Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Peluang-Peluang Usaha Tani Untuk Regenerasi Petani Indonesia

Bagikan
Ahmad Suryanto (Widyaiswara pada Balai Pelatihan Pertanian Lampung)
Ahmad Suryanto (Widyaiswara pada Balai Pelatihan Pertanian Lampung)

PanganNews.id Jakarta - Oleh Ahmad Suryanto (Widyaiswara pada Balai Pelatihan Pertanian Lampung)

Berdasarkan data Survei Pertanian Antar Sensus Tahun 2018, usia petani muda di Indonesia jumlahnya sangat minim, sementara sebagian besar petani kita berusia berusia tua.. Secara rinci data tersebut disajikan sebagai berikut:

No.

Usia Petani

Jumlah

Persentase

1.

˂ 25 tahun

  191.000

  1 %

2.

25 - 34 tahun

2.722.446

10 %

3.

35 - 44 tahun

6.548.105

24 %

4.

45 – 54 tahun

7.841.355

28 %

5.

55 - 65 tahun

 6.256.083

22 %

7.

≥ 65 tahun

4.123.128

15 %

Jumlah Total

27.682.117

100 %

Sumber : Survei Pertanian Antar Sensus, Badan Pusat Statistik (2018)

Sebagaimana terlihat pada data, jumlah petani muda yang berusia di bawah 25 tahun hanya 1 %, sementara mayoritas petani berusia di atas 45 tahun, yang jika dijumlahkan mencapai 65,82 %. Terlihat nyata dari data bahwa minat anak-anak muda di bawah 25 tahun untuk terjun berprofesi menjadi petani sangat rendah.

Kondisi di atas tentu meresahkan para pemangku kebijakan. Sebab, jika sumber daya manusia produsen pangan jumlahnya tidak memadai hal ini dikhawatirkan akan mengancam keberlangsungan produksi pangan nasional di masa depan. Maka sejak tahun 2019 lalu Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menggelar program regenerasi petani yang populer kita kenal dengan program “Mencetak 2,5 juta Petani Milenial hingga 2024”. Melalui regenerasi petani yang berkesinambungan diharapkan produksi pangan kita di masa depan juga akan berkelanjutan.

Sebagai program yang baik, semua pihak sudah selayaknya mengapresiasi dan mendukung langkah yang dilakukan Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) ini.

Sementara program ini masih terus berjalan, catatan kecil dalam tulisan ini barangkali akan memperkaya khazanah pemikiran dalam upaya untuk terus memperbaiki rumusan kebijakan regenarasi petani di masa mendatang.

Regeneras Petani berbasis Pengembangan Pertanian Non Budidaya

Sudah menjadi rahasia umum, lahan garapan petani kita per orang sangatlah sempit dibanding petani negara-negara lain. Dengan lahan garapan yang umumnya kurang dari 0,5 hektar per orang, cukup sulit untuk mengejar pendapatan tinggi dari bertani yang biasanya dilakukan secara konvensional. Gambaran kondisi pertanian yang demikian inilah, menurut beberapat riset, yang membuat generasi muda kita berfikir realistis dan tidak tertarik untuk menggeluti profesi petani.

Maka, sejak awal penting untuk melihat bahwa ketersediaan lahan adalah faktor pembatas dalam program regenerasi petani ini. Untuk menyediakan lahan baru dalam jumlah layak untuk para petani, ini masih menjadi PR besar yang entah kapan bisa terwujud. Jadi menurut penulis, untuk budidaya biarlah tetap digeluti oleh petani yang sekarang sudah ada, karena penambahan jumlah petani yang terjun ke lahan akan mempersempit “ruang pendapatan” petani yang sudah ada.

Di sisi lain, yang perlu dipahami lapangan usaha pertanian lain yang kegiatan utamanya bukan lahan budidaya (on farm), masih terbuka lebar, “pemainnya” masih sedikit dan peluang “cuan-nya” besar. Ini yang perlu terus dikampanyekan ke generasi muda agar mereka tertarik untuk terjun ke dunia pertania.

Berikut ini adalah berapa lapangan usaha tani berbasis non budidaya yang bisa menjadi peluang untuk digeluti petani muda kita:

  1. Penyedia Layanan Tekologi (Alat Mesin Pertanian)

Untuk mengejar intensitas produksi pangan secara cepat, hasil besar, dan dengan efisiensi tingi, maka yang diperlukan adalah teknologi dan peralatan pertanian modern tepat guna. Traktor roda empat, mesin tanam (transplanter), alat mesin panen (Combain Harvester) merupakan kebutuhan alat mesin yang sudah umum diperlukan petani. Ini menjadi peluang usaha tani baru dengan menyediakan jasa alat mesin pertanian (Alsintan) kebutuhan petani tersebut. Bagaimana memulai dan merintis usaha ini secara rnci, perlu pembahasan secara khusus dalam kesempatan lain.

  1. Penyedia Sarana Produksi, Khususnya Peluang Bahan Penyubur (Pupuk Organik)

Salah satu persoalan yang dihadapi para petani sampai saat ini adalah masalah makin menurunnya kesuburan tanah akibat bahan organik yang sedikit diberikan ke lahan sementara pupuk kimia pun semakin langka. Bagi yang mau belajar atau bisa memahami bagaimana mengembalikan kesuburan tanah dengan menyediakan berbagai bahan untuk merevitalisasi kesuburan tanah pertanian, ini  akan menjadi peluang usaha besar untuk digarap.

Pembenah tanah, kompos dan pupuk hayati merupakan produk yang berpeluang untuk disediakan dengan sumber daya yang melimpah di lingkungan kita. Untuk pembahasan ini secara khusus perlu pembahasan khusus dalam kesempatan lain.

  1. Processing, Pengolahan dan Pemasaran Produk Pertanian (Hilirisasi)

Salah satu peluang menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian adalah dengan melakukan processing, pengolahan, dan pemasaran produk pertanian. Salah satu atau semua kegiatan usaha tersebut cukup menarik bagi anak-anak muda untuk bergelut dengan disana.

Sebagai contoh, di bidang hortiultura, misalnya sayuran, bagaimana para produk sayuran yang dihasilkan di suatu kawasan, daripada selama ini dibeli tengkulak dengan harga dan permintaan yang tak pasti, kenapa tidak anak muda melakukan kegiatan pengumpulan, sortir, gradding, dan pengemasan lalu melakkan pemasaran. In salah satu peluang terbuka yang munkin selamaini  belum dilirik anak-anak muda.

Pengolahan ubi kayu, pisang, kakao, dan produk-produk pertanian lain selama ini telah membuka lapagan kerja dan memberi nilai tambah yang sangat besar bagi industri kecil UMKM. Jumlah konsumen kita yang besar, membuat industri pengolahan hasil pertanian sala UMKM berpeluang untuk tumbuh dan berkembang. Sekedar contoh, di banyak lokasi industri kelanting, makanana ringan asal ubi kayu, yang kesannya sepele itu, telah tumbuh menjadi industri yang menghidupi banyak orang.

Inti dari semua kegiatan usaha tani yang berpeluang digarap oleh generasi muda kita adalah berporos pada kewirausahaan. Oleh karena itu penting untuk meningkatkan eskalasi pembinaan kewirausahaan di bidang pertanian melalui sosialisasi, pelatihan, permagangan, dukungan permodalan, pendampingan dan aneka kegiatan lain yang ditujukan untku generasi muda. Dalam skala tertentu upaya-upaya ini sebenarnya sudah terlihat, tapi sekali lagi eskalasinya masih perlu ditambah agar menghasilkan gelombang perubahan besar di sektor pertanian kita. Wallahu a’lam. (*/adv)

Hajimena, Juli 2023**

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal