Kopi, Madu, dan Lidi Nipah: Hasil Hutan Kaltim yang Menembus Pasar Global

Pers Pangannews

Selasa, 04 November 2025 20:24 WIB

news
Kopi liberika. (Foto : FNB Coffee)

Pangannews.id - Dari tangan-tangan petani hutan Kalimantan Timur (Kaltim), produk-produk unggulan seperti kopi Liberika, madu kelulut, hingga lidi nipah kini mulai menembus pasar global.

Di balik keberhasilan ini, Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim memainkan peran melalui program Perhutanan Sosial yang membina 328 Kelompok Tani Hutan (KTH) di seluruh wilayah provinsi.

Program yang telah berjalan sejak 2016 itu turut membangun kemandirian ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan.

Kepala Bidang Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Dishut Kaltim, M. Gozali Rahman, menyebutkan luas kawasan perhutanan sosial di Kaltim kini mencapai 330 ribu hektare, yang diisi berbagai kegiatan produktif masyarakat.

“Fokus kami adalah mengalihkan masyarakat dari hasil kayu ke hasil hutan bukan kayu. Hasilnya cukup menggembirakan, karena kini beberapa produk sudah mampu menembus pasar ekspor,” ujarnya.

Salah satu komoditas yang menjadi kebanggaan Kaltim adalah kopi Liberika dari Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur. Dikelola oleh KTH setempat, kopi jenis ini tumbuh di lahan perhutanan sosial yang semula hanya semak belukar.

Melalui pendampingan Dishut, kelompok tani berhasil mengembangkan kebun kopi yang kini menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Rasa khas Liberika yang sedikit asam dengan aroma buah membuatnya diminati pasar domestik dan mulai merambah permintaan ekspor.

“Kami terus bantu promosi dan pemasaran. Kopi ini tidak kalah kualitasnya dari daerah lain,” kata Gozali.

Selain kopi, madu kelulut juga menjadi produk unggulan KTH di berbagai kabupaten. Lebah kelulut, yang hidup di batang pohon dan tidak menyengat, menghasilkan madu dengan cita rasa asam manis alami yang khas.

Produksi madu ini tidak hanya memberikan tambahan penghasilan bagi petani, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem hutan karena mendorong pelestarian pohon inang dan vegetasi alami.

“Madu kelulut kini menjadi komoditas yang paling banyak diusahakan KTH. Hampir di seluruh kabupaten sudah berjalan,” jelas Gozali.

Produk madu dari beberapa daerah, seperti Kutai Kartanegara dan Berau, bahkan telah dipasarkan ke luar Kalimantan melalui jejaring e-commerce dan pameran nasional.

Capaian terbesar datang dari produk lidi nipah, hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang diolah dari daun nipah di kawasan pesisir, terutama wilayah Anggana dan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Produk ini telah berhasil menembus pasar ekspor, menjadi bahan baku pembuatan perabot dan aksesori ramah lingkungan di beberapa negara Asia dan Eropa.

Keberhasilan ini tidak lepas dari program pemberdayaan berbasis silvopastura, yakni integrasi antara pengelolaan hutan mangrove dengan usaha produktif masyarakat seperti tambak, peternakan, dan kerajinan.

“Lidi nipah ini jadi contoh bagaimana hasil hutan nonkayu bisa bernilai tinggi jika diolah dengan inovasi,” ujar Gozali.

Kutai Kartanegara menjadi daerah dengan jumlah KTH terbanyak di Kaltim, disusul Kutai Timur dan Berau. Sebagian besar kelompok kini berfokus pada pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi, baik untuk kebutuhan lokal maupun pasar ekspor.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...