18 jam yang lalu
Pangannews.id - Kematian massal ikan yang terjadi di Danau Batur, Bali, pada akhir Juli 2026 diduga dipicu oleh fenomena alami berupa pencampuran massa air danau (lake mixing). Dugaan tersebut disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berdasarkan hasil pemantauan di lokasi.
Peneliti menemukan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) di permukaan danau turun hingga mendekati 0 mg/L saat peristiwa itu terjadi. Pada waktu yang sama juga tercium bau menyengat hidrogen sulfida (H₂S), yang mengindikasikan air dari lapisan dasar danau naik ke permukaan.
Dilansir dari laman BRIN, Peneliti Biogeokimia Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Sulung Nomosatryo, mengatakan lapisan dasar danau secara alami memiliki kandungan oksigen yang sangat rendah akibat proses dekomposisi bahan organik yang berlangsung dalam waktu lama. Di lapisan tersebut juga terjadi akumulasi senyawa sulfida.
Menurutnya, ketika terjadi pencampuran massa air, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen akan naik ke permukaan dan membawa sulfida ke habitat ikan. Dalam kondisi tertentu, sulfida dapat berubah menjadi hidrogen sulfida (H₂S), senyawa yang bersifat sangat beracun bagi ikan.
"Keberadaan bau H₂S menunjukkan bahwa air dari lapisan bawah kemungkinan telah terangkat ke permukaan. Namun, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa sulfida merupakan penyebab tunggal kematian ikan. Diperlukan analisis laboratorium dan pengkajian terhadap seluruh parameter kualitas air agar penyebab kejadian ini dapat dipahami secara utuh," kata Sulung.
Sementara itu, Peneliti Hidrodinamika Danau BRIN, Arianto Budi Santoso, menjelaskan karakter Danau Batur sebagai danau vulkanik yang berada di dekat Gunung Batur membuat kandungan senyawa sulfur di dalamnya relatif lebih tinggi dibandingkan banyak danau lainnya.
Ia menerangkan, pada kondisi tanpa oksigen atau anoksik, senyawa sulfat di dasar danau berubah menjadi sulfida. Ketika pencampuran air terjadi, sulfida tersebut naik ke lapisan atas yang mengandung oksigen dan kembali teroksidasi menjadi sulfat. Proses tersebut turut menghabiskan cadangan oksigen terlarut sehingga kondisi perairan menjadi semakin buruk bagi ikan.
"Berdasarkan hasil penelitian, periode mixing di Danau Batur biasanya terjadi pada bulan Juni hingga Agustus, akhir Desember, dan Februari," ujar Arianto.
Penelitian BRIN yang telah dipublikasikan dalam jurnal Inland Waters menunjukkan Danau Batur merupakan danau polimiktik, yakni danau yang mengalami pencampuran massa air beberapa kali dalam setahun.
Riset tersebut juga memperlihatkan bahwa proses oksidasi sulfida, respirasi organisme, dan dekomposisi bahan organik dapat mempercepat penurunan kadar oksigen selama proses pencampuran berlangsung.
Meski merupakan fenomena alami, dampak lake mixing tidak selalu sama pada setiap kejadian. Faktor cuaca, kondisi fisik danau, kualitas air, hingga kondisi ekosistem turut menentukan besarnya dampak terhadap kehidupan biota perairan.
Karena itu, BRIN menilai pemantauan kualitas air secara berkala perlu diperkuat. Pengukuran suhu, kadar oksigen terlarut, parameter meteorologi, serta kualitas air pada berbagai kedalaman diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan sistem peringatan dini sekaligus mendukung kebijakan pengelolaan Danau Batur yang lebih adaptif dan berbasis bukti ilmiah.
Editor : Adi Permana
Senin, 03 Agustus 2026 13:09 WIB
Rabu, 29 Juli 2026 14:54 WIB
Rabu, 29 Juli 2026 10:00 WIB
Rabu, 22 Juli 2026 19:31 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...