Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Kisah Rizky Maulana, Petani Milenial Alumni IPB Sukses Budidaya Sayuran Hidroponik

Bagikan
Pemilik Budidaya Tanaman Hidroponik, Rizky Maulana Damanik (PARBOABOA)
Pemilik Budidaya Tanaman Hidroponik, Rizky Maulana Damanik (PARBOABOA)

PanganNews.id, Simalungan - Rizky Maulana Damanik, merupakan petani muda berumur 28 tahun yang berasal dari Desa Sinaksak, Kecamatan Tapian Dolok, Simalungun, meyakinkan diri menjadi seorang petani Budidaya Hidroponik. 

Di usia yang masih muda itu, Rizky meyakinkan diri untuk mengembangkan sektor pertanian di daerahnya. Ia bahkan menjual vespa satu-satunya untuk menjadi pembisnis muda di sektor pertanian. 

Ia mengembangkan metode hidroponik,  karena keterbatasan lahan yang ia miliki dan kemampuan dia sebagai alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) . 

Tidak hanya dari latar belakang pendidikan, pengalamannya magang di sebuah perusahaan pertanian di Taiwan pun semakin menguatkan tekad Rizky mengembangkan bisnis pertanian hidroponik, tidak hanya di kampungnya, tapi hingga ke kabupaten Simalungun.

"Saya pernah magang di Taiwan untuk belajar Pertanian. Di sana, segalanya berbeda dengan Indonesia. Mulai dari budaya, sistem kerja, hingga disiplin, semuanya sangat berbeda," ungkap Rizky dikutip dari PARBOABOA, Selasa 22 Agustus 2023.

Berbekal pengalaman dan modal sebesar Rp100 juta, Rizky mulai membangun bisnisnya. Ia mengubah lahan seluas 300 meter persegi menjadi sebuah rumah hijau atau green house. Pembangunan green house dilakukan Rizky selama 3 bulan.

Namun, upaya tersebut tidak membuat Rizky langsung berhasil. Ia merasakan beberapa kali gagal saat melakukan uji coba pertanian hidroponik di kampungnya. 


"Meskipun beberapa kali benih dan bibit yang saya tanam tidak memberikan hasil maksimal, saya tetap melanjutkannya. Saya percaya suatu saat hasilnya akan bagus," katanya.

Usaha dan kerja keras Rizky pun akhirnya membuahkan hasil.

"Setelah terus mencoba cara dan formula terbaik," ungkap Rizky.

Ia melanjutkan, tantangan mengembangkan pertanian hidroponik masih berlanjut, karena konsumen sayuran yang diproduksi secara hidroponik masih minim untuk wilayah Pematang Siantar dan Simalungun.

Rizky menyebut, hasil panen miliknya pernah tidak dilirik sama sekali dan membuatnya terpaksa memberikan cuma-cuma kepada warga sekitar rumahnya.

"Beberapa kali sayur-sayuran yang belum sempat terjual itu harus saya bagikan kepada warga. Karena sayur-sayur ini kan tidak pakai pengawet daripada terbuang atau membusuk, lebih baik saya bagikan ke tetangga," jelasnya.

Rizky pun pernah menjajakan hasil panennya dari pintu ke pintu atau door to door. Cara itu dipilihnya untuk mencari pelanggan yang berujung pada pertemuannya dengan seorang pedagang sayur-sayuran organik di Pasar Horas Pematang Siantar.

Setelahnya, Rizky menjadi pemasok dari pedagang sayuran organik di pasar tersebut.

"Setelah saya berkeliling, saya dapat informasi bahwa ada pasar yang menjual sayur organik di Pasar Horas Pematang Siantar. Meski harganya sedikit lebih murah dibandingkan dengan ke konsumen akhir, tapi dengan menjualnya ke pasar tersebut tidak membuat saya rugi pada akhirnya," jelasnya.

Dari sana Rizky akhirnya belajar menciptakan pasarnya sendiri. Ia kemudian membuka toko yang khusus menjual tanaman organik. Usaha tersebut pun tak sia-sia. Setelah tokonya dibuka, Rizky mengaku omzetnya naik berkali lipat.

Di toko tersebut Rizky menjual sayuran seperti sawi, pakcoy, kangkung dan lainnya. Rizky ingin membuktikan produk pertanian miliknya lebih sehat dan berkualitas dibandingkan hasil pertanian konvensional lainnya.

Penulis : Egi Abdul Mugni 
Editor : R Muttaqien

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal