oleh

Siapkah Tenaga Kerja Sektor Pertanian Menghadapi New Normal di Masa Pandemi Covid-19?

Oleh: Yusuf Munandar, Peneliti pada Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

pangannews.id. Jakarta- BPS Indonesia dalam Berita Resmi Statistik Nomor 39/05/Th.XXIII tanggal 05 Mei 2020 menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan triwulan 4 tahun 2019 (q-to-q) adalah minus 2,41. Pertumbuhan minus tersebut bisa terjadi karena hampir seluruh sektor ekonomi mengalami kontraksi, kecuali sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, sektor Informasi dan Komunikasi, sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, dan sektor Real Estate. Sektor Pertanian bahkan meraih pertumbuhan (q-to-q) yang tertinggi yaitu sebesar 9,46%. Dengan demikian memang terbukti bahwa sektor Pertanian di Indonesia bisa menjadi potential winner di tengah wabah Covid-19.

Saat ini setelah sampai ke tahap new normal, apakah tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia masih produktif dan siap bertahan bahkan menjadi pemenang dalam masa wabah Covid-19 ini?

Dalam new normal, komunikasi verbal akan dikurangi dengan tujuan untuk memperkecil risiko terpapar virus Covid-19. Sebagai gantinya, komunikasi akan lebih banyak dilakukan secara tertulis, sehingga menuntut kemampuan membaca dan menulis dari masyarakat terutama para pekerja di sektor Pertanian Indonesia.

Apabila dilihat dari kemampuan membaca dan menulis huruf latin/alphabet, maka tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia siap menghadapi new normal dan bertahan dalam new normal karena sebagian besar dari mereka yaitu 87,40% bisa membaca dan menulis huruf latin/alphabet. Jumlah ini adalah 16.210.455 orang dari total 18.525.450 tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia, berdasarkan data Susenas tahun 2019.

Walaupun demikian masih ada sedikit pekerjaan rumah yaitu sedikit terjadi bias gender dimana dari seluruh tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia yang mampu membaca dan menulis huruf latin/alphabet tersebut sebagian besar yaitu 64,66% berjenis kelamin laki-laki. Akan tetapi hal ini cukup wajar karena mengikuti komposisi jenis kelamin tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia yang sebagian besar yaitu 62,37% (11.553.928 orang) adalah berjenis kelamin laki-laki.

Dalam new normal, beberapa kegiatan sudah cukup banyak yang bersifat internet-based termasuk kegiatan di sektor Pertanian Indonesia. Ketika petani Indonesia atau tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia hendak menanam padi atau palawija dan memerlukan tambahan modal, para petani bisa memanfaatkan aplikasi sebagai contoh iGrow yang akan menjembatani petani yang memerlukan modal dengan para investor. Untuk memantau dan memberi asupan yang tepat pada tumbuhan, petani bisa menggunakan aplikasi Habibi Garden. Petani bisa menggunakan aplikasi Pantau Harga untuk memantau harga harga di pasar sehingga petani bisa menjual hasil sayurannya ketika harga sudah menguntungkan baik bagi petani maupun konsumen. Untuk memasarkan hasil produksi pertaniannya tanpa agen maka petani bisa menggunakan aplikasi TaniHub. Para petani di pedesaan dapat dengan mudah terhubung dengan konsumen di perkotaan, bertanya dan berbagi informasi mengenai dunia pertanian dengan para ahli dan praktisi pertanian, mengumpulkan data perkembangan pertanian secara berkesinambungan, hingga mengelola pengiriman barang dan pergudangan hasil pertanian, dengan menggunakan aplikasi Lisa.id yang diluncurkan oleh perusahaan start up 8 villages (https://8villages.com/id/tentang).

Untuk bisa melakukan itu semua para petani atau tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia harus terbiasa menggunakan internet. Sayangnya hanya 13,02% (2.411.648 orang dari 18.525.450 tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia) yang dalam 3 bulan terakhir pernah menggunakan internet (data Susenas tahun 2019). Sebenarnya para tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia sebagian besar sudah sering menggunakan telepon seluler (handphone) tetapi telepon seluler tersebut masih sebatas digunakan untuk sarana berkomunikasi saja, dan telepon seluler tersebut, untuk beberapa tenaga kerja di sektor Pertanian, diperoleh dari meminjam. Jumlah tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia yang menggunakan telepon seluler atau dalam 3 bulan terakhir menggunakan telepon seluler adalah sebanyak 58,16% atau 10.774.142 tenaga kerja dari 18.525.450 tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia.

Sementara itu, jumlah tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia yang memiliki telepon seluler hanya sebesar 42,63% (7.897.634 orang). Jumlah tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia yang menggunakan komputer PC/desktop hanya 0,30%, menggunakan laptop/notebook hanya 0,66%, dan menggunakan komputer tablet hanya 0,16%.

Dengan demikian, di tengah sedikitnya kepemilikan atau akses terhadap peralatan yang bisa digunakan untuk mengakses internet, maka agar para tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia bisa memanfaatkan aplikasi di internet untuk kegiatan pertanian mereka, pemerintah bisa menyediakan akses internet melalui komputer di tiap kantor desa atau kantor kelurahan dimana para pekerja di sektor Pertanian tersebut berada. Apabila peralatan untuk mengakses internet sudah tersedia bagi para tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia, maka mereka bisa menggunakan berbagai aplikasi untuk meningkatkan nilai tambah produk-produk pertanian sehingga mereka bisa bertahan dan berhasil dalam menghadapi new normal dalam masa pandemi Covid-19.

Upaya menyediakan akses internet kepada tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia memerlukan upaya yang lebih besar lagi karena sebagian besar tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia tinggal di perdesaan yaitu sebanyak 80,93% atau 14.992.691 tenaga kerja dari 18.525.450 tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia. Di sisi lain secara umum diketahui bahwa jaringan telekomunikasi di perdesaan masih sangat terbatas dibandingkan dengan di perkotaan. Oleh karena itu upaya menyediakan akses internet kepada tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia harus dibarengi dengan upaya membangun jaringan telekomunikasi di perdesaan Indonesia.

Salah satu ciri dari new normal adalah adanya kesadaran yang lebih tinggi mengenai perilaku hidup sehat, antara lain kesadaran berupa mencuci tangan setelah melakukan suatu kegiatan. Kesadaran para tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia mengenai perilaku hidup sehat cukup tinggi termasuk kesadaran untuk mencuci tangan setelah melakukan suatu kegiatan. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia memiliki tempat untuk mencuci tangan. Jumlahnya adalah 13.751.924 orang atau 74,23% dari seluruh tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia yang sebanyak 18.525.450 orang. Tempat cuci tangan tersebut pun menyediakan air dan sabun khusus cuci tangan, cairan antiseptik, sabun mandi, detergen, atau pun sabun cuci piring yang bisa digunakan untuk mencuci tangan.

Berdasarkan penjelasan di atas maka bisa dinyatakan bahwa para tenaga kerja di sektor Pertanian Indonesia cukup siap untuk berhasil dalam menghadapi era new normal dalam masa pandemi Covid-19.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed