Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

UGM Kaji Kasus Anthrax di Gunungkidul

Bagikan
Ilustrasi penelitian Kedokteran Hewan (Istimewa)
Ilustrasi penelitian Kedokteran Hewan (Istimewa)

PanganNews.id, Yogyakarta - Kabar mengerikan kembali menghantui Kabupaten Gunungkidul dengan munculnya kasus penyakit anthrax di Kapanewon Gedangsari.

Seorang warga menjadi tersangka terjangkit penyakit mematikan ini, memicu kekhawatiran akan penyebarannya yang meluas di beberapa daerah Gunungkidul.

"Kasus anthrax ini disebabkan oleh spora dari Bacillus anthracis yang bersumber dari hewan yang disembelih atau dari lingkungan ternak," ungkap Prof. Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM bidang Mikrobiologi, Minggu 10 Maret 2024.

Wahyuni menjelaskan bahwa spora tersebut sulit hilang dan dapat bertahan di tanah hingga puluhan tahun.

"Spora bisa terbentuk jika bakteri Bacillus anthracis terpapar oksigen, sehingga spora tidak pernah dijumpai dalam tubuh penderita atau dalam bangkai yang tidak diseksi atau dibuka," tambahnya.

Ancaman anthrax tidak hanya mengancam hewan ternak, namun juga menular ke manusia.

"Tidak boleh juga sembarang orang keluar masuk di wilayah tersebut dan hanya petugas yang sudah ditetapkan," tegas Wahyuni.

Dalam menghadapi kasus ini, para peternak perlu meningkatkan biosekuriti, melakukan isolasi terhadap hewan yang terserang, dan memberikan pengobatan serta suplemen yang diperlukan.

"Hewan yang terjangkit bakteri anthrax bisa diobati dengan antibiotik, antiseptik, desinfektan, dan suhu diatas 54 derajat celcius selama 30 menit," jelasnya.

Sementara Nanung Danar Dono, Dosen Fakultas Peternakan UGM, menegaskan pentingnya pencegahan dengan tidak memotong atau mengkonsumsi hewan yang sakit atau telah mati akibat anthrax.

"Daging bangkai tidak boleh dikonsumsi karena matinya karena zoonosis bisa menular ke manusia," imbuhnya.

Dono juga menyarankan agar hewan yang sakit diisolasi dan diobati hingga dinyatakan sehat, serta hewan yang mati akibat anthrax segera dikubur atau dikremasi di lokasi untuk mencegah penyebaran spora. 

"Kasus seperti ini harus diantisipasi dengan literasi dan edukasi agar tidak terulang kembali," tandasnya.

Penulis: Ajat Nicko

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal