3 jam yang lalu
Pangannews.id – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat pengawalan tanaman durian di Sulawesi Tengah dengan melibatkan tim ahli lintas lembaga untuk mengkaji gejala bangkalan yang ditemukan di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.
Kajian dilakukan untuk memastikan faktor yang berkaitan dengan munculnya gejala tersebut sekaligus merumuskan rekomendasi penanganan yang tepat bagi petani, sehingga produktivitas dan produksi durian di Sulawesi Tengah tetap terjaga.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman setelah menerima aspirasi petani durian Sulawesi Tengah saat kunjungan kerja di Palu beberapa waktu lalu.
Sebelumnya perwakilan petani durian meminta agar pemerintah menurunkan tim ahli untuk menangani penyakit bangkalan yang menyebabkan buah durian jatuh sebelum matang sehingga berdampak pada penurunan produksi.
Saat itu, Mentan Amran langsung meminta jajarannya menurunkan tenaga ahli untuk menangani persoalan tersebut.
“Saya turunkan tim, saya sudah perintahkan. Hubungi itu, cari, turunkan (tim ahli). Negara yang biayai. Cari ahli bidang itu,” kata Mentan Amran usai memberikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Universitas Tadulako periode ke-138 di Palu, Kamis (20/8/2026) lalu.
Menindaklanjuti arahan tersebut, tim gabungan turun langsung ke lapangan. Tim ini terdiri dari Kementan, BRIN, pemerintah daerah dan dinas pertanian (Sulawesi Tengah, Parigi Moutong, Poso), BKHIT (Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan), BRIDA, UPT Proteksi, akademisi dari Universitas Tadulako dan Universitas Alkhairaat, petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta AKDI.
Pengamatan dilakukan pada tanaman durian di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong yang menunjukkan gejala bangkalan.
Direktur Perlindungan Hortikultura Kementan Leli Nuryati mengatakan pemerintah akan terus mendampingi petani hingga diperoleh langkah penanganan yang tepat.
Menurutnya, kajian lapangan diperlukan untuk melihat kondisi tanaman secara menyeluruh, termasuk aspek nutrisi dan kondisi tanah.
“Kami akan terus mendampingi sampai ditemukan penanganan yang tepat. Fokusnya antara lain pada nutrisi tanaman dan pH tanah, karena kondisi tanah yang masam dapat menghambat penyerapan unsur hara meskipun pupuk sudah diberikan,” ungkap Leli dalam keterangannya pada Rabu (9/9/2026).
Hasil pengamatan awal tim gabungan menunjukkan bahwa gejala bangkalan diduga berkaitan dengan gangguan fisiologis tanaman pada fase berbuah, antara lain terkait ketersediaan dan keseimbangan unsur hara makro dan mikro.
Gejala yang ditemukan meliputi buah gugur sebelum mencapai kematangan optimal (pada tingkat ketuaan sekitar 60–80%), daging buah mengkal atau tidak matang sempurna, aroma berkurang, rasa hambar, dan warna buah cenderung pucat.
Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap produktivitas dan hasil panen durian serta berdampak pada pendapatan petani.
Kondisi tanah juga menjadi salah satu aspek yang diperiksa. Tingkat keasaman tanah atau pH dapat memengaruhi kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara.
Karena itu, penanganan tidak hanya diarahkan pada tanaman, tetapi juga pada kondisi media tumbuh dan pengelolaan lahan.
Untuk memperkuat hasil pengamatan, tim mengambil sejumlah sampel dari tanaman yang sehat maupun yang menunjukkan gejala. Sampel meliputi tanah, daun, dan buah yang selanjutnya diuji di laboratorium.
Peneliti BRIN Farihul Ihsan mengatakan pemeriksaan terhadap berbagai jenis sampel diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi tanaman.
“Pengujian berbagai sampel dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi tanaman dan lingkungannya. Rekomendasi nantinya harus berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan data hasil pengujian di laboratorium,” ucapnya.
Hasil pengamatan lapangan dan pengujian laboratorium nantinya menjadi dasar untuk menentukan rekomendasi penanganan, termasuk terkait pemupukan, kesuburan tanah, serta pengelolaan lahan.
Dengan demikian, petani tidak hanya memperoleh respons terhadap gejala yang muncul, tetapi juga mendapatkan langkah budidaya yang disusun berdasarkan kondisi tanaman dan lingkungannya.
Ketua kelompok tani I Wayan Budarsana mengapresiasi langkah pemerintah yang melibatkan tim ahli untuk melihat kondisi tanaman secara langsung.
Ia berharap hasil kajian dapat memberikan rekomendasi yang aplikatif bagi petani, terutama dalam hal pemupukan, kesuburan tanah, dan pengelolaan lahan.
Kementan akan melanjutkan koordinasi dengan pemerintah daerah, peneliti, perguruan tinggi, petugas POPT, PPL, serta pemangku kepentingan lainnya. Hasil kajian akan menjadi pijakan dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan produktivitas dan kualitas buah durian di Sulawesi Tengah sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani.
Sebagai informasi, durian merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki potensi ekonomi besar bagi Sulawesi Tengah.
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, luas kebun durian di provinsi tersebut mencapai sekitar 36 ribu hektare, dengan sekitar 12 ribu hektare di antaranya telah berproduksi.
Data BPS juga mencatat produksi durian Sulawesi Tengah pada 2025 mencapai 95.140 ton, dengan sentra produksi terbesar berada di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.
Potensi durian tersebut bahkan telah berkembang hingga pasar ekspor. Karena itu, penguatan penanganan di tingkat sentra produksi menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas sekaligus keberlanjutan produksi durian Sulawesi Tengah.(*/ADV)
5 jam yang lalu
Rabu, 09 September 2026 06:30 WIB
Selasa, 08 September 2026 12:13 WIB
Senin, 07 September 2026 17:54 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...