PanganNews.id Jakarta, - Muhammad Firdaus, Guru Besar IPB University.
Tiga dimensi dalam praktek pertanian berkelanjutan sering bersifat trade-off, sehingga menjadi dilema bagi petani. Perubahan dari pertanian konvensional ke yang lebih ramah lingkungan seperti pertanian organik atau LISA (least input sustainable agriculture), menyebabkan pada beberapa musim tanam terjadi penurunan hasil. Jika secara kontinu dilakukan, seiring dengan perbaikan struktur tanah, produktivitas kembali meningkat bahkan bisa jadi lebih tinggi daripada semula. Dari sisi harga, penghargaan konsumen terrhadap produk yang bebas atau minimum pestisida lebih tinggi, namun tidak jarang bagian lebih besar dari dampak kenaikan harga atau premium price dinikmati pemain di sektor distribusi.
Dilema di atas bukan satu-satunya penyebab enggannya petani mengurangi penggunaan input anorganik. Aplikasi pestisida yang dimaksudkan untuk mengurangi risiko akibat gangguan hama dan penyakit bukan lagi berdasarkan kebutuhan (pada saat ada ancaman serangan organisme pengganggu tanaman, OPT), namun menjadi kebiasaan bahkan dapat disebut kecanduan. Hasil riset dari beberapa peneliti di IPB dan Kementerian Pertanian menunjukkan proporsi pengeluaran untuk pestisida dari total ongkos usahatani mencapai 15 sampai dengan 20%. Faktor produksi seperti kapur terus-menerus ditambahkan ke tanah sebelum dilakukan penanaman, meskipun kadar asam basa tanah bisa jadi sudah masuk dalam zona netral, namun snagat jarang dilakukan pengukuran. Petani memang lebih banyak bersifat takut risiko atau risk averter.
Pandawa Agri Indonesia (PAI) yang beroperasi di Banyuwangi, Jawa Timur, dalam beberapa tahun terakhir telah memasarkan produk tekbologi yang dapat membantu mengurangi intensitas dan kuantitas pestisida oleh petani. Produk yang dikenal dengan sebutan reduktan ini dapat mengurangi penggunaan pestisida hingga 50 persen. Dengan harga yang jauh lebih murah per satuan volume dibanding pestisida, reduktan dapat mengurangi biaya aplikasi pestisida sampai 40%. Tidak hanya dari dimensi ekonomis, dengan kandungan hayati, penggunaan reduktan dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan petani, selain dari penurunan penggunaan pestisida itu sendiri.
Reduktan saat ini sudah banyak digunakan oleh perkebunan besar sawit swasta di dalam negeri. Gulma yang jika dikendalikan secara manual akan menghabiskan banyak ongkos tenaga kerja, diatasi dengan memggunakan herbisida secara masif. Kemampuan reduktan mensubstitusi herbisida hingga separuhnya, menghasilkan jangkauan pasar ke negeri jiran. Perkebuan sawit Malaysia yang lebih maju sudah mengaplikasikan reduktan secara besar-besaran. Bahkan, pada beberapa waktu lalu komunitas petani padi dan jagung di seluruh kawasan Malaysia mendeklarasikan untuk siap menggunakan reduktan, karena karakteristik penggunaan pupuk yang merangsang pertumbuhan gulma yang tinggi. Sungguh membanggakan kita dapat mengekspor produk teknologi ini. Tentunya perlu didorong upaya untuk penetrasi pasar baru semisal di Asean atau kawasan yang lebih jauh. Sampai saat ini kinerja ekapor Indonesia untuk klasifikasi produk hasil rekayasa atau teknologi masih sangat jauh dari negara sebanding seperti China, Brazil atau Malaysia.
Tantangan perubahan iklim serta tuntutan fora internasional untuk mengurangi emisi karbon, mendorong perlunya pengembangan sistem pertanian pintar, sebagaimana yang diupayakan oleh berbagai institusi global seperti FAO. Hal ini diterjemahkan oleh PAI dengan mengupayakan pertanian produktif sekaligus bersahabat dengan alam oleh petani berskala kecil. Teknologi PAI untuk petani kecil telah diterapkan menyebar di beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur dan Sumatera Selatan. Selain dilakukan transformasi mulai dari penyiapan lahan, peggunaan benih unggul, pengendalian OPT sampai pada efisiensi rantai pasok yang mencakup penanganan pasca panen yang lebih baik. Dampak positif pada peningkatan produktivitas tanaman seperti padi, kopi dan hortikultura dirasakan oleh petani, sekaligus juga tingkat harga (farm gate price) yang lebih tinggi. Ini tentunya tidak terlepas dari adanya sinergi yang dilakukan dengan Pemerintah Daerah setempat (pentaheliks).
Menyongsong pergantian kabinet, sudah tidak bisa ditunggu lagi sistem pangan yang lebih baik harus dibangun. Strategi harus mencakup hulu hilir atau end to end. Pembangunan pertanian tidak hanya persoalan subsidi input atau subsidi pangan. Menciptakan sumberdaya manusia pertanian efisiensi proses produksi serta nilai tambah menjadi beberapa kata kunci untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku sektor pertanian. Pendampingan dari mulai penyediaan input sampai pemasaran mutlak diperlukan. Peran Permintah seyogyanya lebih banyak di sini. Kerjasama pentaheliks dengan model.Closed Loop yang sudah mulai banyak diadopsi perlu lebih digiatkan. Peran petani milenial atau champion harus lebih didorong, baik yang bergerak di kawasan perdesaan maupun yang mengembangkan urban farming di daerah pinggiran kota atau hiterland.
Penerapan pertanian presisi memang masih sangat terbatas, setidaknya untuk pertanian di lahan terbuka atau open field. Keberadaan Fakultas Pertanian yang saat ini ada di sebagian besar kabupaten atau kota di Indonesia harusnya lebih signifikan. Lulusan yang dihasilkan memang sering "tergoda" untuk mencari penghidupan di luar sektor pertanian, karena untuk merintis agribisnis sendiri memerlukan permodalan yang berisiko tinggi mulai dari saat produksi sampai komoditas siap dipasarkan. Lulusan pertanian baik vokasi maupun sarjana dapat terlebih dahulu menimba pengalaman di usaha pertanian (non perkebunan) yang sudah mulai banyak kembali dibangum beberapa swasta besar. Sebagai contoh, di Kepulauan Riau selain untuk memenuhi kebutuhan setempat, pengelolaan usaha sayuran secara modern mampu menghasilkan produk yang berkualitas tinggi sehingga secara rutin dapat memenuhi kebutuhan ekspor kawasan regional.
Ke depan tantangan akan semakin besar, namun pangan harus selalu tersedia dengan baik. Upaya milenial di ujung Timur Pulau Jawa di atas adalah salah satu contoh kongkrit bagaimana inovasi teknologi mampu menyumbangkan solusi, sehingga kehidupan bangsa lebih sejahtera dan bermartabat; sebagaimana cita-cita Pendiri Bangsa yang sering diucapkan saat hajat politk dilangsungkan. Semua bisa menunggu, kecuali pertanian. (*/Adv)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.