Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Petani Badui Sambut Suburnya Ladang Huma di Musim Hujan

Bagikan
Petani perempuan warga Badui di hutan Blok Cicuraheum Kecamatan Gunungkencana Kabupaten Lebak tengah memanen padi huma guna penuhi ketersediaan masyarakat adat. (Foto : ANTARA/Mansur)
Petani perempuan warga Badui di hutan Blok Cicuraheum Kecamatan Gunungkencana Kabupaten Lebak tengah memanen padi huma guna penuhi ketersediaan masyarakat adat. (Foto : ANTARA/Mansur)

Pangannews.id - Curah hujan yang kembali meningkat di pedalaman Kabupaten Lebak membawa kabar gembira bagi para petani Badui. Sejumlah petani di wilayah adat tersebut melaporkan tanaman padi huma yang mereka garap mulai menunjukkan pertumbuhan yang baik setelah lebih dari sebulan ditanam.

Santa (55), salah satu petani Badui, mengatakan kesuburan tanaman kali ini memberi harapan baru bagi keluarga mereka.

“Kami berharap padi huma bisa tumbuh bagus sampai panen, supaya pangan keluarga tercukupi dan ekonomi membaik,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Selain padi huma, berbagai tanaman lain yang ditanam secara tumpang sari, mulai dari jagung, pisang, kencur, jahe, hingga cabai dan sayuran, juga ikut tumbuh subur.

Menurut Santa, satu hektare ladang yang mereka kelola diharapkan dapat menghasilkan panen beragam komoditas tersebut.

Sistem pertanian ladang memang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Badui sejak lama.

Mereka membagi pola tanam berdasarkan masa panen. Ada yang dipetik tiga bulan sekali seperti sayuran, jagung, dan kacang tanah; ada pula komoditas tahunan seperti jahe dan kencur.

Tanaman kayu seperti albasia bahkan baru bisa dipanen lima tahun sekali. Sementara padi huma, komoditas pokok masyarakat Badui, umumnya dipanen setiap enam bulan.

“Dari ladang inilah ekonomi kami terbantu. Pangan juga selalu ada,” kata Santa.

Senada dengan itu, Sudin (50) dan Kubil (45), dua petani lain, mengaku ladang huma seluas satu hektare yang mereka kelola di lahan dua hektare sewaan juga berkembang baik pada musim hujan kali ini.

Mereka menyebut sistem tumpang sari yang diwariskan turun-temurun terbukti menjaga keberlanjutan pangan keluarga.

“Puluhan tahun kami menggarap ladang. Dari situ kebutuhan rumah tangga tercukupi,” ujar Sudin.

Pemerintah daerah membenarkan bahwa ketahanan pangan masyarakat Badui sangat kuat berkat tradisi bercocok tanam tersebut.

Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menjelaskan bahwa masyarakat Badui tidak pernah terdampak kerawanan pangan karena memiliki cadangan gabah yang tersimpan di ribuan leuit atau lumbung pangan.

Ia merinci terdapat sekitar 8.000 leuit milik 4.000 keluarga Badui dengan total penduduk 13.309 jiwa. Jika satu leuit rata-rata menampung tiga ton, maka tersedia setidaknya 24 ribu ton gabah cadangan.

“Stok pangan sebesar itu bisa memberi perlindungan jika terjadi serangan hama atau bencana alam,” katanya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal