Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Macan Tutul Jawa Tertangkap Kamera Jebak di Cagar Alam Nusakambangan

Bagikan
Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam kamera jebak di kawasan Cagar Alam Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, dalam pemantauan singkat yang dilakukan BKSDA Provinsi Jawa Tengah pada 12-15 Oktober 2026. (Foto: ANTARA/HO-RKSDA Cilacap)
Seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam kamera jebak di kawasan Cagar Alam Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap, dalam pemantauan singkat yang dilakukan BKSDA Provinsi Jawa Tengah pada 12-15 Oktober 2026. (Foto: ANTARA/HO-RKSDA Cilacap)

Pangannews.id - Keberadaan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) kembali terpantau di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Seekor satwa dilindungi itu terekam kamera jebak saat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah melakukan pemantauan di Cagar Alam Nusakambangan Barat pada 12-15 Oktober.

Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA) Wilayah Cilacap, Wahyono Restanto, mengatakan rekaman tersebut belum dapat digunakan untuk memastikan jumlah Macan Tutul Jawa yang hidup di seluruh Pulau Nusakambangan. Pemantauan yang dilakukan dalam waktu singkat itu hanya merekam satu individu.

"Pemantauan kemarin hanya sebentar. Yang tertangkap kamera trap satu individu, kemungkinan terekam pada Selasa (13/10) malam hingga Rabu (14/10) dini hari," kata Wahyono, dikutip dari Antara.

Penelitian terakhir memperkirakan populasi Macan Tutul Jawa di Pulau Nusakambangan mencapai sekitar 20 individu. Dari jumlah tersebut, empat individu beberapa kali terpantau di Cagar Alam Nusakambangan Barat dan sekitar enam individu berada di Cagar Alam Nusakambangan Timur.

Sementara itu, individu lainnya diperkirakan menghuni kawasan hutan di luar cagar alam. Wahyono menegaskan, angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan pengamatan di lokasi tertentu dan belum mencerminkan pendataan menyeluruh di seluruh pulau.

Satwa Dilindungi Lainnya Ikut Terpantau

Pemantauan menggunakan kamera jebak juga merekam keberadaan satwa lain di kawasan konservasi Nusakambangan. Beberapa di antaranya adalah kancil, kijang, landak, dan biawak.

Selain itu, binturong (Arctictis binturong), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), serta Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) juga pernah terpantau dalam kegiatan pemantauan di kawasan tersebut.

Keberadaan beragam satwa itu menjadi salah satu alasan pentingnya menjaga habitat alami di Nusakambangan.

“Keberadaan berbagai jenis satwa tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian habitat di kawasan konservasi Nusakambangan,” ujar Wahyono.

Di sisi lain, aktivitas proyek pembangunan di sejumlah lokasi di Pulau Nusakambangan dinilai berpotensi memengaruhi kondisi satwa liar dan habitatnya.

Namun, BKSDA Jawa Tengah belum melakukan kajian terperinci untuk mengetahui sejauh mana aktivitas tersebut berdampak terhadap keberadaan dan pergerakan satwa.

"Kami masih berfokus pada pemantauan di kawasan cagar alam, sehingga belum bisa menjelaskan secara detail pengaruh aktivitas proyek pembangunan terhadap satwa liar," katanya.

Wahyono mengimbau masyarakat, petugas lembaga pemasyarakatan, dan pekerja yang beraktivitas di Nusakambangan agar tidak mengganggu, menangkap, maupun memburu satwa liar.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal