Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Nutrisi, Pakan, dan Stres: Tiga Faktor yang Bedakan Daging Sapi Lokal dan Impor

Bagikan
Perbedaan daging sapi impor dan lokal. (Foto : Pixabay)
Perbedaan daging sapi impor dan lokal. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Perbedaan kualitas antara daging sapi lokal dan impor ternyata tidak hanya bergantung pada asal negara, melainkan juga pada faktor perawatan, jenis pakan, dan cara pemotongan.

Hal ini disampaikan Ahli Gizi Olahraga Emilia Achmadi, lulusan Universitas Oklahoma. Menurutnya, kandungan protein antara daging sapi lokal dan impor sebenarnya tidak jauh berbeda.

Namun, kadar lemak di antara keduanya bisa bervariasi secara signifikan tergantung pada pola pemeliharaan dan jenis pakan yang diberikan.

“Kalau dari sisi protein tidak terlalu banyak berbeda, tapi dari jumlah lemaknya bisa saja sangat berbeda,” ujar Emilia, seperti dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, sapi yang dirawat dengan baik akan tumbuh optimal dengan berat mencapai sekitar 500 kilogram dan menghasilkan daging lebih banyak serta berkualitas. Perawatan yang tepat juga meningkatkan kandungan protein di dalam daging.

Selain itu, jenis pakan menjadi faktor penentu lainnya. Sapi yang diberi makan rumput segar (grass fed) memiliki kadar omega-3 lebih tinggi dibandingkan sapi yang diberi pakan biji-bijian (grain fed).

“Lemak esensialnya berbeda. Sapi yang makan rumput segar cenderung memiliki kandungan omega-3 yang lebih tinggi, sehingga disebut sebagai daging merah yang lebih sehat,” jelas Emilia.

Ia menambahkan, daging sapi dengan pakan alami juga mengandung conjugated linoleic acid (CLA), sejenis lemak jenuh yang bermanfaat untuk membantu tubuh memproduksi energi, terutama bagi orang yang aktif berolahraga.

Namun demikian, Emilia mengingatkan bahwa cara memasak juga sangat memengaruhi kualitas akhir daging. Daging dengan kualitas rendah atau yang kurang lembut akan sulit diolah menjadi hidangan seperti steak.

Di sisi lain, Chef Owner Silk Bistro, Freedie Salim, menilai bahwa keunggulan daging sapi impor, khususnya dari Australia, tidak hanya berasal dari pakan, tetapi juga dari perlakuan terhadap hewan sejak kecil.

“Sapi di Australia dipelihara di padang rumput organik dekat laut dan dijauhkan dari stres agar dagingnya tetap empuk,” kata Freedie.

Menurutnya, bahkan menjelang proses pemotongan, sapi-sapi tersebut diberi waktu beristirahat untuk meminimalkan stres.

Proses penyembelihan dilakukan dengan teknologi stun, yaitu membuat sapi tidak sadarkan diri seketika sebelum dikuliti dan dipotong, sehingga tidak menimbulkan ketegangan pada otot hewan.

Berbeda dengan di Indonesia, pemotongan sapi dilakukan berdasarkan tata cara keagamaan yang membutuhkan prosedur tertentu.

Meskipun sesuai dengan aturan ibadah, metode tersebut terkadang menyebabkan sapi mengalami stres sebelum disembelih.

“Begitu sapi langsung dibabat tanpa proses tenang, ototnya jadi tegang dan daging menjadi keras,” ujar Freedie.

Ia menambahkan, sebagian besar sapi di Indonesia juga lebih sering diikat di satu tempat ketimbang dilepas di padang rumput seperti di luar negeri. Faktor ini turut memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan.

“Perbedaan kualitas daging tidak hanya dari cara potong, tapi juga dari pakan, lingkungan, dan perawatan sapinya,” pungkasnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal