Pangannews.id - Kenaikan harga gabah di tingkat petani membuat pedagang di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, merugi. Biaya modal yang tinggi tak sebanding dengan daya serap pasar terhadap beras premium, hingga banyak pedagang menanggung kerugian sampai puluhan juta rupiah.
Harga gabah yang kini bertengger di kisaran Rp8.200 per kilogram (kg) memicu lonjakan harga beras premium di tingkat grosir. Untuk bisa mendapatkan pasokan, pedagang harus merogoh kocek hingga Rp14.000 per kg.
Setelah dihitung dengan ongkos distribusi dan operasional, harga jual ideal berada di atas Rp15.000 per kg, angka yang sulit diterima pasar dan melampaui harga eceran tertinggi (HET) di sejumlah zona.
“Saya pernah jual rugi sampai Rp12.800 per kilo. Kalau kerugian per kilo Rp2.000 dan penjualan berton-ton, bisa tekor sampai Rp40 juta,” ungkap Abdul Malik (45), pedagang yang sudah berjualan di PIBC sejak 15 tahun lalu, Senin (8/9/2025), dikutip dari Antara.
Abdul mengaku dilema, karena di tengah harga tinggi, kualitas beras yang diperoleh justru tidak selalu sebanding. Beberapa beras premium yang dibelinya memiliki kondisi fisik remuk, namun tetap dibanderol mahal oleh pemasok.
Di sisi lain, fluktuasi permintaan memperparah tekanan. Menurutnya, pasar bisa ramai hari ini, namun bisa sepi total keesokan harinya. Ketidakpastian itu membuat banyak pedagang memilih menyimpan stok daripada menjual dengan potensi rugi lebih besar.
Suyatno (52), pedagang lain di lokasi yang sama, menilai persoalan harga tak lepas dari pola panen yang tak seragam di tingkat petani. Ia menyebut kondisi tersebut membuka celah permainan harga yang pada akhirnya merugikan pedagang di hilir.
“Panen yang tidak serentak bikin harga gampang dimainkan. Pemerintah jangan hanya mengawasi kami di pasar, tapi juga perhatikan pola produksi di hulu,” ujar Suyatno.
Ia menambahkan, rata-rata harga beli beras premium dari sentra produksi kini menyentuh Rp14.500 per kg. Jika dijual dengan margin tipis sekalipun, harganya tetap sulit turun dari angka Rp15.000 per kg.
Hal ini membuat banyak pedagang kebingungan menentukan harga jual. Menjual terlalu tinggi berisiko tidak laku, sementara menjual lebih murah berarti menanggung kerugian. Alhasil, sebagian besar memilih menyimpan stok hingga situasi membaik.
“Barangnya ada, tapi banyak yang pilih simpan karena khawatir rugi. Kalau nekat jual, harganya tinggi atau malah merugi,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), per 8 September 2025, harga beras premium di tingkat konsumen berada di angka Rp15.733 per kg. Angka ini sudah melampaui HET nasional untuk zona 1 (Rp14.900) dan zona 2 (Rp15.400), serta hanya sedikit di bawah HET zona 3 (Rp15.800).
Perbedaan harga ini dikhawatirkan mendorong konsumen beralih ke beras medium, yang saat ini dipatok rata-rata Rp13.759 per kg. Jika tren ini terus berlanjut, pedagang beras premium akan semakin tertekan dan potensi kerugian makin besar.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.