Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Tekan Pemborosan Pangan, Bapanas Gandeng Ritel hingga Bank Pangan

Bagikan
Tekan pemborosan pangan, Bapanas gandeng ritel hingga bank pangan. (Foto : Unsplash)
Tekan pemborosan pangan, Bapanas gandeng ritel hingga bank pangan. (Foto : Unsplash)

Pangannews.id - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyoroti tingginya tingkat pemborosan pangan di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan estimasi global menunjukkan sekitar 31 persen pangan hilang sepanjang rantai pasok, baik dalam bentuk food loss pada tahap produksi dan distribusi, maupun food waste di tingkat konsumen.

Kondisi tersebut dinilai mengancam upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Karenanya, Bapanas mendorong perluasan Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) yang sejak 2022 telah dijalankan di berbagai daerah.

Hingga saat ini, gerakan tersebut berhasil menyelamatkan lebih dari 224 ton pangan layak konsumsi dan menyalurkannya kepada lebih dari 456 ribu penerima manfaat di 17 provinsi.

Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy mengatakan, penyelamatan pangan bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi upaya menjaga kemandirian pangan. Ia menegaskan, perlu Kerjasama semua pihak agar pangan tidak terbuang percuma akibat pola konsumsi atau distribusi yang tidak efisien.

“Pencegahan food loss dan food waste ini memerlukan kerja sama semua pihak. Pangan yang masih layak seharusnya bisa dimanfaatkan, bukan dibuang,” ujar Sarwo.

Untuk itu, Bapanas menggandeng pelaku ritel, UMKM, pemerintah daerah, hingga bank pangan sebagai mitra distribusi.

Dukungan logistik seperti food truck dan mobil berpendingin turut disiapkan agar pangan dapat tiba di tangan masyarakat rentan dalam kondisi baik.

Selain penyaluran fisik, Bapanas mengembangkan sistem pelaporan digital melalui platform “Stop Boros Pangan” di sbp.badanpangan.go.id. Melalui sistem ini, pelaku usaha maupun masyarakat dapat melaporkan stok pangan berlebih dan berpartisipasi dalam penyelamatan.

Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi Bapanas Nita Yuliani mengatakan Indonesia berada di jalur yang sesuai untuk memenuhi target pengurangan limbah pangan dalam RPJMN dan komitmen SDGs 12.

Namun, tantangan berikutnya adalah memperluas jangkauan hingga menyentuh lebih banyak titik distribusi pangan.

“Ritel dan komunitas berada di garis depan dalam mengubah pola konsumsi. Kolaborasi perlu diperkuat agar penyelamatan pangan dapat berjalan lebih masif,” kata Nita.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal