6 jam yang lalu
Pangannews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi budidaya dan penguatan pendampingan kepada petani.
Upaya tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Ngobrol Asyik (Ngobras) Penyuluhan Volume 18 Tahun 2026 yang digelar secara daring, Selasa (22/9/2026).
Mengusung tema PM-AAS, “Penyuluh Mengawal, Petani Berdaya, Produksi Meningkat”, kegiatan tersebut membahas penerapan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten.
Forum ini membahas penerapan teknologi budidaya padi, capaian produksi, tantangan di lapangan, serta peran penyuluh dalam mengawal adopsi teknologi oleh petani.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan PM-AAS merupakan strategi transformasi pertanian modern melalui intensifikasi dan peningkatan produktivitas lahan.
Strategi tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan populasi tanaman, teknologi budidaya, mekanisasi, varietas unggul, serta pendampingan penyuluh.
"Penerapan PM-AAS diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan produksi padi, tetapi juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani serta memperkuat keberlanjutan swasembada pangan berkelanjutan," ucap Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan penyuluh diposisikan sebagai agen perubahan dalam mengawal transformasi pertanian konvensional menuju pertanian modern.
Menurutnya, penyuluh tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan teknologi PM-AAS benar-benar diterapkan oleh petani.
Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, berharap penerapan PM-AAS dapat terus dikembangkan di berbagai daerah.
"Kami berharap penerapan PM-AAS tidak berhenti pada satu lokasi atau satu kabupaten saja, tetapi dapat terus dikembangkan di berbagai daerah," kata Eko.
Ia juga mendorong para penyuluh untuk saling berbagi pengalaman dan pembelajaran. Praktik yang telah berhasil dapat menjadi referensi bagi wilayah lain dengan tetap memperhatikan karakteristik dan kondisi setempat.
Kepala Balai Besar BRMP Provinsi Banten, Andry Polos, mengatakan capaian penerapan PM-AAS di Banten menjadi pengalaman yang penting untuk dipelajari bersama.
Capaian tersebut antara lain terlihat dari hasil ubinan yang mencapai 12,88 ton per hektare.
"Hasil tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran dalam mendorong penerapan teknologi budidaya padi di wilayah lain, dengan tetap memperhatikan kondisi dan karakteristik masing-masing daerah," ujar Andry.
Dalam sesi pemaparan, Penyuluh Ahli Muda BRMP, Eka Amrullah, menjelaskan penerapan teknologi pertanian tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan alat dan inovasi.
"Teknologi perlu diperkenalkan melalui demonstrasi dan pendampingan agar petani dapat melihat langsung proses penerapannya, mengamati pertumbuhan tanaman, serta menilai hasil berdasarkan pengalaman di lapangan. Proses tersebut dapat menumbuhkan kepercayaan petani dan mendorong adopsi teknologi secara bertahap," ucap Eka.
Eka juga menekankan pentingnya pengawalan secara konsisten sejak tahap tanam hingga panen. Petani perlu dilibatkan dalam evaluasi dan pengambilan keputusan, sementara data hasil dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran.
Sementara itu, penyuluh Kota Serang, Siti Nurani, memaparkan pelaksanaan PM-AAS di Kecamatan Kasemen yang mencakup lahan seluas 100 hektare dan melibatkan tujuh kelompok tani di tiga kelurahan.
Penanaman dilaksanakan pada Mei hingga Juni dengan sebaran lahan di Kelurahan Kasunyatan seluas 50 hektare, Margaluyu 38 hektare, dan Kilasah 12 hektare.
Pelaksanaan kegiatan tersebut mendapat pendampingan dari BRMP Provinsi Banten serta didukung koordinasi penyuluh dan pihak terkait.
Siti menjelaskan penerapan PM-AAS di Kasemen disesuaikan dengan kondisi lahan dan kemampuan petani. Pengolahan lahan memanfaatkan alat dan mesin pertanian, antara lain rotavator dan traktor roda dua.
Sistem tanam benih langsung atau tabela dengan bantuan drum seeder diharapkan dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan biaya. Langkah tersebut juga menjadi respons terhadap kendala ketersediaan buruh tanam pada hamparan yang luas.
Penggunaan pupuk organik turut menjadi bagian dari penerapan teknologi tersebut. Selain itu, alat drum seeder disesuaikan bersama petani agar lebih sesuai dengan karakteristik lahan di Kecamatan Kasemen.
Hasil penerapan PM-AAS di lokasi demplot BRMP Banten di Kebun Percobaan Singamerta, Kabupaten Serang, mencapai sekitar 8,8 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
Demplot tersebut menggunakan varietas Inpari 42 dan Cakrabuana. Capaian produksi itu menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran dalam penerapan teknologi budidaya padi.
Peningkatan produktivitas juga perlu diikuti dengan analisis usaha tani untuk melihat tambahan biaya produksi, penerimaan, serta keuntungan yang diperoleh petani.
Dengan demikian, keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya dilihat dari hasil panen, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan petani.
Melalui Ngobras Volume 18, pengalaman penerapan PM-AAS di Kasemen diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan teknologi budidaya padi di berbagai daerah.
Penerapannya tetap perlu menyesuaikan kondisi setiap wilayah, termasuk karakteristik lahan, cuaca, ketersediaan air, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta faktor teknis dan sosial ekonomi setempat.
Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman bagi penyuluh pertanian dalam memperkuat pendampingan kepada petani. Pengawalan yang intensif diharapkan dapat mendukung penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi lapangan serta peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani padi. (Adv/*)
You must login to comment...
Be the first comment...