Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Kenyang Tidak Harus Dengan Nasi, Betulkah?

Bagikan
M. Chairul Arifin, Purnabakti Kementan Alumni Unair. (Foto: Dok. M. Chairul Arifin)
M. Chairul Arifin, Purnabakti Kementan Alumni Unair. (Foto: Dok. M. Chairul Arifin)

PanganNews.id Jakarta, - Oleh.M. Chairul Arifin, Purnabakti Kementan Alumni Unair

Demikian bunyi tulisan di baliho besar, terpampang, begitu kita memasuki pintu gerbang Kantor Pusat Kementerian Pertanian yang letaknya bersebelahan dengan Kantor Badan Pangan Nasional (BAPANAS). Rupanya Baliho tersebut sudah lama, dipasang oleh BAPANAS untuk mengingatkan kepada publik agar ketergantungan kepada melulu pangan beras. sebagai pangan pokok tidak tepat.lagi.

Kalau boleh diartikan secara bebas, masih banyak pangan pokok lain selain beras yang dapat menggantikannya dan kandungan gizinya. tidak diragukan lagi. Memang benar tetapi apakah sesederhana itu masalahnya? 

Pangan lokal

Publik sejatinya telah lama mengenal berbagai pangan lokal atau asal impor sebagai pangan pokok selain beras yang berpotensi sebagai penggantinya dan mereka bersedia. Tetapi bahan pangan pengganti tersebut bagaimana dari segi ketersedian, distribusi dan akses pemanfaatannya termasuk menyangkut harganya. ? 

Tentu tidak semudah menulis di baliho Makan Tidak Perlu Kenyang Dengan Nasi Karena tidak jauh dari baliho tersebut seluruh karyawan yang berkantor di komplek tersebut tetap saja makan siang dengan nasi sebagai pangan pokok yang mengenyangkan dari tingkat Menteri sampai Dirjen dan para bawahannya yang berjumlah lebih dari 7.000 karyawan setiap acara maksn siang. 

Mereka menikmatinya dari kantin yang tersedia atau dari kesempatan menghadiri rapat pertemuan yang biasa menyajikan masakan siang.setiap hari. Sungguh enak karyawan sekarang dibandingkan jaman 40-50 tahun yang lalu. Perubahan jam kantor sampai sore hari menyebabkan orang makan siang diluar rumah sehingga bertumbuh subur berbagai kantin dengan aneka pilihan masakan.

Antre beras murah

Gambaran sekelumit ini menunjukkan bahwa masih dominan nya, beras sebagai pangan pokok, sementara itu terdapat tulisan di baliho yang mereka tulis sendiri, tidak harus kenyang dengan nasi. Kontradiksi ini secara kasat mata tergambarkan dari relanya warga antre berjam jam, hanya untuk memperoleh beras murah. Apalagi menjelang ramadhan 1445 H. 

Antrenya masyarakat sejatinya selain ingin memperoleh beras murah juga karena mereka "belum" menemukan pangan pengganti beras yang akses ketersediaan, distrinusi dan pemanfaatannya mudah, aman serta nyaman serupa beras. Warga rela berebut dalam operasi pasar dan pasar murah walaupun dia tahu banyak komoditi pengganti beras. 

Tentunya mereka punya alasan tersendiri yang masuk akal. Walaupun dari berbagai acara pemerintah meng kampanyekan ragam aneka masakan lokal oleh para koki terkenal dengan penyajian yang menarik. Langkah ini baik, tetapi kegiatan ini menjadi lebih berarti bila disajikan tidak saja dari pengertian hilirnya saja (konsumsi) tetapi diikuti dengan kemudahan memperoleh, dimana adanya bahan baku pangan dan bagaimana pangan pengganti tersebut.dari mudah tidaknya meng akses. Kalau untuk memperoleh bahan saja sudah susah, masyarakat akan tetap rela antri beras. 

Kalau pemerintah bisa menemukan komoditi pangan yang dari perolehan aksesnya mudah dan murah serupa beras diyakini bakal tidak terjadi antrean warga yang berebut beras beras murah. Tapi pemerintsh selama bertahun-tahun berdiam diri belum melakukan inovasi yang berarti untuk diversifikasi pangan. Program diversifikasi pangan jalan di tempat dan tidak berkelanjutan. 

Pemerintah Singapura dan negara maju lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan dalam menghadapi konsumsi masyarakatnya yang ternyata tinggi kasus diabetnya buru-buru mengurangi konsumsi berasnya. Karena mereka khawatir penduduknya yang semakin meningkat penderita diabetes, dapat mengganggu produktifitas kerja..Maka dengan langkeh beranii pemerintah mengurangi konsumsi beras dan minuman dengan mengenakan sangsi tegas terhadap.makan dan minuman yang melebihi ambang batas. Masyarakat menerima dengan baik karena makanan dan minuman penggantinya tersedia banyak dan mudah diakses oleh masyarakat. 

Di Indonesia sudah jelas konsumsi berdasarkan ukuran Pola Pangan Harapan, kontribusi energi yang berasal dari kelompok padi padian utamanya beras telah melebihi anjuran sebesar 50 prrsen. Konsumsi beras per kapita tahun 2021 mengalami peningkatan yaitu dari 257,6 gtam/kapita/hari (94,0 kg/kap/tahun) menjadi 258,6 gram/kapita/hari (94,4 kg/kap/tahun) selama 2020-2021.Maka benarlah hasil Survei dari Interational Diabetes Foundation-IDF bahwa tahun 2021 penderita diabetes di Indonesia, mencapai. 19,5 juta orang dan diperkirakan pada tahun 2045 kelak bisa mencapai 28,57 juta orang. Angka diabetes ini menyebabkan Indonesia peringkat 5 dunia penderkts diabet. 

Diperlukan langkah regulasi yang berani dari pemerintah untuk segera menurunkan prevalensi pembunuh senyap dengan mengurangi konsumsi beras dan minuman dengan menyiapkan pangan penggantinya yang mudah dan murah di akses oleh masyarakat, sehingga dapat mencegah antrian beras. 

Gandum

Kemudahan juga menyangkut distribusinya. Kalau tata niaganya, tidak ber kepastian dan sering langka di pasar maka jangan harap mereka beralih konsumsi. Selain itu dari kemudahan harga dan pemasaran. Apakah komoditi tersebut lebih murah jatuhnya setelah dimasak dan tata cara masaknya lebih mudah dan praktis dari beras? 

Tidak heran jadinya kalau orang beralih kepada pemanfaatan mi instan yang bahan bakunya impor yaitu gandum. Impor gandum Indonesia meningkat tajam selama sepuluh tahun terakhir.. Di tahun 2010 impor baru 4,8 juta ton meningkat menjadi 11,2 juta ton pada, 2020, artinya pemakaian devisa kita meningkat dari Rp 5 9 Trilliun menjadi Rp. 37,7 Trilliun untuk memakmurkan petani gandum.luar negeri. Tidak.heran masyarakat menikmati makan mie instant setiap harinys karena saking mudah, murah dan praktis memasaknya

Nantinya kalau misalnya suatu saat harga mi instan sangat mahal maka akan terjadi juga "antrean" membeli mi instan murah. Diyakini hal ni dapat terjadi karena "euphoria" masyarakat telah terbentuk. Contoh lainnya pada kasus minyak goreng, yang sampai antre mendapatkan minyak goreng curah dan murah pada berbagai operasi pasar yang diselenggarakan pemerintah. 

Pendeksts! Hulu sampai Hilir

Dapat disimpulkan bahwa adagium tidak harus kenyang dengan nasi itu betul adanya.. Namun harus diikuti secara konsisten dengan kemudahan akses terhadap ketersediaan, distribusi, pengolahan dan pemasarannya.. Tidak seperti komoditi sorgum, porang atau sagu pemerintah meng gencarkan agar petani menanamnya sebagai pengganti nasi tapi begitu panen tiba terlupakan infrastruktur untuk pengolahan dan pemasarannya. Lupa disiapkan sehingga petani kecewa dan tetap makan nasi untuk mengenyangkan perutnya.

Oleh karena itu kampanye Tidak harus kenyang dengan nasi harus diikuti pula dengan kebijakan dari sejak hulu sampai hilir, tidak sepotong-sepotong seperti yang terjadi saat ini. Memang enak menikmati singkong yang diolah jadi getuk lindri misalnya. Tapi untuk memperolehnya hanya seminggu sekali dengan distribusi tepung singkong yang sulit diperoleh dibanding mendapatkan beras dan tepung terigu.

 Belum lagi soal harganya. Tetap saja berlaku hukum ekonomi, yang susah di dapat akan sedikit mahal harganya. Tetap saja orang akan mengatakan : "makan kalau tidak dengan nasi bukan makan," sehinngga makan dengan nasi itu memang mengenyangkan...

Kota Depok, Maret 2024

M. Chairul Arifin, Purnabakti Kementrian Pertanian, Alumni Unair

Rumah Perumahan Jatijajar Blok D 14 No 9 Kota Depok Jawa Barat 16952

HP 0816953620

Email : [email protected]

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal