Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Produktivitas Kakao Merosot, BRIN Dorong Transformasi dari Hulu

Bagikan
Produktivitas kakao merosot, BRIN dorong transformasi dari hulu. (Foto : Kementan)
Produktivitas kakao merosot, BRIN dorong transformasi dari hulu. (Foto : Kementan)

Pangannews.id - Di balik gelar sebagai salah satu produsen kakao terbesar dunia, Indonesia justru menghadapi krisis produktivitas yang semakin parah.

Dalam lima tahun terakhir, hasil panen kakao terus menurun, bahkan di beberapa wilayah seperti Sulawesi Tengah hanya mencapai 100 kg per hektare per tahun. Angka ini jauh dari potensi idealnya yang bisa menyentuh 2 ton.

Penyebabnya? Bukan cuaca ekstrem atau hama semata, tapi lebih kepada sistem perbenihan nasional yang belum kokoh.

Menjawab tantangan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Cocoa Sustainability Partnership (CSP) membangun sinergi baru untuk mengembangkan sistem perbenihan kakao berbasis riset dan varietas unggul.

Fokusnya adalah memperkuat fondasi dari hulu agar petani tidak terus bergantung pada benih seadanya.

“Produktivitas kakao nasional jeblok karena petani belum bisa mengakses benih unggul secara luas,” ungkap Ismet Khaeruddin, Ketua Dewan Umum Anggota CSP, dalam Lokakarya Nasional Benih Kakao untuk Kesejahteraan Masyarakat di BRIN Bogor, seperti dikutip dari laman resmi BRIN.

Menurutnya, hampir 98 persen kebun kakao dikelola oleh petani kecil, tapi akses mereka terhadap bahan tanam berkualitas masih sangat terbatas.

Akibatnya, siklus regenerasi pohon kakao tersendat, dan petani terjebak dalam lingkaran produksi rendah dan pendapatan minim.

“Benih unggul bukan hanya soal varietas, tapi soal aksesibilitas dan keterjangkauan. Petani tidak bisa menunggu. Jika kita serius ingin membangun industri, ini harus dimulai dari akar,” tegas Ismet.

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto, menekankan bahwa keberlanjutan industri kakao tidak bisa dibangun tanpa riset dan inovasi.

Ia menyebut, kebun induk varietas unggul adalah kunci awal membenahi ekosistem agribisnis kakao yang saat ini masih rapuh.

“Indonesia punya potensi besar, tapi belum dimanfaatkan optimal. Sistem perbenihan yang kolaboratif dan berbasis data ilmiah adalah fondasi produktivitas jangka panjang,” ujar Setiari.

Senada dengan itu, Rubiyo, Peneliti Ahli Utama BRIN, memaparkan bahwa kualitas bahan tanam menyumbang 70% keberhasilan budidaya kakao.

Ia menyebut pemuliaan varietas membutuhkan proses panjang, mulai dari seleksi induk, uji adaptasi, hingga pengujian di berbagai lokasi.

BRIN telah merilis beberapa varietas unggul seperti BB1 untuk produksi serta RHS1 dan RHS2 sebagai batang bawah, yang dirancang sesuai standar mutu International Cocoa Organization (ICCO).

“Ini bukan soal melepas varietas, tapi bagaimana inovasi itu benar-benar sampai ke tangan petani,” tegas Rubiyo.

Ekspor Naik, Impor Bahan Baku Juga Naik

Meski produk olahan kakao Indonesia menunjukkan kinerja ekspor positif, sektor hulunya justru terancam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan luas lahan dan volume produksi kakao nasional.

Sementara itu, kebutuhan bahan baku dalam negeri meningkat, mendorong impor meski negara masih tercatat sebagai produsen utama.

“Ini paradoks. Kita ekspor cokelat, tapi bahan bakunya impor. Artinya, ada yang salah di hulu,” ujar Widiastuti, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian, yang hadir sebagai keynote speaker.

Menurutnya, pembenahan harus dilakukan mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan tanaman, dengan mengadopsi Good Agricultural Practices (GAP) dan teknologi terbaru.

Ia juga menekankan pentingnya koneksi langsung antara petani dan industri hilir agar nilai tambah tidak berhenti di pabrik.

Lokakarya ini tak hanya menjadi ajang temu pemangku kepentingan, tetapi juga menjadi titik strategis untuk menyusun peta jalan kakao berkelanjutan Indonesia.

Panel-panel kebijakan yang digelar menghadirkan pandangan lintas lembaga, mulai dari Kementerian Pertanian, Bappenas, hingga Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal