Anggaran Kementan Rp28,02 Triliun pada 2027, Mentan Amran Bidik Bawang Putih Jadi Fokus Berikutnya

Pers Pangannews

14 jam yang lalu

news
Mentan Andi Amran. (Foto : Kementan)

Pangannews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan penguatan sejumlah komoditas utama pada 2027 untuk mempertahankan capaian swasembada sekaligus menuntaskan komoditas yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Dari pagu anggaran Rp28,02 triliun yang disetujui Komisi IV DPR RI, sekitar Rp16,6 triliun dirancang untuk penguatan padi, komoditas larangan dan pembatasan (lartas), hortikultura, serta hilirisasi perkebunan dan peternakan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan strategi pembangunan pertanian dilakukan secara bertahap agar anggaran dan program dapat difokuskan pada target yang jelas.

Setelah delapan komoditas strategis berhasil mencapai swasembada, pemerintah akan menjaga capaian tersebut sembari mengarahkan perhatian pada komoditas yang masih membutuhkan penguatan, termasuk bawang putih.

“Ini tidak bisa sekaligus. Jadi kita selesaikan satu-satu, nggak bisa sekaligus. Karena kalau kita anggaran ini dibagi rata itu biasanya tidak ada yang jadi,” kata Mentan Amran usai Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (1/9).

Delapan komoditas strategis yang telah mencapai swasembada tersebut meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.

Secara agregat, produksi delapan komoditas tersebut diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton, sementara kebutuhan nasional sebesar 68,22 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 4,69 juta ton.

Capaian tersebut menjadi pijakan bagi Kementan untuk mempertahankan swasembada yang telah diraih sekaligus memperluas kemandirian pada komoditas lainnya.

Karena itu, anggaran 2027 dirancang dengan prioritas yang lebih terarah, baik untuk menjaga produksi komoditas yang sudah surplus maupun mempercepat peningkatan produksi komoditas yang masih membutuhkan pasokan dari luar negeri.

Strategi tersebut tercermin dalam rancangan kegiatan utama Kementan 2027. Porsi terbesar diarahkan untuk komoditas padi sebesar Rp9,6 triliun, dengan sasaran peningkatan produktivitas hingga 10–12 ton per hektare.

Dukungan ini menjadi bagian dari upaya mempertahankan swasembada beras sekaligus meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani.

Selain padi, Kementan merancang anggaran Rp1,9 triliun untuk komoditas lartas, meliputi jagung, kedelai, dan ubi kayu.

Penguatan ketiga komoditas tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar.

Pada subsektor hortikultura, sekitar Rp2 triliun dirancang untuk pengembangan bawang putih, cabai, bawang merah, serta program Pekarangan Pangan Bergizi. Khusus bawang putih, pemerintah menargetkan produksi mencapai 40,63 ribu ton pada 2027.

Mentan Amran mengatakan hortikultura menjadi salah satu sektor yang akan mendapatkan perhatian lebih besar tahun depan setelah pemerintah sebelumnya memberikan fokus kuat pada pangan, perkebunan, dan peternakan.

“Memang fokusnya kemarin adalah perkebunan, peternakan, pangan, ini positif semua. Ini tidak bisa sekaligus, tahun ini kita anggarkan dua kali lipat lebih. Itu untuk hortikultura tahun 2027,” ujarnya.

Menurut Mentan Amran, pendekatan bertahap tersebut mulai menunjukkan hasil. Sektor pangan, peternakan, dan perkebunan menunjukkan perkembangan positif sehingga pemerintah dapat mulai mengarahkan fokus lebih besar pada komoditas yang masih menjadi pekerjaan rumah.

“Sekarang pangan alhamdulillah sudah swasembada beras, kemudian ayam bahkan surplus, bahkan harganya turun kemarin tetapi sekarang sudah di atas harga pembelian pemerintah. Kemudian perkebunan tadi naik melonjak tajam. Nah tinggal satu kan PR kita. Ini insya Allah satu-satu,” ungkapnya.

Penguatan produksi hortikultura juga akan dibarengi pembenahan sisi hilir. Menurut Mentan Amran, peningkatan produksi harus diantisipasi dengan infrastruktur pascapanen agar kelebihan pasokan pada musim panen tidak berujung pada jatuhnya harga di tingkat petani.

“Ini butuh solusi permanen, cold storage sayur-sayuran, cabai, bawang merah, apa segala macam,” katanya.

Selain pangan dan hortikultura, rancangan kegiatan 2027 memberikan perhatian besar pada hilirisasi perkebunan.

Kementan mengalokasikan sekitar Rp2,3 triliun untuk pengembangan kelapa, kakao, kopi, pala, lada, dan tebu. Hilirisasi diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbesar nilai tambah yang dinikmati pekebun.

Sementara itu, Rp798 miliar dirancang untuk hilirisasi peternakan, khususnya pengembangan daging sapi dan kerbau, telur, serta susu.

Penguatan sektor hilir diharapkan membangun rantai produksi yang lebih terintegrasi dari tingkat peternak hingga pengolahan dan pasar.

Kementan juga mengusulkan tambahan anggaran Rp5 triliun pada 2027. Tambahan tersebut akan difokuskan untuk pengembangan komoditas strategis perkebunan, meliputi kelapa, lada, pala, tebu, kopi, kakao, dan jambu mete, serta dukungan traktor untuk pengembangan komoditas tebu.

Usulan tambahan tersebut menjadi bagian dari percepatan hilirisasi dan peningkatan produksi perkebunan.

Pemerintah mendorong agar pengembangan komoditas tidak berhenti pada peningkatan luas dan produksi, tetapi berlanjut hingga penciptaan nilai tambah dan peningkatan pendapatan pekebun.

Dalam Rapat Kerja tersebut, Komisi IV DPR RI menyetujui pagu anggaran Kementan Tahun Anggaran 2027 sebesar Rp28,02 triliun serta usulan tambahan anggaran Rp5 triliun untuk selanjutnya disampaikan kepada Badan Anggaran DPR RI untuk disinkronisasi.

Dukungan anggaran tersebut diarahkan untuk memastikan capaian swasembada tidak bersifat sementara.

Dengan produksi delapan komoditas strategis yang telah swasembada, Kementan akan menjaga momentum produksi sekaligus memperluas fokus menuju komoditas yang belum sepenuhnya mandiri.

Dengan pendekatan tersebut, agenda pertanian 2027 diarahkan tidak sekadar memperbesar produksi, tetapi membangun swasembada yang berkelanjutan sekaligus menjaga nilai ekonomi hasil pertanian bagi petani dan pekebun.(*/ADV)


Kolom Komentar

You must login to comment...