Pakar UMM Ungkap Ciri Hewan Kurban Layak dan Aman Dikonsumsi

Pers Pangannews

15 jam yang lalu

news
Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., (Foto : UMM)

Pangannews.id - Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas jual beli hewan kurban mulai meningkat di berbagai daerah. Di tengah tingginya permintaan, masyarakat diingatkan agar tidak hanya melihat ukuran tubuh hewan saat membeli sapi atau kambing kurban.

Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., mengatakan kondisi kesehatan hewan harus menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan kelayakan kurban dan keamanan daging untuk dikonsumsi.

Menurut Prof. Lili, pemeriksaan sederhana bisa dilakukan langsung oleh calon pembeli sebelum memutuskan membeli hewan kurban.

“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” kata Prof. Lili.

Ia menjelaskan, hewan yang mengalami pincang atau cacat fisik tidak memenuhi syarat sebagai hewan kurban.

Selain postur tubuh, masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi mata dan kulit hewan. Mata yang keruh atau terdapat selaput putih dapat menjadi tanda gangguan kesehatan.

Sementara pada bagian kulit, hewan sebaiknya terbebas dari kudis maupun scabies.

“Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” ujarnya.

Lili juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan antraks.

Gejala PMK pada hewan biasanya ditandai keluarnya lendir berlebihan dari mulut, luka pada gusi dan lidah, hingga luka di sela kuku kaki.

Sedangkan hewan yang terjangkit antraks umumnya mengalami kejang disertai pendarahan dari hidung atau anus.

“Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya.

Menurutnya, hewan sehat biasanya memiliki nafsu makan baik dan terlihat aktif. Hewan berbadan gemuk juga lebih disarankan karena menghasilkan daging lebih banyak.

Meski demikian, usia hewan tetap harus memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba.

Selain soal kesehatan, Prof. Lili menyoroti pentingnya masa istirahat bagi hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebelum disembelih.

Ia menjelaskan, hewan yang kelelahan rentan mengalami sindrom DFD (Dark, Firm, Dry) yang membuat kualitas daging menurun karena teksturnya menjadi gelap, keras, dan kering.

Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan lebih teliti saat memilih hewan kurban sehingga ibadah yang dijalankan tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga menghasilkan daging yang aman dan berkualitas.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...