PanganNews.id, Bali - Komunitas Petani Muda Keren di Bali berhasil mengubah citra pertanian dari yang dikenal dengan kotor, melelahkan, dan tidak efisien menjadi profesi modern.
Pengubahan citra itu dilakukan dengan cara mengembangkan pertanian organik dengan sistem smart farming, irigasi sprinkle, dan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)
Penggagas Komunitas Petani Muda Keren, Anak Agung Gde Agung Wedhatama menyebut, dengan smart farming, para petani bisa mengefisiensikan pekerjaan mereka.
"Tidak ada lagi petani itu capai, panas, dan kotor. Dengan smart farming, efisiensi jadi tinggi dan cost bisa ditekan sampai 70%," ujar Agung Wedha dikutip dari Alinea.id, Kamis 27 April 2023.
Pria asal Singaraja, Bali, ini mengakui, citra melelahkan, tidak nyaman, dan kotor tentang dunia pertanian kuat tertanam di masyarakat.
Melalui Komunitas Petani Muda Keren, dirinya berupaya mengubah citra buruk pertanian. Dalam pemasaran, misalnya, Agung Wedha mengajak para petani menjual komoditas yang dihasilkan melalui aplikasi khusus, Bali Organik Subak (BOS). Dengan aplikasi ini, produk dijual hingga ke mancanegara.
"Kami ada ekspor buah-buahan, seperti manggis dan mangga, ke China, Rusia, dan Timur Tengah," papar dia.
Di "Pulau Dewata", komunitas yang berdiri sejak 2018 ini menghimpun sekitar 1.000 petani yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Tanaman yang dikembangkan beragam, di antaranya padi, jagung, aneka umbi, sorgum, manggis, mangga, dan jeruk.
"Menanam macam-macam. Kalau ditotal, kurang lebih, kami mengelola sekitar 500 hektare (ha) lahan pertanian," kata Agung Wedha. (egi)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.