PanganNews.id, Kalimantan Tengah- Banjir yang melanda sejumlah titik di Kota Sampit sejak Minggu 28 April 2024 lalu telah menyebabkan kerugian yang signifikan bagi para petani hortikultura di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Salah satu petani, Handoko, mengungkapkan dampak buruk yang dirasakan oleh petani di jalan HM Arsyad Km 6 Sampit.
"Kalau kondisi lahan terendam seperti ini bisa dikatakan tanaman mati semua. Apalagi untuk cabai ketahanannya cuma 2 sampai 3 hari sudah layu," kata Handoko dengan nada prihatin, Kamis 2 Mei 2024.
Handoko mengeluhkan bahwa hampir semua tanaman di lahan pertaniannya rusak akibat terendam banjir, dengan kerugian mencapai lebih dari Rp10 juta.
"Jika sudah terendam begini bisa dipastikan rusak, kondisinya tidak bisa diselamatkan. Apalagi cabai, makanya besok rencananya bakal saya cabut," kata dia.
Sementara itu, petani lainnya, Munir, dari Jalan Teratai IV Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, juga merasakan dampak serupa.
"Tanaman seperti ini tidak bisa terendam terlalu lama, karena akarnya bisa busuk. Contohnya, sawi sudah banyak yang rusak dan tidak bisa diselamatkan lagi,” ucap Munir.
Kondisi ini semakin diperparah dengan tanaman yang masih muda dan kurang kokoh, seperti sawi dan selada, sehingga bisa dipastikan gagal panen.
Munir juga menambahkan bahwa banjir kali ini adalah yang terparah yang pernah dialami, diduga disebabkan oleh curah hujan tinggi dan air pasang sungai.
Para petani berharap banjir segera surut agar mereka dapat kembali menanami lahan pertanian mereka.
Mereka juga memohon bantuan dari pemerintah daerah berupa bibit dan pupuk untuk meringankan beban mereka.
Penulis: Ajat Nicko
Editor: R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.