Pangannews.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menerapkan teknologi baru untuk meningkatkan produksi dan mutu garam nasional. Melalui sistem Tunnel-Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), proses pembuatan garam kini dapat dilakukan sepanjang tahun, tanpa bergantung penuh pada kondisi cuaca. Teknologi tersebut tengah diuji dan dikembangkan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara, mengatakan penggunaan SWRO dalam sektor pergaraman menjadi yang pertama di Indonesia dan diharapkan mampu menjawab berbagai kendala produksi yang selama ini dihadapi petambak.
Selain meningkatkan efisiensi, Koswara menyebut sistem ini juga menghasilkan air bersih sebagai produk sampingan. Air tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air tawar masyarakat pesisir yang selama ini masih terbatas.
“Dengan kualitas bahan baku yang lebih baik, proses kristalisasi menjadi lebih singkat dan hasilnya lebih konsisten,” ujar Koswara, diilansir dari laman resmi KKP.
Dalam sistem ini, air laut terlebih dahulu disaring menggunakan teknologi reverse osmosis. Proses tersebut memisahkan air tawar, senyawa garam, dan zat lain yang tidak dibutuhkan. Hasilnya adalah larutan dengan kandungan natrium klorida murni dan tingkat kepekatan mencapai 15 derajat Baume, yang siap masuk ke tahap pembentukan kristal.
Dengan bahan baku tersebut, waktu produksi garam dapat dipangkas menjadi sekitar tiga hingga lima hari dalam kondisi normal. Hal ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
Penerapan sistem tunnel yang terintegrasi dengan SWRO juga dirancang untuk melindungi proses produksi dari hujan dan perubahan cuaca ekstrem. Selama ini, faktor cuaca menjadi kendala utama dalam usaha pergaraman rakyat.
Ketua Koperasi Produsen Sae Nalendra Darma Raga, Kabupaten Indramayu, Carmadi, mengaku teknologi tersebut sangat membantu petambak, terutama saat musim hujan. Menurut dia, produksi tetap dapat berjalan meski intensitas hujan tinggi.
“Dengan sistem tunnel dan geomembran, garam yang dihasilkan lebih putih dan bersih. Dalam waktu sekitar lima hari, kami sudah bisa panen,” kata Carmadi.
Ia berharap dukungan teknologi ini dapat mendorong petambak untuk lebih konsisten berproduksi sepanjang tahun, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.