Jumat, 26 September 2025 18:17 WIB
Pangannews.id - Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus meluas dan kini tercatat menimpa 6.452 orang. Padahal, program yang dirancang pemerintah untuk meningkatkan gizi anak sekolah sekaligus memperkuat kualitas pendidikan ini semula dipandang sebagai langkah positif.
Lonjakan korban justru menjadi alarm keras adanya persoalan serius dalam tata kelola pangan, distribusi, hingga pengawasan.
Pakar kesehatan masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. dr. Merita Arini, menilai MBG pada dasarnya merupakan program yang baik dan patut dilanjutkan. Namun, kasus keracunan massal menunjukkan banyak aspek yang belum siap dan harus segera dibenahi.
“Tujuan MBG ini sangat bagus. Banyak penelitian membuktikan program makan siang di sekolah berdampak positif, mulai dari kontrol nutrisi hingga peningkatan prestasi siswa. Tetapi ketika muncul kasus keracunan hingga ribuan orang, ini jelas menimbulkan keprihatinan. Artinya ada hal besar yang perlu kita evaluasi, baik dalam pengawasan, distribusi makanan, maupun keterlibatan masyarakat,” ujarnya, dikutip dari umy.ac.id pada Jum’at, 26 September 2025.
Merita menjelaskan, penyebab utama keracunan massal umumnya bukan karena makanan sengaja diracuni, melainkan akibat kontaminasi. Kontaminasi dapat berasal dari bakteri, virus, jamur, atau parasit yang menempel pada makanan, peralatan, maupun wadah distribusi.
Produk pangan yang tidak segar, terutama produk hewani seperti ikan atau kerrang lebih berisiko menghasilkan zat beracun yang memicu keracunan.
“Produk hewani yang terlalu lama disimpan bisa mengandung histamin tinggi. Karena itu rantai pengadaan harus ketat: bahan pangan segar, proses higienis, alat steril, dan distribusi jangan terlalu panjang,” jelasnya.
Dalam penanganan kasus, ia menekankan pentingnya masyarakat segera membawa pasien dengan gejala keracunan ke fasilitas kesehatan. Gejala bisa bervariasi mulai dari mual ringan hingga muntah hebat, diare, sesak napas, bahkan kejang.
“Kalau gejalanya ringan, tetap harus diperiksa. Tapi kalau sudah tanda bahaya, pasien harus segera dibawa ke IGD. Selain itu, kasus harus dilaporkan ke puskesmas agar ada investigasi dan pencegahan lebih lanjut,” tambahnya.
Lebih jauh, Merita menyoroti perlunya pengawasan MBG yang tidak hanya mengandalkan dapur produksi. Pilar lain seperti perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta edukasi bagi guru, siswa, hingga petugas dapur harus diperkuat.
“Program MBG hanya akan berhasil kalau semua pilar dijalankan. SOP dapur harus ketat, bahan baku harus fresh dan dikontrol pengawas berkompeten. Kalau itu dijalankan, risiko keracunan bisa ditekan,” terangnya.
Ia juga menegaskan pentingnya keterlibatan publik dalam memantau, melaporkan, dan mengevaluasi jalannya program MBG agar tidak hanya bersifat top-down.
“Selama ini masyarakat cenderung dibatasi, padahal peran masyarakat sangat penting. Program ini harus partisipatif supaya semua merasa ini program bersama,” tegasnya.
Editor: Adi Permana
Senin, 11 Mei 2026 14:05 WIB
Minggu, 10 Mei 2026 09:33 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...