PanganNews.id, Jakarta - Ekspor ikan dan produk perikanan dari Indonesia ke Uni Eropa disebut masih mengalami berbagai kendala.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ishartini.
Ia mengakui bahwa ekspor ikan dan produk perikanan ke Uni Eropa masih mengalami kendala.
Ishartini mengungkapkan bahwa saat ini hanya ada 176 perusahaan yang mampu menembus pasar Uni Eropa dan jumlah tersebut belum mengalami peningkatan selama tujuh tahun terakhir.
“Sudah 7 tahun kita belum bisa menambah jumlah maupun varian produk yang bisa diekspor ke sana,” kata Ishartini, belum lama ini.
Diketahui, beberapa negara menjadi pangsa pasar utama ekspor produk perikanan Indonesia.
Diantaranya, pasar terbesar adalah Amerika Serikat dengan nilai US$ 1,91 miliar atau setara 33,9% dari total nilai ekspor produk perikanan Indonesia.
Kemudian ada Tiongkok dengan nilai US$ 1,14 miliar (20,2%), Jepang sebesar US$ 690,70 juta (12,3%), negara-negara di kawasan ASEAN dengan nilai US$ 667,83 juta (11,9%), serta Uni Eropa dengan nilai US$ 335,27 juta (6,0%).
Ishartini menyebut perbaikan mutu dan kualitas masih menjadi pekerjaan rumah agar produk perikanan dalam negeri bisa diterima di Uni Eropa.
Saat ini, pihaknya bersama dengan pelaku usaha dari sektor hulu penangkapan hingga hilir pengelolaan, mulai membangun kesadaran bersama akan pentingnya penjaminan mutu.
Salah satu langkah yang dilakukan, salah satunya di sektor budidaya, adalah melakukan sertifikasi penjaminan mutu agar produk perikanan Indonesia bisa bersaing.
“Ini juga bisa meyakinkan negara tujuan ekspor, sehingga approval number kita bisa bertambah. Dengan begitu, volume dan nilai ekspor ke Uni Eropa juga meningkat,” ungkap dia.


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.