Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Jadi Komoditas Nomor Satu Penopang Ekspor, Kementan Butuh Peremajaan Sawit Rakyat 

Bagikan
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Andi Nur Alam Syah (Ditjenbun)
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Andi Nur Alam Syah (Ditjenbun)

PanganNews.id, Jakarta -  Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Andi Nur Alam Syah menyebut, bahwa Sawit Indonesia merupakan komoditas nomor satu di dunia sebagai penopang ekspor terbesar.

Sehingga, Andi mengaku akselerasi perkelapasawitan Nasional khususnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dibutuhkan. Seperti penyediaan sarana dan prasarana (Sarpras) yang tepat agar produksi, produktivitas, nilai tambah dan mutu hasil perkebunan kelapa sawit kian meningkat. 

"Sawit Indonesia itu nomor 1 di dunia, penopang ekspor terbesar. Indonesia memiliki potensi komoditas kelapa sawit yang luar biasa, yang tentu akan menjadi kekuatan besar demi perkebunan jaya kembali. Kita harus yakin dan optimis mari kita gaungkan karena masih banyak harapan untuk memperkuat perkebunan nasional,” kata Andi, Selasa 12 Juni 2023.

Kata dia, penyediaan sarana dan prasarana dalam berusaha kelapa sawit harus dipenuhi oleh setiap pekebun. Hal tersebut sesuai dengan Permentan Nomor 03 Tahun 2022 dan Keputusan Dirjen Perkebunan ada 8 jenis sarpras dalam perkelapasawitan meliputi benih, pupuk dan pestisida (Ekstensifikasi).

Lalu, Pupuk dan Pestisida (Intensifikasi), Alat pascapanen dan Unit Pengolahan Hasil, Peningkatan Jalan dan Tata Kelola Air, Alat Transportasi, Mesin Pertanian, Infrastruktur Pasar, dan Verifikasi Teknis (ISPO).

"Jika sarpras telah memenuhi kriteria teknis, (maka) dapat membantu akselerasi PSR terwujud. Manfaat program sarpras terbukti sudah dirasakan beberapa pekebun kelapa sawit yang tergabung dalam koperasi," jelas Andi.

Kendati demikian, Andi mengatakan bahwa produktivitas sawit masih dihadapkan dengan berbagai tantangan. Sehingga, dalam pengembangan kelapa sawit dibutuhkan tata kelola dan regulasi yang tepat, agar dapat berjalan sesuai standar yang ditetapkan. 

"Petani juga harus terus berinovasi dan semakin kreatif, tak hanya mengembangkan dari sisi hulunya saja namun hingga ke hilirnya, didukung dengan sarpras yang tepat, agar menghasilkan produk turunan yang semakin kreatif dan inovatif, sehingga kedepannya akan bermunculan beragam produk berbahan baku sawit yang ramah lingkungan, sehingga bisa menembus pasar global, dan tentunya menambah pendapatan pekebun,” jelas Andi.

Dia pun mengklaim bahwa selama ini pemerintah terus berupaya agar tata kelola pembangunan sawit terintegrasi, satu ekosistem dan berkelanjutan.

Salah satunya melalui program-program dari Ditjen Perkebunan seperti Pabrik Minyak Goreng (Pamigo), Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan program Kelapa Sawit Tumpang Sari Tanaman Pangan (Kesatria), serta penyesuaian regulasi dengan kondisi di lapangan.

"Semoga di 2024 nanti terwujud satu perkebunan satu regulasi agar komoditas perkebunan, khususnya sawit lebih mudah persyaratannya,” tandasnya.

Penulis : Egi Abdul Mugni 
Editor : R Muttaqien 

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal