Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Kampanye Padi Hibrida

Bagikan
Foto : Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat.
Foto : Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat.

PanganNews.id Jakarta - Oleh : Entang Sastraatmadja

Muncul nya kerisauan banyak pihak terhadap ketersediaan pangan, khusus nya beras, tentu saja perlu menjadi perhatian kita bersama. Dengan laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,8 % per tahun dan semakin membabi-buta nya alih fungsi lahan pertanian produktif ke non pertanian, menjadikan ketersediaan beras harus terus ditingkatkan

Kita tidak boleh merasa lelah untuk terus berinovasi agar ketersediaan beras tetap terjaga dengan baik. Kebutuhan masyarakat terhadap beras, perlu tetap dijadikan prioritas dalam setiap kebijakan Pemerintah. Siapa pun yang diberi mandat rakyat untuk mengelola bangsa dan negeri tercinta ini, sudah seharus nya tidak boleh bermain-main dengan urusan pangan atau perberasan.

Hal ini penting dipahami, karena pangan atau beras adalah mati hidup nya suatu bangsa. Kata-kata yang diucapkan Bung Karno 70 tahun lalu, betul-betul memberi sinyal tentang bagaimana kita harus bersungguh-sungguh untuk mengelola pangan. Hal ini patut jadi pencermatan kita, sebab sekali nya saja kita salah dalam melahirkan kebijakan, maka anak cuculah yang harus menanggung resiko nya.

Banyak langkah yang dapat kita lakukan untuk menghalai kerisauan diatas. Salah satu nya adalah dengan mengoptimalkan pengembangan padi hibrida. Dari berbagai pengalaman, padi hibrida ini memiliki keunggulan utama yaitu produktivitasnya. Dengan tingkat produksi yang lebih tinggi diharapkan pemanfaatan padi hibrida dapat lebih dioptimalkan sampai ke petani, sehingga kedepan, dapat berkontribusi pada peningkatan produksi padi nasional.

Hanya saja, kita juga perlu mengenali apa yang menjadi kelemahan padi hibrida. Beberapa kelemahan yang ada antara lain pertama harga benih yang mahal; kedua, petani harus membeli benih baru setiap tanam, karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai untuk pertanaman berikutnya; dan ketiga tidak setiap galur atau varietas dapat dijadikan sebagai tetua padi hibrid.

Dr. Yudhistira Nugraha, Peneliti BB Padi mengungkap bahwa keberhasilan adopsi suatu teknologi sangat tergantung pada 3 komponen yaitu teknis, adopsi dan respon Pasar. Kelemahan yang terjadi pada salah satu komponen berimbas pada tingkat adopsi teknolologi tersebut. Itu sebab nya ketiga komponen ini butuh penanganan yang serius.

Tingkat adopsi teknologi padi hibrida masih rendah (di bawah 5%) pada kurun waktu 2013 – 2017. Rendahnya adopsi padi hibrida di tingkat petani dibandingkan total luas lahan yang ditanami padi di Indonesia, diantaranya disebabkan oleh tiga faktor, yaitu produksi benih padi hibrida memerlukan proses yang rumit dibandingkan dengan padi inbrida.

Produksi benih padi hibrida melibatkan galur mandul jantan yang secara alamiah memiliki rendemen benih lebih rendah dibandingkan padi normal, yaitu sekitar 1,5 ton per ha. Oleh karena itu, harga benih padi hibrida lebih mahal dibandingkan dengan benih padi Inbrida. Hal ini menyebabkan terbatasnya ketersediaan benih hibrida di toko pertanian, karena terbatasnya jumlah produsen (penangkar benih) padi hibrida. 

Faktor kedua adalah produktivitas varietas unggul hibrida memberikan keunggulan heterosis sekitar 10% dibandingkan padi inbrida, padahal pada tingkat penelitian dan pengkajian bisa mencapai 15-20%.

Capaian heterosis ditingkat petani, jika dihitung pada skala ekonomi petani kecil tidak memberikan dampak yang berarti, namun jika di hitung secara akumulasi nasional kenaikan hasil tersebut akan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi padi. 

Faktor berikutnya yaitu masih adanya pemahaman yang tidak tepat terhadap padi hibrida, dimana mereka mengganggap padi hibrida adalah padi yang perlu mendapat perlakuan istimewa dan menjadi sumber hama dan penyakit. Kenyataannya padi hibrida dapat ditanam sebagaimana padi Inbrida sesuai dengan rekomendasi dari hasil uji adaptasi yang dilakukan pada saat proses pelepasan varietas.

Walau masih mengandung banyak kelemahan, pengembangan padi hibrida adalah sebuah solusi yang dapat dijadikan pilihan kebijakan dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas padi. Atas hal yang demikian, kesungguhan Pemerintah untuk menyediakan benih padi hibrida yang berkualitas, menjadi kebijakan yang harus segeta ditempuh.

Pemerintah dimintakan juga untuk mengkampanyekan peran strategis padi hibrida. Dengan mengoptimalkan keberadaan Penyuluh Pertanian dan Penyuluh Swasta, kampanye secara masif dapat digarap. Mereka perlu memberi keyakinan kepada petani soal pengembangan padi hibrida. Bahkan akan lebih baik lagi bila Pusat Penyuluhan BP2SDM Kementerian Pertanian dapat memerankan diri sebagai motor penggerak dalam mengkampanyekan padi hibrida ini.

Catatan kritis nya adalah sampai sejauh mana Pemerintah dan Asosiasi Perbenihan Indonesia mampu menyiapkan benih padi hibrida yang nanti nya bakal disebarkan kepada para petani ? Lalu, bagaimana pula dengan kebijakan pendampingan bagi petani nya ? Apakah para Penyuluh Pertanian telah siap untuk menyampaikan materi pendampingan yang dikemas dalam Programa Penyuluhan Pertanian ?

Jawaban atas pertanyaan ini benar-benar sangat diperlukan. Pusat Penyuluhan Pertanian bersama-sama dengan Pusat Pendidikan Pertanian dan Pusat Pelatihan Pertanian BP2SDM Kementerian Pertanian, perlu segera bersinergi dan berkoraborasi secara lebih berkualitas guna melahirkan pandangan cerdas terkait dengan mengkampanyekan padi hibrida kepada para petani.

Sinergi dan kolaborasi ditopang oleh integritas yang berkualitas dari para pengambil kebijakan dalam pengembangan padi hibrida, tentu harus dijadikan dasar berpijak dalam penerapan nya di lapangan. Andaikan kita mampu merumuskan nya dengan baik, kita boleh optimis, padi hibrida akan tampil menjadi solusi yang menjanjikan. Ya, kenapa tidak ! (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal