Barter Telur dengan Pakan, Cara Peternak Ayam Bojonegoro Tekan Biaya Produksi

Pers Pangannews

5 jam yang lalu

news
Skema barter oleh kelompok peternak yang dibentuk para penerima manfaat Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI). (Foto : Pemkab Bojonegoro)

Pangannews.id - Tingginya biaya pakan masih menjadi tantangan utama bagi peternak ayam petelur skala kecil. Di Desa Sengon, Kecamatan Ngambon, Kabupaten Bojonegoro, para peternak mencoba mencari jalan keluar dengan membangun sistem usaha bersama yang memungkinkan telur ditukar dengan pakan.

Skema barter tersebut dijalankan oleh kelompok peternak yang dibentuk para penerima manfaat Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI). Selain membantu pemasaran hasil produksi, kelompok juga berfungsi sebagai penyedia pakan dan pendamping teknis bagi anggotanya.

Dilansir dari laman resmi Pemkab Bojonegoro, Ketua Kelompok GAYATRI Desa Sengon Ahmad Fathoni mengatakan mekanisme barter dibuat untuk meringankan beban peternak yang kerap menghadapi keterbatasan modal usaha.

"Untuk sistemnya mau barter atau kita beli telurnya tergantung, yang penting memudahkan para peternak. Telurnya yang dibarter dengan pakan juga masih ada sisa uangnya," kata Ahmad.

Model tersebut memungkinkan peternak tetap memperoleh pasokan pakan tanpa harus mengeluarkan biaya tunai secara penuh. Telur yang dihasilkan kemudian dikumpulkan dan dipasarkan kembali oleh kelompok.

Tak hanya mengurusi urusan jual beli, kelompok yang beranggotakan sekitar 40 peternak itu juga menyediakan layanan pendampingan kesehatan ternak. Peternak secara rutin mendapatkan penyuluhan dan konsultasi terkait penyakit maupun penanganan ayam saat terjadi perubahan cuaca yang berpotensi menurunkan produktivitas.

Menurut Ahmad, kesehatan ternak menjadi faktor penting karena sedikit gangguan pada ayam petelur dapat berdampak langsung terhadap produksi telur dan pendapatan peternak.

"Selain membeli dan menjualkan telur, kita juga menyediakan vitamin, juga melakukan penyuluhan dengan dua dokter. Dalam pertemuan itu para peternak dapat menyampaikan permasalahannya terkait kesehatan ternaknya," ujarnya.

Kelompok tersebut juga berkembang menjadi pusat distribusi pakan bagi peternak ayam petelur di Kecamatan Ngambon. Setiap pekan, mereka mampu menyalurkan sekitar 4 ton pakan atau setara 80 karung kepada anggota maupun peternak di wilayah sekitar.

Di sisi pemasaran, kelompok mencoba memperluas jangkauan pasar dengan memanfaatkan berbagai saluran penjualan. Selain memasok kebutuhan pelanggan lokal, telur hasil produksi anggota juga dipasarkan secara daring melalui media sosial dan layanan pesan antar.

Ahmad menjelaskan telur yang dibeli dari anggota seharga Rp25.000 per kilogram kemudian dipasarkan kembali dengan harga Rp27.000 per kilogram. Selisih tersebut digunakan untuk menopang operasional kelompok sekaligus menjaga keberlanjutan layanan kepada anggota.

Model usaha yang berkembang di Desa Sengon menunjukkan bahwa persoalan peternak rakyat tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga akses pakan, pendampingan teknis, hingga pemasaran. Dengan mengelola seluruh rantai usaha secara kolektif, peternak memiliki posisi tawar yang lebih kuat dan tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak atau pemasok pakan.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...