Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Hujan Mulai Turun, Jateng Berpeluang Kejar Target Produksi Padi

Bagikan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan produksi padi mencapai 10,5 juta ton hingga akhir 2026. (Foto: Ilustrasi/Pixabay)
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan produksi padi mencapai 10,5 juta ton hingga akhir 2026. (Foto: Ilustrasi/Pixabay)

Pangannews.id - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menargetkan produksi padi mencapai 10,5 juta ton hingga akhir 2026. Curah hujan yang mulai meningkat di sejumlah daerah diharapkan membantu petani melanjutkan penanaman setelah menghadapi musim kemarau.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, produksi padi pada Januari-September 2026 telah mencapai 8,5 juta ton. Dengan sisa waktu hingga akhir tahun, pemerintah optimistis target produksi masih dapat dikejar.

"Alhamdulillah kemarin sudah mulai hujan, semoga sampai Desember nanti kita mampu mencapai target," kata Ahmad Luthfi di Semarang, Sabtu (31/10/2026).

Jawa Tengah menjadi salah satu daerah penyangga pangan nasional. Pada 2025, produksi padi di provinsi dengan jumlah penduduk hampir 38 juta jiwa itu mencapai sekitar 11,5 juta ton.

Untuk menjaga produksi tahun ini, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah guna mengantisipasi dampak kemarau terhadap lahan pertanian. Upaya tersebut mencakup pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyiapan waduk dan embung, serta penguatan jaringan irigasi.

Intervensi juga dilakukan terhadap lahan sawah berdasarkan kondisi pengairannya. Tercatat, sebanyak 242.826 hektare sawah tadah hujan mendapat intervensi melalui irigasi perpompaan, sedangkan 530.748 hektare sawah irigasi didukung jaringan irigasi tersier.

Selain memastikan ketersediaan air, Pemprov Jateng menyiapkan perlindungan bagi petani yang menghadapi risiko gagal panen. Asuransi pertanian disediakan untuk melindungi 10.000 hektare lahan dari risiko puso atau gagal panen.

"Asuransi gagal panen untuk mem-'backup', jadi jangan sampai nanti kena puso, kena banjir, dan gagal panen. Itu nanti akan membantu masyarakat kita, khususnya para petani agar tetap mempunyai modal dasar," ujar Ahmad Luthfi.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan pola tanam di setiap daerah berbeda, menyesuaikan kondisi wilayah dan ketersediaan air.

Di kawasan Pantai Utara Jawa, misalnya, terdapat daerah yang hanya menjalani dua kali musim tanam padi dengan diselingi komoditas pertanian lain. Sementara itu, sejumlah daerah mampu menjalani tiga kali musim tanam dan panen.

"Tapi semua petani itu sebenarnya tergantung pada air, kalau ada air mereka pasti akan menanam padi," kata Defransisco.

Untuk meningkatkan produktivitas, pemerintah provinsi juga mengembangkan program Pilar Jateng. Program ini menyediakan pemetaan kondisi infrastruktur lahan, jaringan irigasi, serta alat dan mesin pertanian.

Melalui pemetaan tersebut, pemerintah dapat memantau kondisi infrastruktur pertanian secara terkini dan menentukan kebutuhan intervensi berdasarkan kondisi di lapangan.

"Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani," ujarnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal