Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Banda Neira Dipilih Jadi Kawasan Percontohan Sinergi Ekologi dan Budaya Maritim

Bagikan
Banda Neira dipilih jadi kawasan percontohan sinergi ekologi dan budaya maritim. (Foto : kemenpar.go.id)
Banda Neira dipilih jadi kawasan percontohan sinergi ekologi dan budaya maritim. (Foto : kemenpar.go.id)

Pangannews.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan Banda Neira, Maluku, sebagai kawasan percontohan pengelolaan laut terpadu yang menggabungkan konservasi, arkeologi, dan budaya maritim.

Program Laut untuk Kesejahteraan (Lautra) ini dirancang untuk mengubah potensi bahari Indonesia menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menjelaskan bahwa Banda Neira dipilih sebagai kawasan prioritas karena memiliki keunikan berupa kekayaan hayati laut yang tinggi serta nilai sejarah dan budaya yang mendalam.

“Kami ingin membangun model pengelolaan laut yang tidak hanya berorientasi pada kelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Koswara dalam keterangan di Jakarta, Senin (27/10/2025).

Kawasan ini akan dikembangkan sebagai laboratorium ekonomi pesisir yang menyeimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Program Lautra sendiri mencakup 11 provinsi, 20 kawasan konservasi, dan tiga wilayah pengelolaan perikanan dengan total luas mencapai 8,3 juta hektare.

Melalui pendekatan lintas sektor, program ini ditargetkan memberikan manfaat langsung bagi lebih dari 75 ribu warga pesisir, termasuk 30 persen di antaranya kelompok perempuan.

Sebagai pusat pengembangan ekonomi pesisir berkelanjutan, Banda Neira akan diarahkan menjadi kawasan yang mampu memadukan kekayaan alam dengan nilai-nilai sejarah dan budaya lokal.

KKP bersama mitra akademik tengah mengembangkan beragam inisiatif, mulai dari diversifikasi ekowisata berbasis sejarah dan bahari, pembentukan koperasi wisata maritim, pembangunan infrastruktur ekonomi lokal seperti dermaga wisata dan museum budaya laut, hingga pelatihan masyarakat menjadi pemandu wisata dan pendongeng budaya bersertifikat.

Pendekatan ini diharapkan menciptakan ekosistem ekonomi biru yang memberi manfaat langsung bagi warga sekaligus menjaga warisan maritim Indonesia.

Direktur Jasa Bahari Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP, Enggar Sadtopo, menambahkan bahwa pembiayaan program dilakukan melalui tiga skema hibah, mulai dari micro grant senilai Rp150 juta hingga matching grant sebesar Rp1,25 miliar.

“Kami ingin memastikan ekonomi tumbuh tanpa merusak laut. Prinsip keberlanjutan tetap menjadi pijakan utama setiap program,” katanya.

Dukungan terhadap inisiatif ini juga datang dari kalangan akademisi. Rektor Universitas Banda Neira, Muhammad Farid, menyebut Banda Neira sebagai “laboratorium hidup” bagi pembangunan pesisir berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Sementara, Kastana Sapanli dari IPB University menilai Banda Neira memiliki potensi luar biasa karena berada di kawasan coral triangle dan bagian dari spice islands, wilayah yang sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia.

Kombinasi potensi ekologis dan historis ini, menurutnya, sangat ideal untuk pengembangan wisata bahari seperti eco-diving, heritage spice tourism, hingga agrowisata pala.

Editor : Adi Permana

 

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal