Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

IDAI: Minum Obat Cacing Perlu Konsultasi Dokter, Bukan untuk Konsumsi Rutin

Bagikan
IDAI: Minum obat cacing perlu konsultasi dokter, bukan untuk konsumsi rutin. (Foto : Pixabay)
IDAI: Minum obat cacing perlu konsultasi dokter, bukan untuk konsumsi rutin. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Konsumsi obat cacing bagi anak maupun orang dewasa tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Riyadi, SpA, Subsp. IPT(K), M.Kes menegaskan bahwa pemberian obat tersebut sebaiknya dilakukan hanya jika terdapat gejala infeksi dan atas anjuran dokter.

"Kalau memang ada gejala, ada indikasi, tentu boleh. Tapi jangan lupa, namanya minum obat itu harus dengan saran dokter," ujar dr. Riyadi dalam sebuah webinar, Jumat (23/8/2025).

Ia menekankan bahwa obat cacing merupakan antimikroba yang memiliki efek terhadap mikroorganisme di tubuh. Karena itu, konsumsinya tidak boleh dilakukan secara berlebihan atau dijadikan kebiasaan rutin tanpa pemeriksaan medis terlebih dahulu.

Beberapa gejala umum dari infeksi cacing, menurut Riyadi, di antaranya batuk berkepanjangan seperti gejala infeksi paru-paru, mual, penurunan nafsu makan, kesulitan buang air besar, serta peningkatan kadar eosinofil (sel darah putih) dalam hasil tes darah.

Meski obat cacing yang beredar di pasaran relatif aman, namun tetap ada efek samping meski tidak terlalu signifikan. Oleh karena itu, penting untuk mengikuti dosis dan anjuran medis.

Saat ini, obat cacing yang umum digunakan meliputi Albendazol, Mebendazol, dan Pirantel Pamoat. Seluruhnya bisa digunakan untuk mengatasi berbagai jenis cacing seperti cacing pita, cacing gelang, dan cacing isap.

Untuk anak usia 12–24 bulan, WHO merekomendasikan dosis Albendazol sebesar 200 mg dalam dosis tunggal. Sementara untuk anak di atas dua tahun dan orang dewasa, dosis meningkat menjadi 400 mg. Obat Mebendazol, dengan dosis 500 mg, hanya diberikan untuk anak usia dua tahun ke atas dan dewasa.

Untuk bayi di bawah satu tahun, pilihan yang disarankan adalah Pirantel Pamoat dengan dosis 10–11 mg per kilogram berat badan, dan maksimal 1 gram.

“Obat cacing akan lebih efektif bila dikonsumsi dalam kondisi perut kosong,” tambah Riyadi.

Pemberian obat cacing juga dapat dilakukan dalam rangka pencegahan, terutama di wilayah dengan prevalensi kecacingan tinggi. Bila suatu daerah memiliki angka kecacingan lebih dari 20 persen, anak-anak usia sekolah dan prasekolah minimal harus mendapatkan satu hingga dua kali Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) setiap tahun.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023, sekitar 1,5 miliar orang di seluruh dunia mengalami kecacingan. Infeksi paling umum berasal dari cacing yang menular melalui tanah, yang menjadi media utama siklus hidup parasit tersebut.

Baru-baru ini, kasus kecacingan yang mengejutkan publik terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Seorang anak berinisial RY (4) meninggal dunia pada 22 Juli 2025 setelah tim medis menemukan cacing hidup seberat hampir satu kilogram di dalam tubuhnya, bahkan sebagian sudah menjalar ke otak.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal