PanganNews.id, Afrika - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi non-pemerintah mencatat kematian akibat kekurangan pangan atau kelaparan meningkat di Afrika.
Hal tersebut disebabkan oleh konflik yang berkelanjutan dan perubahan iklim yang membuat kekeringan.
"Ada kematian akibat kelaparan rata-rata setiap 36 detik di Etiopia, Kenya, dan Somalia," kata UNICEF dan LSM Care dan Oxfam dalam konferensi pers bersama di Paris beberapa waktu lalu, dikutip dari Jurnas.com.
"Hampir 20 juta orang di wilayah Sahel hidup dalam kerawanan pangan," tambahnya.
Mereka menyebut, di wilayah Burkina Faso, terancam akibat pemberontakan militer. UNICEF mencatat, anak-anak yang terbunuh pada Januari hingga September 2022 lalu, tiga kali lipat banyaknya daripada tahun sebelumnya.
Di periode itu juga, Jumlah anak di bawah umur yang dirawat karena kekurangan gizi parah naik setengahnya.
Sementara di Niger, Louis-Nicolas Jandeaux di Oxfam Prancis, menyebut, kekeringan berulang dan bencana banjir dikombinasikan dengan konflik yang terus berlangsung hampir 40 persen produksi sereal menurun.
Sementara, Juru bicara UNICEF, Lucile Grosjean mencatat, sekitar 430.000 anak di Niger menderita kekurangan gizi yang serius. "Tahun ini, jumlah ibu hamil atau menyusui yang kekurangan gizi diproyeksikan naik menjadi 154.000 dari 64.000 pada 2022," papar dia.
Kemudian, Tanduk Afrika, berdasarkan catatan PBB, lima musim hujan berturut-turut menghasilkan hujan yang terlalu sedikit membunuh jutaan ternak dan menghancurkan panen.
Hal itu, membuat 22 juta jiwa terancam kelaparan di Ethiopia, Kenya dan Somalia dengan yang terakhir.
"Kami memperkirakan bahwa antara April dan Juni, lebih dari sepertiga penduduk Somalia akan mengalami krisis pangan, dengan proyeksi kelaparan," kata Mathilde Casper dari Care. (egi)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.