Harga Ayam di Bandung Tembus Rp50 Ribu per Kg

Pers Pangannews

14 jam yang lalu

news
Harga daging ayam di Kota Bandung mengalami peningkatan. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Harga ayam potong dan timun mengalami kenaikan di sejumlah pasar tradisional Kota Bandung selama masa libur. Meski demikian, pasokan kebutuhan pokok dipastikan masih mencukupi dan belum ditemukan adanya kelangkaan komoditas pangan.

Berdasarkan pemantauan di Pasar Cijerah dan Pasar Cihapit, kenaikan harga paling terasa terjadi pada ayam potong yang kini dijual sekitar Rp40.000 hingga mendekati Rp50.000 per kilogram.

Sementara itu, harga timun hampir dua kali lipat dibandingkan harga normal yang sebelumnya berada di kisaran Rp10.000 per kilogram.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan lonjakan harga ayam lebih dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan selama musim liburan, bukan karena terganggunya pasokan dari daerah penghasil.

"Suplai ayam sebenarnya masih aman. Yang meningkat adalah permintaan karena aktivitas wisata selama liburan, sehingga harga ikut terdorong naik," ujarnya.

Di luar dua komoditas tersebut, harga kebutuhan pokok lainnya relatif stabil. Kondisi ini didukung oleh pasokan sayuran yang masih melimpah karena sebagian daerah sentra produksi tengah memasuki masa panen.

Farhan juga optimistis ketersediaan beras hingga akhir tahun tetap terjaga. Menurutnya, musim panen yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September akan membantu menjaga stok dan menekan potensi gejolak harga.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga, Pemerintah Kota Bandung bersama Bulog menyiapkan penguatan distribusi beras dan minyak goreng melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Pasokan dari Bulog diharapkan mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan kedua komoditas tersebut di Kota Bandung.

Selain itu, pengawasan distribusi pangan juga diperketat melalui Satgas Pangan guna mencegah praktik penimbunan yang berpotensi memicu lonjakan harga.

Farhan menambahkan, hingga saat ini distribusi bahan pangan dari berbagai daerah masih berjalan lancar. Hal itu penting mengingat Kota Bandung merupakan daerah konsumen yang sangat bergantung pada pasokan dari luar wilayah.

"Bandung bukan daerah produsen. Kebutuhan pangan kami dipasok dari sekitar 16 provinsi, dan sejauh ini distribusinya masih berjalan normal," pungkasnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...