Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Zulhas: Nilai Tukar Petani Tembus 124,36, Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir

Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam acara Townhall Satu Tahun Kinerja Kemenko Pangan di Jakarta, Selasa (21/10/2025). (Foto: Instagram @kemenkopangan.ri)
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam acara Townhall Satu Tahun Kinerja Kemenko Pangan di Jakarta, Selasa (21/10/2025). (Foto: Instagram @kemenkopangan.ri)

Pangannews.id - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan, kenaikan produksi beras nasional hingga 12,4 persen telah mendorong perbaikan pendapatan petani di berbagai daerah.

“Nilai tukar petani kita naik dari 116 menjadi 124,36. Ini tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Zulkifli dalam acara Townhall Satu Tahun Kinerja Kemenko Pangan di Jakarta, Selasa (21/10/2025).

Menurutnya, lonjakan produksi yang menghasilkan surplus beras 4 juta ton bukan hanya menandai keberhasilan pemerintah menekan impor, tetapi juga membawa dampak nyata bagi kesejahteraan para pelaku usaha tani.

Zulhas menjelaskan, petani kini menikmati keuntungan lebih besar berkat meningkatnya harga gabah kering panen (GKP) yang stabil di atas Rp6.500 per kilogram. Sebelumnya, harga gabah hanya berada di kisaran Rp6.000.

“Harga gabah sekarang tidak ada di bawah Rp6.500, bahkan ada yang lebih tinggi. Artinya petani mendapatkan margin yang lebih baik. Produksi naik 13 persen, surplus 4 juta ton, petani tambah untung,” ujarnya.

Kondisi ini disebut sebagai cerminan dari membaiknya rantai pasok dan efisiensi distribusi yang dikoordinasikan oleh Kemenko Pangan bersama kementerian terkait.

Zulhas menilai, stabilitas harga di tingkat petani menjadi faktor penting dalam memperkuat motivasi produksi sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional. “Petani harus untung, baru sistem pangan bisa berkelanjutan,” katanya.

Peningkatan kesejahteraan petani, kata dia, tidak lepas dari koordinasi lintas sektor yang dilakukan Kemenko Pangan. Pemerintah berhasil menekan impor beras dari 4,52 juta ton tahun lalu menjadi nol persen pada 2025.

Ia menegaskan, keberhasilan ini merupakan hasil kerja bersama antara Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, Bulog, dan pemerintah daerah dalam menjaga produksi serta memastikan harga di tingkat petani tetap menguntungkan.

“Kemenko Pangan berperan sebagai pengatur kebijakan agar semua kementerian bergerak seirama. Dari produksi, distribusi, hingga harga, semuanya kami pastikan berpihak kepada petani,” jelasnya.

Selama satu tahun kepemimpinannya, Kemenko Pangan telah mengoordinasikan 7 Instruksi Presiden (Inpres), 6 Peraturan Presiden (Perpres), 3 Keputusan Presiden (Keppres), dan 2 Peraturan Pemerintah (PP).

Sebagian besar kebijakan itu diarahkan untuk memperkuat kemandirian pangan, menekan ketimpangan harga, serta meningkatkan ekonomi petani.

“Petani adalah ujung tombak. Kalau mereka kuat, pangan kita pasti kuat. Kita tidak hanya bicara angka produksi, tapi kesejahteraan orang-orang di baliknya. Petani yang dulu merugi, sekarang bisa tersenyum,” pungkas Zulhas.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal