Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Kisah Sukses Budi Daya Kurma di Kediri yang Makin Digemari

Bagikan
Kisah sukses budi daya kurma di kediri yang makin digemari. (Foto : Antara)
Kisah sukses budi daya kurma di kediri yang makin digemari. (Foto : Antara)

Pangannews.id - Budi daya tanaman kurma di Kabupaten Kediri mulai mendapatkan perhatian yang serius dari masyarakat. Achmad Sabiqi, Koordinator Kurma Kediri, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mulai mengembangkan budi daya pohon kurma sejak lima tahun lalu.

Inisiatif ini berawal dari keinginan untuk memperkenalkan tanaman yang biasanya tumbuh di kawasan Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, ke iklim tropis Indonesia.

Menurut Achmad, tanaman kurma yang dibudidayakan di Kediri memiliki adaptasi yang cukup baik, meskipun Indonesia memiliki iklim yang berbeda dengan tempat asal kurma.

“Di Kediri, kami mulai lima tahun lalu bertani kurma. Dikembangkan dari bibit kurma yang induknya sudah berbuah di Indonesia,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara, Senin (17/3/2025).

Awalnya, bibit yang digunakan berasal dari Thailand, namun tanaman tersebut memerlukan waktu adaptasi yang cukup lama dan hasilnya tidak memadai.

Oleh karena itu, Achmad kemudian memilih bibit dari beberapa daerah di Jawa Timur seperti Pasuruan, Gresik, hingga Lamongan. Keputusan ini ternyata memberikan hasil yang lebih memuaskan.

“Empat tahun enam bulan, tanaman kurma sudah bisa berbuah dua kali,” katanya.

Saat ini, terdapat beragam jenis pohon kurma yang dibudidayakan, seperti Lala, Sukari, dan beberapa jenis lainnya. Meskipun terlihat mudah, budi daya kurma memerlukan perhatian dan ketelatenan yang lebih, mirip dengan merawat tanaman salak atau kelapa sawit.

Perawatan menjadi kunci utama untuk memastikan tanaman dapat tumbuh dengan optimal, terutama ketika mulai berbunga. Achmad menambahkan, penting untuk bisa membedakan bunga jantan dan betina, karena kedua bunga tersebut harus dikawinkan agar buah bisa berkembang dengan sempurna.

Selain itu, salah satu tantangan utama dalam budi daya kurma adalah hama yang sering menyerang tanaman. Kumbang Wawung (kumbang badak), misalnya, dikenal sebagai penyuka pucuk tanaman kurma dan jika dibiarkan dapat menyebabkan tanaman mati.

Untuk mengatasi hal tersebut, Achmad menggunakan pestisida organik dengan daun-daun beracun seperti tembakau dan gadung, yang terbukti efektif untuk mengendalikan hama tersebut.

Tak hanya itu, Achmad juga mengungkapkan bahwa peminat kurma di Indonesia kini semakin meningkat. Komunitas pecinta tanaman kurma yang ia kelola sudah mencapai lebih dari 3.500 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.

Seiring dengan semakin banyaknya peminat, penjualan buah kurma pun terbilang lancar, dengan harga mencapai Rp300.000 per kilogram. Kebanyakan transaksi terjadi secara daring, dan sering kali didominasi oleh konsumen yang membeli kurma untuk kesehatan, seperti mereka yang setelah operasi atau memiliki masalah kesehatan tertentu, serta pasangan yang ingin memiliki keturunan.

Selain itu, Achmad juga aktif memberikan pendampingan kepada siapa saja yang ingin belajar budi daya kurma di Pusat Edukasi Kurma yang terletak di Desa Gondang, Kecamatan Plosoklaten.

“Kami ingin agar semakin banyak yang tertarik untuk membudidayakan tanaman ini, karena prospek usaha sangat jelas,” ujarnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal