Kekeringan Parah Melanda Pulau Jawa, Krisis Air Bersih dan Gagal Panen Mengancam

Pers Pangannews

Jumat, 06 September 2024 16:21 WIB

news
Kekeringan Parah Melanda Pulau Jawa (FOTO : tempo)

Pangannews.id, Depok - Pulau Jawa kini menghadapi dampak serius dari musim kemarau yang berkepanjangan, dengan kekeringan yang mengancam ketersediaan air bersih dan menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah.

Beberapa kabupaten dan kota di Pulau Jawa telah merasakan krisis air yang semakin memburuk, memaksa warga untuk bergantung pada pasokan air dari luar atau mencari sumber air alternatif yang semakin langka.

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, sejak Mei 2014, warga di 14 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, termasuk Grobogan, Cilacap, dan Pati, telah mengalami kekurangan air bersih.

Pasokan air bersih yang dikirim melalui dropping air menjadi salah satu solusi utama, namun debit air di sumber-sumber utama semakin menurun. Di beberapa daerah, warga harus mencari air dari mata air atau waduk yang juga mengalami penurunan debit.

Di Jawa Timur, situasi tidak kalah mengkhawatirkan. Kabupaten seperti Ponorogo, Lamongan, Pacitan, Bojonegoro, Gresik, dan Magetan mengalami kemarau yang tidak hanya membuat warga menunggu giliran untuk mendapatkan air bersih, tetapi juga menyebabkan gagal panen atau "puso".

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur melaporkan bahwa sekitar 26 ribu hektar lahan pertanian mengalami gagal panen akibat kekeringan yang berkepanjangan.

Antrean Panjang untuk Mendapatkan Air

Di Kecamatan Bungkal, Ponorogo, warga harus berjalan sejauh setengah kilometer menuju satu-satunya sumur yang tersisa di hutan untuk mendapatkan air. Mereka harus antre lama untuk mendapatkan air yang hanya cukup untuk kebutuhan makan dan minum, sementara kebutuhan lainnya seperti mandi dan mencuci harus dilakukan di sungai di desa tetangga.

Salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa mereka telah menghadapi kekeringan selama dua bulan terakhir dan harus menunggu lama untuk mendapatkan air.

Di Madiun, Bendungan Dawuhan melaporkan bahwa pasokan air tinggal 30 persen dari kondisi normal. Jika kondisi ini tidak membaik hingga Oktober, pintu air bendungan mungkin akan ditutup untuk mencegah kerusakan pada infrastruktur bendungan.

Proyeksi BMKG dan Langkah Selanjutnya

Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memperkirakan bahwa kekeringan ini akan berlanjut hingga Oktober 2024, dengan musim hujan diharapkan kembali mulai dari arah barat, dimulai dari Banten, Jawa Barat, dan seterusnya.

BMKG juga memperingatkan adanya risiko kekeringan yang cukup parah, meskipun kemarau tahun ini diprediksi tidak seburuk tahun lalu. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa meskipun kemarau 2024 diperkirakan berlangsung normal, beberapa wilayah tetap berpotensi mengalami kekeringan berat karena curah hujan yang rendah.

Kekeringan yang melanda Pulau Jawa saat ini menimbulkan tantangan besar dalam ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan. Dengan proyeksi kekeringan yang berlanjut hingga Oktober, penting bagi pihak berwenang untuk meningkatkan upaya mitigasi dan menyediakan bantuan yang memadai untuk mengurangi dampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat.

Langkah-langkah jangka panjang dalam pengelolaan sumber daya air dan peningkatan ketahanan pertanian juga sangat diperlukan agar masa depan tidak terjebak dalam siklus kekeringan yang semakin parah.


Kolom Komentar

You must login to comment...