Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Uang Kertas Terancam? Peneliti Ini Ungkap Peluang dan Tantangan Transaksi Digital Produk Pertanian di Pedesaan

Bagikan
“Ilustrasi” jual beli produk pertanian. (Foto: iStockphoto)
“Ilustrasi” jual beli produk pertanian. (Foto: iStockphoto)

Pangannews.id - Seorang peneliti bernama Kate Ambler berpendapat bahwa transaksi digital atau pembayaran jual-beli melalui ponsel/smartphone semakin dilirik di sektor pangan.

 Lembaga riset internasional International Food Policy Research Institute (IFPRI) melalui peneliti Kate Ambler memaparkan hasil kajian di Ethiopia, Kenya, Nigeria, dan Tanzania tentang cara memperluas pemakaian pembayaran digital di rantai pasok pangan (IFPRI, 2025).

“Pembiayaan digital dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, dan ketangguhan perusahaan perantara agrifood. Inovasi ini juga membantu produsen dan konsumen. Petani kecil diuntungkan oleh penurunan biaya transaksi dan menerima harga lebih tinggi; pada saat yang sama, mata rantai yang lebih efisien, transparan, dan tangguh dapat menghasilkan harga lebih rendah bagi konsumen,” kata Kate Ambler, dikutip dari situs resmi IFPRI, Senin, 22 September 2025.

Ambler menyebut dua hambatan utama: jaringan digital di desa yang masih lemah dan kebiasaan orang bertransaksi tunai.

 “Dua hambatan utama adopsi pembayaran digital untuk bisnis adalah terbatasnya cakupan jaringan digital di pedesaan dan preferensi kuat untuk pembayaran tunai,” ujarnya.

Di Nigeria, ketakutan terhadap penipuan dan biaya agen tinggi juga menjadi penghalang. Survei 2023 memperkirakan 2,3 juta pengguna pernah ditipu agen uang seluler (IFPRI, 2025).

Masalah lain menurut Ambler adalah minimnya pengetahuan digital dan keuangan. Program yang berhasil biasanya membuka rekening sekaligus memberi pelatihan keuangan yang ramah gender (IFPRI, 2025).

Laporan IFPRI juga menunjukkan ada peluang. Pemerintah bisa mendorong lewat kebijakan, seperti Rwanda dengan program Vision 2050 dan Kenya dengan M-PESA dan Connected Farmer. Perusahaan juga bisa memulai, Kenya Nut Company, misalnya, berhasil menghemat biaya dan mempercepat pembayaran pemasok setelah memakai sistem pembayaran digital (IFPRI, 2025).

Ambler menulis, digitalisasi perusahaan perantara pangan bisa mempercepat pembayaran, membuatnya lebih aman, dan membuka akses pembiayaan. Survei lebih fokus sedang disiapkan IFPRI untuk memahami hambatan tiap pelaku, agar inovasi layanan keuangan digital lebih tepat sasaran (IFPRI, 2025).

Editor: Mahipal

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal