Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Pengungsi Somalia Temukan Cara Bertani di Tengah Kekeringan Ekstrem

Bagikan
Pengungsi Somalia temukan cara bertani di tengah kekeringan ekstrem. (Foto : Ilustrasi/Aljazeera)
Pengungsi Somalia temukan cara bertani di tengah kekeringan ekstrem. (Foto : Ilustrasi/Aljazeera)

Pangannews.id - Di tengah keterbatasan lahan dan air, sekelompok perempuan di Somalia menemukan cara baru untuk bertahan hidup. Mereka menanam bayam, tomat, selada, hingga mentimun tanpa menggunakan tanah, melainkan melalui media air bernutrisi dan serat kelapa.

Metode sederhana ini membantu keluarga pengungsi memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Di sebuah rumah kaca di Baidoa, deretan tanaman hijau tampak tumbuh subur meski wilayah sekitarnya gersang.

Bagi para perempuan yang bekerja di sana, bertani bukan hanya soal menyediakan makanan, tetapi juga tentang mendapatkan kembali kendali atas hidup mereka.

Amina Moallim Hassan, salah satu pengungsi yang terlibat dalam proyek ini, mengaku hidupnya berubah sejak mengenal teknik budidaya tersebut.

“Dulu kami membeli semua sayur dari pasar. Sekarang kami menanamnya sendiri, terutama bayam. Banyak hal jadi lebih baik dan kami bisa mendapatkan keuntungan,” ujarnya.

Para perempuan dilatih menanam dengan sistem tanpa tanah. Bibit diletakkan pada campuran serat kelapa yang dibasahi air bernutrisi. Teknik ini memungkinkan tanaman tumbuh lebih cepat dan stabil, bahkan pada lingkungan yang kekurangan air.

Selada, mentimun, dan paprika menjadi beberapa jenis yang dipilih karena tahan terhadap kondisi panas.

Proyek pertanian hidroponik ini dijalankan oleh SOS Children’s Villages Somalia sejak 2022. Program tersebut dirancang untuk membantu warga yang hidup di daerah rawan kekeringan, terutama perempuan dan pengungsi yang rentan kehilangan akses pangan.

Di Baidoa, musim kering berkepanjangan dan cuaca ekstrem kerap membuat pertanian konvensional hampir mustahil dilakukan.

Dengan teknologi sederhana tersebut, rumah kaca kini menjadi sumber sayuran segar bagi komunitas lokal. Selain mengurangi ketergantungan pada pasar, program ini juga membuka peluang pendapatan baru bagi para perempuan yang selama ini memiliki keterbatasan akses ekonomi.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal