16 jam yang lalu
Pangannews.id - Biji pepaya dan carica yang selama ini lebih banyak menjadi sisa pengolahan buah ternyata tengah diuji untuk membantu mengendalikan cacing hati pada sapi.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 bernama FASCIORICA meneliti ekstrak kedua bahan tersebut untuk melihat kemampuannya menghambat perkembangan telur Fasciola sp., parasit penyebab fasciolosis pada ternak.
Hasil penelitian menunjukkan, kombinasi ekstrak biji pepaya dan carica mampu meningkatkan mortalitas telur hingga sekitar 50–65 persen setelah 48 jam perlakuan. Analisis penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarkelompok perlakuan dengan nilai p<0,05.
Ketua Tim PKM-RE 2026 FASCIORICA, Nabila Hanifa Putri, mengatakan penelitian tersebut berangkat dari keinginan untuk mencari potensi bahan alam yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dalam pengendalian fasciolosis.
“Kami ingin melihat apakah bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa pengolahan buah dapat memiliki nilai tambah dalam pengendalian parasit,” ujar Nabila, dilansir dari laman resmi UGM.
Fasciolosis merupakan penyakit akibat infeksi cacing hati yang dapat mengganggu kesehatan sapi dan menurunkan produktivitas ternak. Infeksi Fasciola sp. juga dapat menyebabkan organ hati sapi harus diafkir saat pemeriksaan pascapemotongan.
Masalahnya tidak hanya terjadi pada ternak. Fasciola sp. merupakan parasit zoonotik yang dapat menginfeksi manusia melalui konsumsi pangan atau paparan lingkungan yang terkontaminasi metaserkaria, bentuk infektif dari parasit tersebut.
Tim melihat kebutuhan pengendalian penyakit tersebut masih cukup besar. Penelitian sebelumnya di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat prevalensi fasciolosis pada sapi mencapai 47,2 persen.
Selama ini pengendalian parasit pada ternak masih banyak mengandalkan obat antiparasit sintetis. Menurut Nabila, penggunaan obat tersebut menghadapi sejumlah tantangan.
“Penggunaan obat tersebut menghadapi sejumlah tantangan, termasuk potensi resistensi dan perbedaan efektivitas terhadap stadium parasit,” katanya.
Dalam penelitian FASCIORICA, biji pepaya diperoleh dari sisa pengolahan buah di Sleman. Sementara biji carica berasal dari Wonosobo yang dikenal sebagai salah satu sentra pengolahan buah carica.
Kedua bahan tersebut kemudian diolah menjadi ekstrak. Tim menguji ekstrak biji pepaya, ekstrak biji carica, serta kombinasi keduanya dengan beberapa konsentrasi terhadap telur Fasciola sp.
Telur yang telah mendapat perlakuan kemudian diinkubasi dan diamati menggunakan mikroskop. Perkembangannya dibandingkan untuk melihat kemampuan masing-masing ekstrak dalam menghambat perkembangan dan menurunkan viabilitas telur.
Hasil pengamatan menemukan perubahan pada morfologi telur. Bentuk telur berubah, dinding telur mengalami kerusakan atau terbuka, dan isi telur dapat keluar.
Pada pengamatan 24 jam, ekstrak carica menunjukkan efek ovisidal lebih cepat dibandingkan ekstrak pepaya. Sementara kombinasi kedua ekstrak menunjukkan potensi aktivitas ovisidal terhadap telur Fasciola gigantica.
Penelitian ini dilakukan oleh lima mahasiswa, yakni Nabila Hanifa Putri dari Fakultas Kedokteran Hewan, Annisa Azka Nadine Wiseman dari Fakultas Biologi, Fitriana Tsabita Utami dari Fakultas Kimia, Aulia Tamara Jannati dari Program Studi Gizi, serta Putri Lala Kirana dari Pengembangan Produk Agroindustri. Mereka berada di bawah bimbingan Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Dr. drh. Vika Ichsania Ninditya.
“Penelitian ini tidak hanya mengeksplorasi alternatif pengendalian parasit, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil samping pengolahan buah menjadi bahan bernilai tambah,” pungkas Nabila.
Editor : Adi Permana
Rabu, 16 September 2026 19:46 WIB
Sabtu, 05 September 2026 14:50 WIB
Sabtu, 29 Agustus 2026 15:19 WIB
Sabtu, 29 Agustus 2026 14:28 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...