sumber karbohidrat seperti ubi jalar, ubi kayu, keladi, jagung, dll banyak kita jumpai di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, sehingga mudah untuk memanfaatkannya. Bukan hanya dikonsumsi dengan pengolahan sederhana seperti dibakar, direbus dan digoreng langsung dari bahan segar, namun sudah diolah dalam bentuk bahan olahan yang lebih menarik dan memiliki ekonomi lebih tinggi seberti dibuat kue, keripik, mie, dan bahan makanan lainnya yang siap konsumsi maupun bahan setengah jadi.

Salah satu contohnya adalah pemanfaatan tepung moccaf yang berbahan dasar dari ubi kayu dapat dimanfaatkan sebagai pengganti tepung terigu, meskipun perlu dilakukan penyempurnaan produk dalam hal rasa dan tekstur bahan.

Pada saat pandemi inilah, seharusnya kita bersama-sama antara masyarakat dan pemerintah untuk membangun kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan, dan mengurangi ketergantungan bahan pangan impor dengan memanfaatkan kearifan dan budaya lokal sehingga dapat mencegah terjadinya daerah rentan terhadap rawan pangan sehingga terwujudnya kondisi Negara yang berdaulat atas pangannya sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed