PanganNews.id - Oleh M. Chairul Arifin, Purnabakti Kementrian Pertanian
Sejak susu ikan bisa diproduksi dan dikomersialkan di tahun 2023 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP) serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menegah di Indonesia maka branding susu ikan sudah merupakan minuman protein turunan dari hidrolisasi protein Ikan (HPI) yang diolah dan disajikan serupa susu.
HPI merupakan hasil menggunakan ekstraksi protein ikan memanfaatkan jenis nilzai rendah seperti petek (Leiognathus solenden), selar (Ale mete, tambak (helestoma temminckii), dan ikan belok (crenimugil seheli ) dan banyak jenis lainnya.
Ikan ini banyak dijumpai pada setiap penangkapan dan banyak dibuang. Be rnilai ekonomi rendah, banyak terdapat di perairan demersal (dekat dasar lautan) dan pelagis (lebih ke permukaan) sekitar Pulau Jawa dan perairan tertentu di Indonesia.
Ikan bernilai ekonomi tinggi artinya ikan yang nilai jualnya tinggi disukai banyak konsumen dan jumlah produksi besar. Bernilai ekonomi tinggi merupakan kelompok ikan yang memiliki nilai pasaran yang tinggi atau memiliki volume produksi yabg tinggi pada sebagian besar wilayah penangkapan dan berpontensi untuk ekspor.
Susu sapi
Sedangkan susu sapi atau dari ternak lain menurut definisi yang ada adalah cairan yang diperoleh dari ternak perah yang sehat dengan cara pemerahan yang benar, terus menerus dan tidak dikurangi sesuatu dan atau ditambah kedalamnya sesuatu bahan lain.
Sehingga susu segar adalah cairan putih yang berasal dari kelenjar ambing sapi, kerbau, kambing dan domba sehat dan bersih yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar yang kandungannya alamiah tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun
Varian Susu.
Berbagai varian susu dengan kandungan air sekitar 40 % disebut evaporasi dan susu kondensasi yang dikenal sebagai susu kental manis yang kandungan air cukup banyak dan ditambahkan gula atau bahan tambahan lainnya seperti iklan di TV. Produk susu dikenal sebagai produk yang perishable, artinya cepat rusak dan basi tanpa teknologi pengawetan seperti pemanasan.
Untuk itu dikenal susu pasturisasi dengan pemanasan 100 derajat celcius untuk membunuh mikro organisme pathogen
Sedangkan susu yang dipanaskan dengan suhu 72-,75 derajat celcius selama 15 menit disebut sebagai susu High Termperatur Short Time (HTST) dan yang dipanaskan dengan suhu 63 – 65 derajat celcius selama 30 menit disebut sebagai susu Pasteurisasi Low Temperatur Long Time (LTLT). Semua teknologi membutuhkan rantai dingin untuk penyimpanannya.
Jadi sudah diketahui sekarang perbedaan antara susu ikan dan susu sapi. Susu ikan sebenarnya adalah susu analog dan bukan pengganti susu sapi karena beda proses, asal dan pengolahannya, dan
beda komposisi gizi, tetapi susu ikan adalah kelompok protein hewani yang merupakan pelengkap penting makanan bergizi di Indonesia. Tidak boleh dihambat atau dicegah existensinya terutama di daerah daerah pesisir dan bersifat lokal spesifik.
Mendatangkan 1000 ekor sapi perah tropis dari Brazil dan prinsip swasembada nutrisi
Dikabarkan bahwa Menteri Pertanian telah setuju untuk mendatangkan 1000 ekor sapi tropis ke Indonesia dalam waktu dekat. Upaya ini cukup baik untuk penganeka ragaman gizi di Indonesia yang sementara ini asupan protein hewani masih rendah.
Seandainya asupan tersebut masih tercatat dibawah angka 100 yang lebih rendah dibanding negara negara Asia lainnya terutama Singapore, dan Brunei Darusalam. Maka innovasi susu ikan oleh KKP merupakan langkah yang baik. Langlah yang baik ini tentunya merupakan langkah swasembada nutrisi bukan swasembada komoditi, diikuti dengan perhitungan biaya dan harga jual nantinya yang jatuhnya lebih murah dari susu sapi.
Menurut Budiman Sujatmiko dari tim TKN Prabowo- Gibran jatuhnya harga untuk makan siang gratis untuk susu dibandrol Rp, 6.000,- untuk susu sapi dan Rp. 5.000,- untuk susu ikan . Lebih murah bukan?
Susu ikan merupakan upaya hilirisas dan diversfikasi olahan produk perikanan yang dianggap sementara orang sebaga baui amis tetapi terdapat varian vanilla , stroberi, dan coklat yang lebih banyak disukai oleh anak anak . Selain itu kandungan gizi didalam susu ikan tidak dapat dibantah ,cukup komplit dan yang penting kandungan laktosa yang rendah sehingga bisa diminum oleh semua orang termasuk orang yang laktosa in tolerance
Hillisasi produk perikanan ini mendorong dan menumbuhkan usaha UMKM disepanjang jalur "garis pantai dikampung kampung nelayan yang terkenal banyak hidup dalam jebakan rantai kemiskinan. Perlu pengaturan dari awal agar konsep saling menguntungkan, saling percaya antara UMKM dan para nelayan dalam skema kemitraan, agar para nelayan itu tidak selamanya menjadi pekerja tetapi menjadi pengusaha UMKM tersebut. (*/Adv)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.