PanganNews.id Jakarta - Oleh : Entang Sastraatmadja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata jejaring adalah jaring-jaring. Arti lainnya dari jejaring adalah jaringan (komunikasi). Contoh: dengan jejaring luas dan pemikiran global, mereka bisa dengan mudah menerobos pasar ekspor. Kata jejaring menjadi penting, manakala dalam kehidupan bermasyarakat terjadi beragam pandangan yang berbeda terhadap suatu masalah yang perlu diselesaikan. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pula ketika melakukan penelaahan terhadap modernisasi perbenihan padi.
Sebagaimana diketahui, kehadiran benih/bibit pertanian bagi suatu negara yang mendambakan terwujud nya Ketahanan Pangan yang kokoh, pada dasar nya merupakan kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Benih, khusus nya benih berlabel atau bersertifikat merupakan syarat mutlak terjadi nya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian menuju ketersediaan hasil pertanian yang diinginkan.
Itulah salah satu pertimbangan nya mengapa pengelolaan perbenihan perlu dikemas sedemikian rupa, sehingga mampu melahirksn sebuah Sistem Perbenihan Nasional yang utuh, holistik dan komprehensif. Pengelolaan benih, bukan cuma urusan Pemerintah, namun mereka yang menjadi stakeholders perbenihan lain nya, mutlak untuk terlibat secara pro aktif di dalam nya. Hal ini penting dipahami, karena yang dimaksud dengan Modernisasi Perbenihan sendiri, pada dasar nya merupakan perubahan mind-set kita bersama.
Pengembangan perbenihan, khusus nya benih tanaman pangan dan hortikultura, kini sudah saat nya dimodernisasi. Revitalisasi terhadap Sistem Pengelolaan perbenihan yang ada, betul-betul sangat perlu untuk digarap. Kita perlu menyuntikan "darah baru" bagi pengembangan benih-benih yang lebih berkualitas. Perbenihan butuh suntikan inovasi dan teknologi. Hasil riset tentang perlu nya benih padi yang tahan air sebagai dampak iklim ekstrim yang kian menjadi-jadi, sepatut nya menjadi prioritas Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Begitu pun dengan benih padi yang tahan kekeringan dikarenakan ada nya musim kemarau berkepanjangan, penting pula disiapkan. Dalam menghadapi anomali iklim, tidak bisa tidak benih/bibit padi yang tahan air dan tahan kekeringan, menjadi prioritas pencarian benih yang lebih berkualitas. Modernisasi Perbenihan yang kini sedang digodok, salah satu spirit nya adalah sampai sejauh mana kita memiliki Grand Desain Perbenihan Nasional dalam kurun waktu 25 tahun ke depan, lengkap dengan Peta Jalan nya.
Modernisasi Perbenihan dalam arti luas, setidak nya memerlukan terbangun nya 3 jejaring yang saling melengkapi antara satu dengan yang lain nya. Ke tiga jejaring tersebut adalah "networking thinking", "networking institusion" dan "networking finance". Ke tiga nya merupakan kesatuan yang tidak boleh dipilah-pilah, apalagi diboboti dengan kepentingan tertentu. Ke tiga nya pula akan saling terkait dan mempengaruhi. Ke tiga jejaring ini perlu dikemas secara lebih berkualitas.
Kita mulai dengan yang pertama. "Networking Thinking" atau jejaring berpikir, tentu akan berhubungan dengan mind-set atau pola pikir seseorang. Kaitan nya dengan modernisasi perbenihan tanaman pangan dan hortikultura, yang harus dibangun adalah ada nya pandangan yang sama terhadap marwah dari modernisasi di bidang perbenihan. Hal ini penting disiapkan, sehingga apa yang dipikirkan seorang Presiden, akan tersambung dengan yang dipikirkan oleh para Menteri nya. Bahkan akan tersambung pula dengan para Gubernur, Bupati dan Walikota seluruh Nusantara.
Andaikan para penentu kebijakan soal perbenihan sudah memiliki mind-set yang sama, hal ini pun harus diikuti pula oleh kalangan akademisi, dunia usaha, komunitas dan media massa. Jejaring berpikir yang terbangun tentu akan memudahkan penyusunan desain perencanaan dari upaya memodernkan perbenihan itu sendiri. Keutuhan cara pandang menjadi modal dasar dalam pengembangan selanjut nya. Catatan kritis yang penting kita bahas lebih dalam adalah skenario apa yang sebaik nya dirumuskan seusai kita memiliki jejaring berpikir yang sama ?
Yang kedua terkait dengan "networking institusion" atau jejaring kelembagaan dalam upaya mempercepat terwujud nya modernisasi perbenihan. Kelembagaan yang ada dan selama ini terekam menopang pengembangan perbenihan padi khusus nya, terlihat masih asyik sendiri dan berjalan masing-masing sesuai dengan kepentingan nya. Kondisi semacam ini, tentu tidak boleh dibiarkan terus berlangsung.
Kebersamaan lembaga-lembaga ini penting "diikat" lewat jejaring yang kokoh dengan tetap mengedepankan cita-cita dan kepentingan bersama. Penguatan jejaring kelembagaan akan memudahkan para stakeholders perbenihan untuk menetapkan target dan prioritas pengembangan nya. Termasuk dalam menentukan langkah guna meningkatkan peran kelembagaan dalam mendukung modernisasi perbenihan itu sendiri.
Ketiga adalah "networking finance". Jejaring keuangan dimaksudkan agar modernisasi perbenihan ditopang oleh sistem keuangan yang kuat dan terukur. Modernisasi Perbenihan sebaik nya jangah terus-terusan mengandalkan kepada pembiayaan Pemerintah lewat APBN atau APBD, namun sudah saat nya mengikut-sertakan kalangan dunia usaha untuk terlibat dengan aktif, mulai dari sisi perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi nya.
Rajutan pembiayaan antara anggaran negara dan anggaran dunia usaha, menjadi salah satu titik tekan dalam membangun jejaring keuangan guna mempercepat terwujud nya modernisasi perbenihan ini. Memadukan anggaran Pemerintah dengan dunia swasta/investasi, bukanlah hal yang cukup mudah untuk dikemas dalam sebuah jejaring keuangan. Kata kunci nya tetap akan ditentukan oleh komitmen bersana yang wajib hukum nya untuk diterapkan secara konsisten. Semangat "tidak boleh ada dusta diantara kita", menjadi modal utama dalam landasan berpijak nya.
3 jejaring yang dibutuhkan dalam rangkaian percepatan modernisasi perbenihan, terutama benih tanaman pangan dan hortikultura, memang sudah waktu nya memperoleh perhatian dan penanganan yang serius dari kita bersama. Pemerintah sendiri diharapkan tetap yang berada di garda depan dengan membawa "pedang samurai" yang digenggam nya. Negara tentu harus hadir. Negara tidak bisa lagi bersikap masa bodoh. Ini penting disampaikan, karena tanpa kehadiran Pemerintah, kita tidak mungkin bakalan mampu melaksanakan modernisasi perbenihan ini secara utuh dan holistik.
Sebenar nya masih banyak hal yang dapat kita bahas terkait dengan upaya mempercepat terwujud nya modernisasi perbenihan di negeri ini. Mulai dari yang bertalian dengan perlu nya disusun regulasi dan kebijakan yang mendukung, penting nya sistem produksi dan pemasaran yang sesuai dengan tuntutan pasar, pengembangan industri perbenihan hingga kepada kesiapan para pengguna dalam menyambut kehadiran sistem perbenihan yang diimpikan itu sendiri.
Akan tetapi, penting dipahami modernisasi perbenihan adalah kebijakan yang wajib hukum nya untuk dikemas secara multi-sektor, karena dalam tataran operasional nya akan melibatkan banyak pihak. Untuk itu, agar terajut suatu komitmen yang disemangati oleh sinergitas dan kolaborasi, maka mau tidak mau, kita butuh tiga jejaring sebagaimana yang telah digambarkan diatas. Dengan menerapkan spirit terbangun nya jejaring-jejaring tersebut, kita optimis, modernisasi perbenihan akan menghasilkan Sistem Perbenihan Nasional yang lebih berkualutas dan akuntabel. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.