Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Metaverse, Bisakah Mendukung Pelatihan Pertanian

Bagikan
Foto : Isralasmadi, Widyaiswara atau Trainer Kementan.
Foto : Isralasmadi, Widyaiswara atau Trainer Kementan.

PanganNews.id Jakarta - Dunia dibuat heboh, flatforms digital ini menjadi pembicaraan. Jagad IT sekarang tidak lepas dari diskusi tentang terobosan baru yang diluncurkan oleh bos facebook Mark Zuckerberg ini. Dikabarkan bakal merekrut 10.000 lebih pekerja Eropa untuk menyukseskan pembangunan metaverse. Program META yang diluncurkan seakan membuat lompatan besar kemajuan teknologi informasi. Seperti menemukan tanah dunia baru, teknologi ini menggabung antara dunia nyata dengan virtual secara real time. Berharap untuk penciptaan lingkungan realitas virtual yang imersif. Seakan mempunyai negara sendiri, banyak ahli memprediksi bahwa terobasan ini akan cepat tumbuh karena facebook sendiri telah mempunyai warga sebanyak tiga milyar orang. Tak mau ketinggalan perusahaan APEL dan sekitar 10 perusahaan yang lain juga telah merintis sektor METAVERSE ini. Orang-orang bisa berinteraksi secara digital menggunakan avatar dengan menggunakan augmented reality maupun virtual reality yang mirip seperti kenyataan. Jadi orang-orang menjalani kehidupan virtualnya sama dengan seperti menjalani kehidupan fisiknya. 

Kekhawatiran dengan Metaverse

Dr David Reid, Profesor AI dan Spatial Computing di Liverpool Hope University salah satu yang agak khawatir dengan ide ini. Meskipun dia percaya bahwa Metaverse berpotensi membawa beberapa hal menarik bagi umat manusia, itu juga berisiko memperdalam masalah yang ada seperti masalah privasi data dan cyberbullying secara drastis. Ia juga berpendapat bahwa perkembangan teknologi ini akan mengaburkan batas antara virtual dan realitas. Siapa pun yang menjadi penguasa realitas ini akan memiliki akses ke jumlah data yang belum pernah terjadi sebelumnya. Itu artinya: kekuatan yang tak terhitung jumlahnya. Microsoft juga sedang mengembangkan teknologi serupa. Perusahaan itu menawarkan metaverse untuk menyokong dunia kerja. Metaverse pun bisa dipakai untuk berbagai keperluan dalam hidup.

Metaverse dan pelatihan pertanian

Pada bidang edukasi, metaverse mengeksplorasi praktik pendidikan baru seperti hybrid dan mobile. Guru difasilitasi membuat pembelajaran kolaboratif sehingga kelas lebih fleksibel. Jeffrey mendemonstrasikan teknologi Augmented Reality secara langsung, yang digunakan dalam ranah pendidikan untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik. Ia juga memperlihatkan teknologi Augmented Reality yang dirancang khusus untuk kepentingan pemasaran. Jeong Ji-hoon, mitra dan salah satu pendiri Digital Healthcare Partners (DHP), mengatakan "interaksi" adalah keuntungan dari metaverse dan harus digunakan secara lebih luas. “Keuntungan terbesar dari metaverse adalah dapat menghasilkan interaksi antar peserta, tidak seperti pendidikan satu arah yang ada,” kata Jeong. “Dalam pendidikan kedokteran, ini akan digunakan untuk pelatihan simulasi daripada untuk penyampaian pengetahuan sederhana.” Pelatihan medis yang menggunakan metaverse akan lebih efektif di area yang membutuhkan keterampilan tangan dan interaksi tingkat lanjut, yang akan meningkatkan kebutuhan akan teknologi.

Salah satu perusahaan Indonesia “Shinta VR” sudah membantu ribuan sekolah di 34 provinsi di Indonesia menggunakan teknologi 3D dan Virtual Reality dalam pembelajaran melalui unit bisnisnya, yaitu Millealab. Tahun ini, SHINTA VR juga berinovasi dalam dua unit bisnis baru, yaitu SpaceCollab yang bergerak di bidang industri pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan tersinkronisasi berbasis multi-perangkat (VR , Komputer, dan Smartphone ) yang sudah dipakai di beberapa universitas dan perusahaan. 

Dunia pelatihan khususnya pelatihan dibidang pertanian, yang kebanyakan adalah pelatihan teknis yang memang membutuhkan alat peraga. Simulasi seperti ini bisa disediakan pada flatforms metaverse. Simulasi pertanian seperti, mengolah tanah dengan mesin pertanian, menanam, memelihara tanaman dalam screen house, dapat dibuat secara virtual dan membantu peserta pelatihan tanpa terbatas jarak. Kegiatan ini dapat mengurangi biaya pelatihan yang besar. Bagi fasilitator atau trainer, keuntungan lainnya menggunakan metaverse ini adalah dalam waktu yang bersamaan mereka dapat berada pada banyak tempat. Ini membuat pelatihan lebih efektif. Namun tantangan berikutnya adalah ketersediaan virtual dunia pertanian yang disediakan oleh tiap-tiap flatform yang memang harus sesuai seperti dunia nyata.

ISRALASMADI

(Widyaiswara/Trainer Kementan)

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal