PanganNews.id Jakarta, - (Bagian Ke Dua) oleh drh. Pudjiatmoko, Ph.D Medik Veteriner Ahli Utama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Diagnosis
Tanda-tanda klinis pada spesies yang rentan biasanya muncul dalam hitungan jam hingga hari. Waktu timbulnya penyakit dan perkembangan hingga kematian diyakini bergantung pada dosis, namun dapat bervariasi tergantung spesies yang terkena. Beberapa hewan mungkin pulih, namun mereka tidak terlindungi dari paparan toksin di kemudian hari. Pada diagnosis llinis, indikasi kejadian di lapangan terhadap kematian akibat botulisme pada unggas biasanya mencakup kawanan unggas yang sakit dan/atau mati di tepi perairan, biasanya di dekat tumbuh-tumbuhan.
Di wilayah dengan ketinggian permukaan airnya stabil (misalnya, bendungan, danau, sungai besar), kerumunan orang terlihat di dekat vegetasi yang tergenang air dan semenanjung/pulau yang ditumbuhi tanaman. Burung dengan berbagai tahap penyakit sering ditemukan bersama-sama, begitu pula bangkai dengan berbagai tahap pembusukan.
Beberapa spesies mungkin terkena secara bersamaan. Jika dicurigai adanya botulisme, isi tembolok dan ampela unggas yang mati diperiksa untuk mengetahui adanya belatung. Adanya belatung di saluran pencernaan dapat meningkatkan kecurigaan botulisme, namun tidak ada belatungpun tidak mengurangi kecurigaan. Keracunan tahap awal pada unggas air menyebabkan ketidakmampuan terbang karena mengalami kelemahan.
Burung mengalami kelumpuhan ringan pada kakinya sehingga mendorong burung melintasi daratan atau air menggunakan sayapnya. Kelopak mata ketiga atau membran pengelip akan menonjol karena kelumpuhan. Akhirnya, terjadi kelumpuhan ringan pada leher dan kepala sehingga tidak dapat bertahan di atas air; pada tahap ini, burung biasanya tenggelam sebelum terjadi kegagalan pernafasan akibat toksin. Pada spesies mamalia, tanda-tanda klinis botulisme juga ditandai dengan penurunan kekuatan otot pada salah satu dari anggota gerak. Tetapi dapat juga timbul disfasia, air liur, anyang-anyangan, gangguan pernapasan, dan akhirnya kelumpuhan pernapasan atau jantung.
Secara umum, baik spesies unggas maupun mamalia ditemukan dalam keadaan berbaring terlentang dengan posisi kepala rendah atau leher terentang.
Biasanya tidak ada lesi yang berarti pada kasus botulisme. Unggas air dan burung pantai mungkin mengalami gejala tenggelam sehingga terdapat cairan di saluran pernapasan.
Diagnosis banding
Penyakit lain yang mirip adalah toksisitas alga, hipokalemia, trauma atau infeksi sistem saraf pusat. Pada mamalia, penyakit dengan gejala yang mirip adalah antraks; rabies; poliradikuloneuritis idiopatik; kelumpuhan; paresis parturien / milk fever (kekurangan kalsium ketika melahirkan).
Pada unggas, kejadian dengan gejala mirip dengan botulisme yaitu ketika sayap meranggas secara musiman merupakan penyebab umum ketidakmampuan terbang selama musim panas. Upaya penangkapan hewan sering kali berhasil menjelaskan status kesehatan dan kebugarannya secara umum. Penyakit lain yang gejalanya mirip yaitu keracunan timbal; keracunan biji jarak; penyakit Marek’s Dsease; toksisitas ionofor; pasteurellosis (“fowl cholera”); duck viral enteritis (“duck plague”)
Sampel untuk diagnosis di laboratorium
Sampel berupa darah utuh atau serum dan isi saluran pencernaan. Sampel yang diperoleh hanya dari hewan yang hampir mati atau hewan yang baru saja mati yang boleh digunakan untuk pengujian. C. botulinum dapat berkembang biak dengan cepat pada jaringan yang membusuk dan menghasilkan toksin yang tidak terdapat pada antemortem. Sampel harus didinginkan atau dibekukan segera setelah dikumpulkan dan dikirim ke fasilitas diagnostik di atas es. Sebagai catatan bahwa uji serologi tidak digunakan untuk mendiagnosis botulisme.
Prosedur Identifikasi toksin
Inokulasi serum dari hewan yang dicurigai ke tikus. Dua kelompok tikus digunakan, salah satunya diberi antitoksin tipe spesifik. Jika serum mengandung toksin botulinum, kelompok tikus yang tidak diberi antitoksin tipe spesifik akan mengalami tanda-tanda klinis yang disebabkan oleh toksisitas botulinum dan akhirnya mati.
Uji ELISA untuk deteksi antigen: Mendeteksi toksin aktif (proteolitik) dan tidak aktif (non-proteolitik).
Uji PCR tersedia untuk membedakan toksinotipe C. botulinum, namun tidak dapat mendeteksi keberadaan toksin botulinum dalam darah atau isi gastrointestinal.
Tes serologis: Serologi tidak digunakan untuk mendiagnosis botulisme.
Pencegahan dan pengendalian
Profilaksis higiene sanitasi
Spora C. botulinum bersifat kuat dan umum ditemukan di lingkungan lahan basah, dan kondisi yang mendorong pertumbuhan hingga menjadi vegetatif bersifat kompleks dan multivariat. Oleh karena itu, upaya pengendalian harus difokuskan pada pengurangan risiko dan penghapusan faktor yang berkontribusi terhadap produksi toksin.
Pengumpulan dan pembuangan bangkai secepatnya dengan insinerasi dan penguburan sangat disarankan untuk memutus siklus penularan belatung-bangkai, terutama di wilayah yang banyak terdapat unggas air dan burung pantai.
Mengurangi jumlah masukan organik ke lahan basah dan perairan lain yang dikelola. Hal ini termasuk banjir atau pengeringan air yang cepat, terutama di musim panas.
Pengelolaan pH air, salinitas, dan oksigenasi mungkin diperlukan di wilayah berisiko.
Tidak disarankan untuk membuang limbah air ke lahan basah.
Pengendalian lalat di dekat fasilitas penangkaran dapat mengurangi risiko penumpukan belatung bertoksin.
Fasilitas penangkaran harus mendisinfeksi tempat tersebut dengan bahan yang diketahui efektif melawan bakteri pembentuk spora, terutama jika tempat tersebut memiliki riwayat wabah botulisme.
Profilaksis medis
Terdapat vaksin khusus toksin yang digunakan untuk kuda, cerpelai, dan burung pegar komersial, namun penggunaannya tidak efektif dari segi biaya untuk bebek liar atau fasilitas ayam komersial.
Antitoksin tersedia dan efektif untuk sebagian besar spesies. Pengecualian mencakup burung coot, burung pantai, burung camar, dan burung grebe, yang kemungkinan besar akan terserang botulisme meskipun telah diberikan pengobatan antitoksin dan perawatan suportif.
Di fasilitas penangkaran, segala kekurangan nutrisi harus diatasi secepat mungkin untuk mencegah hewan mengonsumsi bahan-bahan yang membusuk di lingkungan. Sapi dan domba yang kekurangan fosfor cenderung mengunyah tulang, sehingga meningkatkan risiko menelan spora.
Risiko terhadap kesehatan masyarakat
Manusia rentan terhadap toksin botulinum namun manusia biasanya terkena bukan yang berasal dari satwa liar atau lingkungan. Ada beberapa kasus karena terkena toksin tipe E berasal dari ikan yang pengolahannya tidak benar. Toksin umumnya dapat dinonaktifkan dengan cara memasak makanan dengan benar. Manusia terutama terkena toksin tipe A, B, dan E. Efek toksin tipe C tidak dijelaskan dengan baik pada manusia, namun toksin ini banyak diketahui berdampak pada spesies primata non-manusia.
Risiko terhadap peternakan
Spesies unggas ternak, termasuk cerpelai yang dibudidayakan, rentan terhadap neurotoksin botulinum. Sumbernya tidak selalu jelas atau dapat dilihat, dan jika sebagian besar ternak terkena dampaknya, para peternak dapat menghadapi kerugian hewan dan finansial yang besar. (*/Adv)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.